
Langkah gue terhenti. Benar saja, di tengah ruang itu ada sesosok mayat yang sudah terbujur kaku dibalut kain berwarna putih.
"U..umi" gue tahu nggak seharusnya gue seperti ini, tapi ada perasaan lega begitu mengetahui bukan suami gue yang meninggal. Gue mengedarkan pandangan ke setiap sudut, mencari keberadaan sumai gue. Gue harus memastikan dengan mata kepala gue sendiri bahwa dia baik-baik saja. Sesampainya di bagian samping rumah, langkah kaki gue terhenti melihat sosok yang sangat familiar itu membungkuk di depan kran air, sedang mengambil air wudhu. Dia disana, suami gue, ayah dari anak yang ada di dalam perut gue. Thanks God.. He is fine.
Trauma gue? Ketakutan gue? Seketika lenyap begitu saja. Rasa takut gue kehilangan dia ternyata lebih besar dari rasa takut apapun. Tak ada lagi sisa-sisa bayangan masa lalu yang menyakitkan. Yang ada hanyalah sebuncah perasaan lega dan syukur. Dia masih ada di sini, di sisi gue.
Baru saja gue mau melangkah ke depan, lengan gue ditahan oleh Sigra.
"Tal. Ada yang mau gue omongin sama lo"
Gue mengernyit, memberikan seutuhnya atensi gue padanya.
"Tal.. soal kecelakaan itu.." dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Nggak cuma lo yang menderita karenanya, Tal. Nggak cuma lo."
Alis gue terangkat, meminta Sigra menjelaskan lebih lanjut, "Kai juga sama menderitanya kayak lo. Karena kecelakaan itu Kai kehilangan kakak perempuannya yang sedang hamil muda. Dia sempat terpuruk, menyalahkan dirinya sendiri karena lalai membawa mobil. Tidak hanya itu, hubungan Kai dengan ayahnya juga merenggang setelahnya. Hingga tak lama kemudian ayah Kai terkena stroke tapi dia tidak bisa merawatnya. Waktu itu dia sedang menjalani kuliah di Aussie. Begitu pulang dari Aussie ayah Kai meninggal, dan sejak saat itu kondisi kesehatan ibunya semakin memburuk. Kai harus bolak-balik Jakarta-Malang untuk menjaga lo juga menjenguk ibunya. Sekarang, ibunya telah pergi. Tinggal lo satu-satunya keluarga yang dia punya, Klee. Sudah banyak yang Kai korbanin buat lo, untuk bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan ke lo. So, just put the past behind. Both of you deserve to be happy. Temuin dia.. hibur dia.. cuma lo yang dia butuhin saat ini, Klee. Cuma lo"
Gue mengangguk pelan, "Makasih Gra".
Selesai mengambil air wudhu, gue ikut men-sholatkan jenazah Umi di belakang Kai. Hingga selesai sholat, Kai masih belum menyadari keberadaan gue. Kemudian dia mengambil Al-Quran yang disediakan tidak jauh dari tempat sholat dan mulai membacanya. Gue ikuti bacaanya, cara dia melafalkan ayat demi ayat begitu mendamaikan hati. Lantunan merdu ini, lantunan yang terkadang sayup-sayup gue dengar ketika tengah malam gue terbangun dan mendapati suami gue sedang khusuk di atas sajadahnya. Namun ada yang berbeda dengan suaranya kali ini. Terkesan lebih berat dan serak.
Gue paham. Dibalik sikapnya yang tegar, dia pasti sangat terpuruk. Iya, gue pernah ada di posisi yang sama dengan dia. Kehilangan orang tua adalah hal yang sangat menyakitkan. Tiba-tiba suaranya terhenti, isak tangis dia tahan sekuat tenaga. Namun percuma, beberapa bulir air mata jatuh membasahi lembar suci mushaf itu. Kepalanya menunduk. Sebisa mungkin dia membungkan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
Gue nggak tahan lagi. Dengan masih mengenakan mukena gue beranjak dan duduk di hadapannya. Gue angkat kepalanya dan gue hapus air mata itu dengan ibu jari gue. Dia terhenyak, menatap gue seolah tak percaya. Gue tersenyum kecil, "Nggak pa pa Mas, it's okay to cry. Ada aku di sini" ucap gue lembut beberapa saat sebelum tangis lelaki di hadapan gue ini meledak. Gue rengkuh tubuhnya ke dalam pelukan gue. Gue tepuk-tepuk bahunya, dan gue usap lembut rambutnya.
"Semuanya akan baik-baik saja Mas. Ada aku di sini. Selamanya, aku akan selalu ada di sisi Mas."
Kai memeluk gue erat, semakin erat, seakan-akan tidak ingin gue hilang dari sisinya.