In Between

In Between
Tetangga Sebelah



Pagi gue yang damai tiba-tiba terusik oleh kedatangan makhluk astral jelmaan siluman ulet satu ini. Niat banget sih, gue aja masih selimutan dia udah gedor-gedor pintu apartemen gue. Nyesel gue bukain.


"Nih Kak, Chelsea masakin bubur ayam spesial. Pagi-pagi banget loh Chelsea udah bangun buat masakain Kakak. Kak Kai makan ya. Habis itu obatnya diminum, biar cepet sembuh"


Chelsea menghidangkan satu mangkok bubur ayam yang dicampur dengan potongan lembut daun bayam di hadapan Kai. Satu tangannya menyendok bubur itu dan menyuapkannya ke mulut laki gue.


"Eeeh.. ngak usah pake suap-suapan. Sini gue yang nyuapin" gue rebut tuh sendok dari tangan siluman ulet.


Tuh cewek cuma menelan ludahnya sambil menyindir gue, "Udah mending Chelsea masakin, jadinya kan Kak Kai udah bisa sarapan pagi-pagi gini. Kalau nggak Chelsea masakin tadi gimana Kak Kai minum obatnya"


Oke, ginjal gue tercubit. Meskipun pahit tapi bener juga omongan Chelsea. Bisa-bisanya gitu gue jam segini baru bangun. Mana belum masakin buat Kai lagi. Dia kan baru sakit, harusnya jam segini udah sarapan dan minum obat. Istri macem apa gue tuh.


"Krystal baru pulang kemarin. Jadi masih kecapekan. Dia juga butuh istrirahat. Kakak udah baikan kok Chels, kamu nggak usah repot-repot gini" senyum gue sedikit terangkat karena Kai belain gue. Tapi tetep aja gue merasa bersalah sama Kai.


"Chelsea nggak repot kok Kak. Kan udah biasanya Chelsea kayak gini. Inget nggak Kak waktu kakak di Aussie dulu kakak suka banget makan masakan Chelsea. Katanya masakan Chelsea ngobatin homesick kakak. Bahkan dulu kakak sering minta Chelsea masakin."


Kai sedikit tersenyum, " Iya. Kamu emang pinter masak. Apalagi dulu susah cari makanan Indo di Aussie. Dan cuma kamu orang Indo yang kakak kenal yang pinter masak masakan Indo."


Senyum cerah terlihat jelas di raut wajah itu cewek, bikin gue makin asem aja.


"Tapi kan sekarang di sini ada istri Kakak, biar Krystal aja yang nguruin Kakak" ucap Kai sambil mengacak rambut cewek yang lebih muda dari gue itu. Gue seneng sih Kai  belain gue, tapi kenapa pakai acara ngacak-acak rambut segala sih. Kan gue jadi cemburu.


"Ya kan Kak Krystal sibuk kerja. Coba kemarin kalau nggak ada Chelsea"


Gue pengen marah tapi gue nggak berhak marah. Apa yang Chelsea bilang itu bener.


"O iya, laundry kakak ada di apartemen Chelsea. Tadi Chelsea ambilin sekalian. Aduh, malah lupa kan bawa ke sininya. Bentar ya kak Chelsea ambilin dulu."


Chelsea melesat keluar sementara gue masih termangu-mangu. Gue pelototin Kai meminta penjelasannya.


"Chelsea tinggal di apartemen sebelah. Kamu jangan mikir macem-macem ya, dia emang anaknya gitu. Jangan terlalu di bawa ke hati." hibur suami gue yang melihat perubahan ekspresi di wajah gue.


Nggak lama kemudian siluman ulet satu itu nongol lagi, menenteng tas berisikan baju-baju Kai yang sudah dicuci dan di setrika rapi. Dengan entengnya dia berjalan melewati gue.


"Tapi biasanya juga-"


Mendengar kata "biasanya" keluar dari mulut siluman ulet itu gue langsung pelototin Kai.


"Chelsea" ucap Kai tegas membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil menaruh tas yang berisikan baju-baju Kai di atas meja.


Nggak berhenti di situ. Kedatangan Chelsea siang malam bener-bener meneror ketenangan batin gue. Berbagai alasan dia gunakan untuk menemui Kai, dari mengantar makanan, meminta bantuan memasangkan lampu di apartemennya, sampai pura-pura sakit biar bisa diperhatiin suami gue. Nggak tau sih dia sakit beneran atau cuma pura-pura. Tapi yang namanya feeling cewek itu tajem. Setajem pisau yang lagi gue gunain buat ngupas apel sekarang.


"Eh, jangan dikasih ke kak Kai apelnya..!" teriak Chelsea waktu gue mau suapin suami gue seiris apel.


"Lah kenapa?" tanya gue bingung.


"Loh, kakak ngak tau kalau kak Kai alergi apel?"


Hah? Alergi? Kok gue nggak tau? Kok Chelsea bisa tahu? Sedekat itukah hubungan mereka berdua?


"Ini aja Kak, tadi Chelsea buat smoothie strawberry. Di cobain kak"


Chelsea menyodorkan satu gelas smoothie strawberry ke hadapan Kai. Ya nggak usah dipegangin gitu juga kali minumnya, emang suami gue anak bayi. Suami gue udah pinter mimik sendiri kali, apalagi mimik susu gue.


"Kak Kai ini suka banget loh Kak makan strawberry" jelas Chelsea ke gue sok akrab, "Sampai-sampai dulu kalau udah tiba waktunya panen strawberry, Kak Kai suka ngajak hunting strawberry ke Melbourne. Inget nggak kak?" kini Chelsea balik bertanya ke Kai.


"Oooh, yang waktu kamu dikejar-kejar Doberman itu.." ledek Kai.


"Yee... salah siapa coba. Kakak sih usil, pake acara ngangetin anjing-anjingnya. Kan jadi Chelsea yang diuber-uber."


Kai tertawa mengenang kejadian itu, "Hahaha... ya abis kamu itu panikan, anjingnya kan diiket. Ngapain kamu lari sampai kejebur kolam.. haha"


Dan sore itu gue merasa terasingkan. Mereka berbagi memori masa lalu yang nggak ada gue di dalamnya. Bernostalgia tentang kenangan-kenangan manis yang pernah mereka lewati berdua. Hari-hari di mana Kai belum mengenal gue. Hari-hari di mana gue belum mengenal Kai. Kenangan yang terlihat indah untuk mereka, tapi terasa menyakitkan untuk gue. Saat itu gue menyadari gue hanyalah sebagian kecil dari cerita kehidupan Kai.