In Between

In Between
Bonus: Mama Vs Kakak 2



Carnellia adalah obat paling mujarab di muka bumi ini. Ketika merasa sangat lelah pulang dari kantor, dia akan menyambutku dengan tawa renyahnya. Dan seketika itu pula, semua masalah yang membebani pikiranku lenyap.


"Papa pulaaangggg" makhluk mungil itu berlari dan mendekap kakiku.


"Eh, salamnya mana?"


"Camuikum.." ucapnya sambil mengambil tanganku dan menciumnya.


"Waalaikumsalam. Anak pinter" aku usap-usap rambut si kecil.


"Papa capek? Kak bantu bawa tas Papa" kedua tangan kecilnya meraih tas yang ukurannya jauh lebih besar darinya, dan dengan sekuat tenaga dia seret ke arah sofa di ruang tengah.


"Kakak, tadi lagi ngapain hayo, kok ditinggal gitu aja begitu denger pintu kebuka?" Mamanya keluar dari arah dapur  membawa secangkir teh.


Sebuah cengiran manis terukir di bibir makhluk kecil ini.


"Ini Kak buat tadi Ma?"


"Iya ini yang Kakak bikin tadi" putri kecilku langsung memegang cangkir di tangan Mamanya dan menyerahkannya kepadaku.


"Papa capek kelja, Kak bikin teh wat Papa" tanpa disadari seutas senyum terbentuk begitu saja melihat tingkah polah si kecil.


"Makasih ya sayang" aku mengacak-acak rambutnya dan mengecup pipinya sekilas, "Aaaahhh... segeerrr" raut wajah sumringahku setelah mencicipi teh buatan gadis kecil ini membuatnya tertawa renyah.


Aku merasa menjadi ayah yang paling beruntung dan bahagia di dunia dengan hadirnya Carnellia. Dia membuatku merasa menjadi seseorang yang sangat dicintai.


"Kenapa kak?" kegiatanku menelan sashimi terhenti.


"Papaaa noooo"


"Kenapa?" Mamanya ikut bingung.


"Papa atit... mam itu" dengan jari kecilnya dia menunjuk daging mentah disumpitku.


"Papa sakit?" tanya Mamanya memastikan.


Carnel mengangguk. Ternyata dia masih ingat ketika aku sakit perut karena memakan daging yang belum matang seperti ini.


"Ma.. bat Papa mana Ma?" Carnell menggeledah tas Mamanya, mencari obat maag yang biasa disimpan Krystal di dalam tasnya.


"Papa suruh minum obat?"Krystal bertanya sekali lagi sambil membantu gadis kecilnya menemukan pil pahit itu.


"Iya. Pa num bat. Bial ga atit" Carnell menyodorkan bungkusan berwarna biru laut itu setelah menemukannya. Tidak ingin membuat malaikat kecil ini kecewa, aku berpura-pura menelan obat itu. Dia tersenyum senang dan itu membuat aku merasa lebih senang. Terimakasih Tuhan, Engkau sudah menganugerahkan anak yang memiliki begitu banyak cinta dan kasih sayang.


Menjadi seorang ayah untuk anak perempuan adalah tanggungjawab yang sangat besar. Karena ayah adalah laki-laki pertama yang hadir di kehidupan putrinya. Ayah memegang peranan besar tentang bagaimana nantinya seorang wanita akan menilai laki-laki. Kebanyakan perempuan akan memilih laki-laki yang punya kemiripan seperti ayahnya. Alasannya sederhana, karena perempuan akan selalu merasa insecure, dan hanya sosok seorang ayahlah yang mampu membuat mereka merasa aman. Kenapa? Karena satu-satunya laki-laki di dunia ini yang tidak akan menyakiti putrinya hanyalah seorang ayah.


Hal itu menjadi PR tersendiri untukku, bagaimana bersikap seperti lelaki sempurna. Menunjukkan bagaimana seorang lelaki sejati akan selalu menyayangi dan mengayomi keluarganya, bagaimana seorang lelaki sejati tidak akan pernah menyakiti perempuan, bagaimana lelaki sejati akan selalu menjadi tempat untuk bersandar. Dengan menjadi sosok yang sempurna, aku berharap Carnell akan menemukan lelaki yang sempurna juga untuk menggantikanku menjaganya kelak.


Ah..memikirkanya sudah membuat mataku terasa berat. Membayangkan kelak putri kecilku akan tumbuh dewasa, dan akan bersanding dengan lelaki lain. Malaikat kecil yang selalu aku jaga tawanya, malaikat kecil yang selalu aku jauhkan dari tangis dan air mata, malaikat kecil yang dengan segenap jiwa raga selalu aku perjuangkan kebahagiannya, dapatkah lelaki lain mejaga kebahagian itu untuknya? Bagaimana jika dia disakiti? Bagaimana jika dia menangis? Dapatkah lelaki lain menjadi tempat bersandar yang kokoh untuknya? Andai saja Papa bisa menemanimu seumur hidup Papa nak, pasti Papa akan perjuangkan apapun untuk membuat tawamu tetap terukir di bibir mungilmu. Tapi pasti, suatu saat nanti, entah itu Papa dulu, atau kamu dulu, salah satu dari kita pasti akan pergi. Dan jika Papa yang pergi dulu, Papa hanya berharap, laki-laki manapun yang menggantikan tugas Papa, dia bisa mencintaimu sebesar Papa mencintaimu.