
"Kita sebenarnya mau kemana sih?"
Entah sudah berapa kali gue tanya, tapi mereka tetap aja diam. Hari ini gue ngerasa ada yang aneh. Pagi tadi tiba-tiba Sigra masuk ke kamar gue sambil bawa koper. Dia ngemasin barang-barang gue seperlunya. Chelsea juga tiba-tiba izin dari rumah sakit dan ikut kita pergi ke Malang. Selama perjalanan mereka cuma diem. Nggak ada yang mau jawab pertanyaan gue.
"Nggak ada yang mau jawab gue?"
Mereka tetap diam.
"Oke fine. Kalau nggak mau jawab gue turun di sini. Pak berhenti pak" perintah gue ke sopir taxi.
"Jangan dengerin pak. Tetep jalan" tolak Sigra.
"Kalau gitu kasih tau gue"
"Nanti juga lo tau sendiri"
Saking keselnya gue menaikkan volume suara gue, "Kasih tau atau gue loncat sekarang"
Tapi ancaman gue sama sekali nggak digubris sama Sigra, "Ck, pintu aja di-lock gimana bisa loncat."
O iya ya. Bego.
Gue beralih ke Chelsea, "Chels, lo juga nggak mau kasih tau gue?
Chelsea bungkam. Matanya melirik ke Sigra meminta bantuin.
"Nggak usah gangguin Chelsea!" bela lelaki itu, "Nanti juga kamu tau sendiri"
Ini sebenarnya kenapa sih. Kenapa perasaan gue jadi nggak enak kayak gini?
Tak berapa lama, taxi yang kita tumpangi berhenti di sebuah rumah. Begitu keluar dari pintu mobil, bisa gue lihat ramai orang keluar masuk rumah yang didominasi warna krem itu dengan pakaian bernada gelap. Mereka tampang murung, malah ada beberapa yang menangis sesenggukan. Gue menoleh ke arah Sigra yang baru saja selesai mengeluarkan koper dari dalam bagasi.
"Gra... kita dimana?"
"Rumah duka" jawabnya singkat tanpa beralih menatap gue.
Deg.
"Rumah duka?"
Sigra mengangguk pelan.
"Si.. siapa yang meninggal?" Tiba-tiba lisan gue terbata.
Sigra terdiam tak bersuara. Perasaan gue makin bercampur aduk.
"Siapa Gra? Jawab gue... siapa?"
Tak ada tanda-tanda Sigra akan menjawab pertanyaan gue.
"Sigra!" bentak gue ke dia. Mata gue memanas. Tiba-tiba gue teringat kata-kata orang yang gue temui semalam. 'Ada atau nggak ada Mas kamu harus tetap bahagia'
"Ini rumah siapa Gra? Bilang sama gue ini rumah siapa?" nada bicara gue meninggi.
"I..ini rumah...." ada keragu-raguan di sorot matanya sebelum akhirnya dia melanjutkan, "Kai"
Deg.
Gue terhunyung ke belakang. Enggak... nggak mungkin. Kai nggak mungkin meninggal. Ini pasti bercanda. Semalem dia ada sama gue. Nggak mungkin dia pergi ninggalin gue dan baby kita. Enggak.
Gue berlari ke dalam. Mencari kebenaran akan semua ini. Samar-samar gue dengar teriakan Sigra yang memanggil nama gue dari belakang. Tak menghiraukan teriakkannya, gue tetap melangkahkan kaki memasuki rumah itu.
Nggak boleh. Pokoknya Kai nggak boleh pergi. Gue nggak mau. Gue nggak peduli lagi sedalam apa duka yang pernah dia buat di kehidupan gue, gue cuma mau Kai kembali ke sisi gue. Kalau gue bisa menebus semua kebahagian gue di dunia ini dengan Kai, akan gue lakukan. Please God... you have taken my Mom and my Dad, please don't take him too, please...