
"Mas nggak mau cinta sama kamu"
Kata-kata itu sukses membuat tubuh gue diam terpaku. Nafas kita masih saling menderu. Dahi kita masih menempel satu sama lain. Rasa manis bibir tebalnya belum hilang namun tiba-tiba dia melepaskan pautan lidah kita.
"Mas nggak mau cinta sama kamu" ucapnya sekali lagi sukses membuat gue ditarik paksa ke alam nyata.
Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Baru beberapa saat yang lalu dia menerbangkan hati gue, namun detik ini tiba-tiba dia jatuhkan begitu saja hingga luluh lantak.
"Kalau saja Mas bisa memilih, Mas nggak mau cinta sama kamu. Menempatkan kamu di posisi seperti ini."
Gue bergeming, mencerna baik-baik ungkapan perasaannya.
Dia berhenti sesaat, "Tapi Mas bodoh, pengecut, egois, mementingkan diri sendiri dan malah mendekati kamu. Sejak awal jika Mas memutuskan pergi dari hidup kamu, kamu nggak akan seperti sekarang ini. Kamu nggak akan terjebak dengan orang yang sudah menoreh luka paling dalam di hidup kamu. Kamu pasti bisa lebih bahagia."
Gue nggak tau harus merespon apa, gue hanya diam dan membiarkan dia menumpahkan seluruh isi hatinya, "Mas nggak mau cinta sama kamu. Itu yang berulang kali Mas ucapkan dulu saat Mas hanya bisa memandang kamu dari jauh. Namun sekeras apapun Mas mencoba memendam perasaan ini, justru semakin kuat rasa ini tumbuh. Mas nggak mau cinta sama kamu, nggak mau.. tapi semakin Mas coba menjauh semakin sulit rasanya melepas kamu. Mas tau semua akan berakhir dengan kamu yang menderita seperti ini. Tanpa memikirkan perasaan kamu, Mas malah sibuk mencari cara agar kamu tetap ada di sisi Mas. Menjebak kamu dalam pernikahan yang sebelumnya nggak kamu inginkan ini, membuat kamu mengandung anak Mas agar kamu selamanya terikat sama Mas, semua itu adalah keegoisan Mas. Maaf... maafin Mas... karena Mas, kamu harus melalui ini semua."
Bisa gue rasakan kedua tangannya menangkup pipi gue dan mengelusnya lembut, "Semua nggak akan sama. Cara kamu memandang Mas nggak akan seperti dulu lagi. Nggak peduli apapun yang Mas lakukan, kita tidak mungkin bisa sama seperti dulu lagi. Karena Mas adalah kenangan yang nggak seharusnya muncul lagi kepermukaan"
Tangannya beralih merapikan rambut gue dan menyelipkannya di balik telinga gue, "Kamu harus bahagia sayang. Kamu harus bahagia. Ada atau tidak Mas di sisi kamu, kamu harus tetap bahagia."
Itu adalah kalimat terakhir yang Kai ucapkan sebelum dia mengecup lembut dahi gue. Gue masih berdiri di sana, mematung, tak beranjak sedikitpun, bahkan ketika deru mesin mobil Kai berlahan menjauh. Pipi gue basah, entah oleh embun dini hari atau karena mata gue yang semakin memanas. Dengan satu tarikan, gue lepas ikatan syal yang menutup indera pengelihatan gue. Samar-samar gue lihat mobil itu berjalan menjauh, semakin menjauh, dan akhirnya... hilang.