
Warna putih langit-langit rumah sakit, itu yang pertama kali gue lihat ketika membuka mata. Hanya ada gue seorang diri di ruangan ini. Di samping tempat tidur gue ada sebuah kursi dengan sebuah jaket kulit milik suami gue tersampir di sandarannya. Sprei di samping gue sedikit kusut, pertanda ada yang menjaga gue selama gue nggak sadar. Satu demi satu ingatan gue kembali, alasan kenapa gue bisa ada di sini.
Sekali lagi memori itu berputar, terus tanpa henti di dalam kepala gue. Memori yang susah payah gue coba hilangkan. Memori yang harusnya tak muncul lagi. Enggak.. gue nggak bisa lama-lama di sini. Dengan sekali tarik gue lepas jarum infus di lengan sebelah kanan gue. Ada sedikit darah mengalir namun tidak gue hiraukan. Setelah beranjak keluar dari selimut, gue berjalan menuju pintu masuk. Lalu lalang orang yang berjalan mondar-mandir membanjiri lorong rumah sakit ini. Dan dari sekian banyak orang, mata gue menangkap sosok yang sangat tidak asing berjalan ke arah kamar gue. Buru-buru gue berbalik, bersembunyi di balik dinding bercat putih di ujung selasar, jangan sampai orang itu menyadari keberadaan gue di sini. Gue belum siap berhadapan dengannya.
Sebentar lagi pasti dia menyadari kepergian gue. Itu berarti gue harus cepet-cepet angkat kaki dari tempat ini. Tanpa tujuan yang jelas, gue buru-buru keluar dari rumah sakit. Gue bukannya benci ataupun marah sama suami gue. Gue juga nggak nyalahin dia atas kecelakaan itu. Toh, semuanya udah terjadi. Yang gue pengen cuma waktu buat sendiri. Waktu buat gue bisa nerima semuanya. Dan sebelum itu, gue nggak pengen ketemu dia, gue nggak pengen ngeliat wajahnya. Karena setiap kali ada dia, gue teringat akan memori yang seharusnya gue lupakan. Memori yang begitu menyakitkan. Memori yang mampu meluluhlantakkan kehidupan gue.
Gue terus berjalan tanpa tujuan. Hanya menurut kemana langkah kaki membawa. Gue bingung harus kemana. Tak ada tempat gue pulang selain Kai. Matahari semakin lama semakin membumbung tinggi, mengganti malam dengan nuansa lembayung sang fajar. Kaki gue udah sakit, tubuh gue lemes, dan perut gue tiba-tiba terasa mual. Dengan kondisi yang seperti ini, nggak mungkin gue berjalan lebih jauh lagi. Gue nggak boleh egois, masih ada bayi di perut gue yang harus gue jaga. Dan tibalah gue di depan pintu bercat cokelat tua ini. Tak lama setelah gue bunyikan bel, pintu itu terbuka.
"Kak Krystal?" ucap wanita itu terkejut mendapati gue berdiri di hadapannya.
***
"Menurut kakak sendiri gimana?" dengan senyum kecil dia balik bertanya.
Sambil memainkan jari-jari, gue berpikir, "Gue tahu nggak seharusnya gue marah sama Kai. Bukan sepenuhnya salah dia juga kecelakaan itu terjadi. Tapi gue belum bisa ketemu dia. Gue takut"
"Apa yang kakak takutkan?"
"Gue juga nggak tau. Tapi badan gue yang bereaksi. Gue keringat dingin, gemeteran. Seolah-olah gue dibawa kembali ke masa-masa itu. Ada darah dimana-mana. Suara ledakan dan semburan api melahap habis orang-orang yang gue sayang di depan mata gue sendiri, gue..gue..." kalimat gue terpotong oleh isak tangis. Gue nggak paham sama diri gue sendiri, di satu sisi gue belum bisa nerima Kai tapi di sisi lain gue membutuhkan dia. In between, berada diantara dua sisi yang saling berbeda. Dia yang udah jadi tempat gue bersandar selama ini. Dia yang udah bawa gue keluar dari keterpurukan. Saat gue udah mulai terbiasa dengan kehadirannya, saat gue udah menaruh segala kepercayan padanya, dan saat gue udah memberikan seluruh jiwa raga gue, tiba-tiba dia menjadi momok yang memporak-porandakan kehidupan gue. Sakit banget rasanya. Mengetahui orang yang paling gue cintai menjadi penyebab hal terburuk yang pernah terjadi di hidup gue.
"It's okey Kak, it's just a phase to pass." Chelsea menepuk-nepuk pelan punggung gue, mencoba menenangkan gue yang sudah tenggelam dalam isak air mata.