In Between

In Between
Ada Apa dengan Kai 1



Suami gue jadi aneh.


 


Beneran aneh.


 


 


 


 


 


"Dek, masakin Mas ayam kecap dong"


 


"Ayam kecap lagi? Kan kemarin udah." tanya gue keheranan. Iya, gue tau suami gue maniak ayam. Tapi udah tiga hari berturut-turut dia minta dimasakin ayam kecap terus. Apa nggak bosen? Tapi nggak apa-apa sih. Gue makin percaya diri dengan kemampuan masak gue, ya walaupun gue masih mengandalkan bumbu instan.


 


"Mas pengen lagi" rajuknya bak anak kecil yang minta mainan. Manjaaaaaah banget. Mana muka pake dipolos-polosin terus bibirnya dimanyun-manyunin. Unchhh... gemes deh.


 


"Iya..iya. Ini aku masakin" jawab gue seraya berjalan ke arah dapur. Mana bisa gue nolak kalau dia lagi merajuk manja gini.


 


"Tapi masaknya pake lingerie kamu yang merah itu ya..hehe" ringisnya tanpa rasa malu sedikitpun.


 


"Hah? Yang bener aja Mas. Ini aku mau masak, bukan mau tidur"


 


"Ya udah kalau nggak mau. Aku mogok makan mulai sekarang." Kai menghentak-hentakkan kakinya kayak anak kecil. Dengan muka cemberut dan bibir yang masih manyun dia berjalan ke arah sofa di depan televisi. Mengganti channel dari tayangan berita ke tayangan kartun dengan pemeran makhluk kotak bertubuh kuning yang hidup di bawah laut sambil memeluk bantal bebek kesayangannya.


 


Ini suami gue kesambet apa sih. Sejak pulang dari Milan kelakuannya jadi aneh gini. Sumpah, kayak anak TK yang tiap hari harus dikasih perhatian dan dimanjain.


 


Gue mendengus, "Iya aku ganti baju sekarang".


 


Sekembalinya dari kamar, gue mendapati Kai sudah senyam-senyum bahagia di meja makan depan dapur. Seneng banget kayaknya keinginannya terwujud. Dan jadilah gue masak pake linggerie merah sexy yang hampir memperlihatkan semua lekuk tubuh gue. Sementara Kai sangat menikmati pemandangan ini dari arah meja makan. Mata elangnya nggak beralih sedetikpun dari tubuh gue. Kadang dia suit-suitin gue karena pantat gue yang nongol waktu gue membungkuk ngambil beberapa bahan di dalam kulkas atau saat payudara gue ngintip waktu gue nunduk buat ngirisin bumbu-bumbu. Kalau nggak inget suami, udah gue damprat ini laki. Bahagia banget ngerjain gue.


 


"Dah selesai ini ayam kecapnya" ucap gue sambil menghidangkan sepiring besar makanan kesukaan Kai itu di hadapannya.


 


"Makasih ya sayang. Sampai keringetan gitu masaknya. Sini Mas lap-in dulu" Kai menarik gue duduk di dekatnya, mengambil tissue di atas meja makan dan mulai menghapus keringat di dahi gue. Lama-lama tangannya turun ke leher gue, lalu ke dada gue.


 


"Mas..!" gue menaikkan volume suara gue sehingga Kai menghentikan aktivitasnya. Sebuah kekehan kecil keluar dari mulutnya membuat gue memutar bola mata kesal. Kenapa jadi jail dan mesum banget sih laki gue. Fix, ini pasti kesambet setan di Milan.


 


"Dek, suapin... aaaaaa" Mulut Kai udah terbuka lebar menanti suapan dari gue. Segera gue ulurkan satu sendok penuh nasi putih dan beberapa suwir ayam kecap. Ketika tangan gue udah di depan mulutnya, Kai malah menolak suapan gue. "Nggak mau yang itu, ayamnya item" katanya.


 


Gue terheran-heran, "Item gimana sih? Ini kan karena kecapnya, enggaklah kalau gosong. Yang kemarin juga kayak gini warnanya"


 


"Pokoknya nggak mau item kayak gitu"


 


 


"Mau bagian dalemmnya aja yang nggak ada kecapnya"


 


"Ya udah aku cariin yang bagian dalem ini" ucap gue nahan kesel.


 


Nggak cuma sampai di situ tingkah ke kanak-kanakan Kai. Setiap mau tidur, gue harus ngelus-elus kepalanya. Mukanya nyungsep di dada gue. Pokoknya kalau nggak kayak gitu dia nggak tidur-tidur. Kalau makan harus gue suapin. Pernah waktu istirahat makan siang tiba-tiba dia pulang ke apartemen, katanya mau makan siang tapi harus disuapin sama gue. Terus minta dibuatin makanan yang aneh-aneh, sup ceker ayam tapi jari-jari kaki ayamnya harus dimutilasi dulu biar bentukya nggak kayak kaki, oseng usus ayam sambel ijo tapi ususnya harus dibiarin utuh, jus mangga muda yang asemnya nauudzubillah, dan ikan bumbu kuning tanpa mata. Untung gue istri yang sabar.


 


"Hooeeeekkkkk"


 


Suara Kai dari dalem kamar mandi membuat gue yang lagi sibuk ngerapiin desain baju di sketchbook gue lari ke sumber suara. Setelah acara fashion show di Milan, memang ada beberapa label yang ingin mengontrak gue menjadi designer mereka. Tapi Kai bilang lebih baik gue jadi designer lepas aja mengingat gimana tertekannya gue dulu dengan tuntutan dunia kerja. Kai nggak mau gue kembali ke masa-masa di mana gue harus mendahulukan karir. Jadi dari pada harus terikat kontrak dengan salah satu label dan mengejar target yang sudah mereka tetapkan, lebih baik gue jadi designer independen. Selain bisa lebih leluasa mengatur waktu, gue juga bisa bekerjasama dengan berbagai label, tidak hanya terikat pada satu kontrak. Lagian, niat gue kan cuma buat menyalurkan hobi, bukan buat cari duit. Kalau nafkah lahir batin mah udah dipenuhin sama suami gue.


 


"Mas muntah-muntah lagi?" tanya gue sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya.


 


"Mual banget perut Mas, dek" rintihnya pelan. Sudah beberapa hari ini setiap pagi Kai pasti muntah-muntah. Tapi nanti bakal kembali membaik kalau udah agak siangan dikit.


 


"Periksa ke dokter aja yuk Mas. Udah beberapa hari lho. Ntar kalau asam lambungnya kumat gimana?" bujuk gue.


 


"Ya udah. Kamu siap-siap dulu sana. Mas mandi dulu"


 


Untung hari ini hari libur, jadi Kai nggak ada alasan nolak gue bawa dia periksa ke dokter. Kemarin-kemarin suami gue nolak mulu kalau diajak periksa, katanya ntar terlambat ngantorlah, nanti siangan dikit juga udah nggak pa pa lah, dan sejuta alasan lainnya.


 


Suami gue keluar dari kamar mandi dengan setelan celana jeans dan kaos maison kitsune yang gue beliin beberapa waktu yang lalu. Tapi dia langsung mengernyit tidak suka melihat baju yang gue pakai.


 


"Loh kok pake baju itu?" Kai mengomentari penampilan gue. Apa coba yang salah sama penampilan gue. Baju gue nggak aneh-aneh, tertutup pula.


 


"Kenapa?" tanya gue menghentikan polesan lipstik di bibir dan menoleh ke arahnya.


 


"Mas nggak suka. Ganti pokoknya. Yang warna pink!"


 


"Pink?" gue mengernyit. Gue dan warna pink itu bagai minyak dan air. Nggak pernah akur. "Enggak..enggak. Warna lain aja asalkan bukan pink. Lagian mana ada aku baju warna pink"


 


"Ada. Kan udah Mas beliin banyak yang warna pink"


 


Gue memutar bola mata teringat kejadian dimana Kai ngeborongin gue blouse, dress, piyama, kaos, kemeja, dan blazer yang semua didominasi warna pink.


 


"Yang ini aja lah Mas. Kenapa harus yang warna pink sih" gue mencoba menawar.


 


"Nggak mau tahu. Pokoknya harus yang warna pink. Kalau nggak ganti, nggak jadi pergi" ancamnya sekali lagi. Posisinya berubah dari berdiri menjadi gelongsoran di lantai. Seperti biasa, bibir manyunnya kembali beraksi. Bener-bener kelakuan bayik ini mah. Dari pada ribut, mending gue buru-buru ganti baju.