In Between

In Between
Kejutan Kecil 1



"Aku udah sampai bandara nih Mas" lapor gue ke sumai lewat panggilan telepon


 


"Tunggu sebentar ya dek. Mas udah kirim orang buat jemput kamu. Coba kamu jalan keluar. Tadi Mas suruh dia bawa papan nama kamu" sayup-sayup gue denger suaranya teredam dentum musik dan decitan microphone. Ini suami gue lagi dimana sih?


 


"Loh. Bukan kamu yang jemput aku Mas?" tanya gue sedikit kecewa.


 


"Aduh... Mas nggak bisa ini. Kamu nggak pa pa kan kalau di jemput orang lain?"


 


"Ya udah nggak pa pa. Eh itu aku udah liat ada yang bawa papan nama aku. Aku samperin dulu ya Mas."


 


Begitu naik mobil meninggalkan bandara, orang suruhan Kai nganterin gue ke Westin Palace Hotel and Resort. Dari balik kaca mobil, bisa gue saksikan hiruk pikuknya hamparan Lombardia di sisi utara pusat ekonomi dan keuangan Italia ini. Sebagai distrik metropolitan, kota ini seperti tidak pernah diam. Dari ujung ke ujung, kota ini didominasi oleh warna krem, dan bangunan-bangunan tua berbudaya, seperti Castello Sforzesco, Palazzo della Ragione, Galleria Vittorio Emanuele, Menara Velasca dan masih banyak lagi. Gue terperangah ketika melewati daerah Piazza Duomo, salah satu pusat belanja tertua di dunia, pusat kota adibusana yang dipenuhi dengan logo-logo Giorgio Armani, Prada, Bugatti, Gianni Versace, Fiera Milano, dan merek-merek terkenal lain yang nggak bisa gue hitung pake jari. Aduh, gue mesti ajak Kai ke sini ntar. Saatnya menguras habis tabungannya, he he he.


 


Setibanya di lobby hotel, seorang bellboy dengan setelan jas putih dan vest maroon menyambut gue dengan senyumnya yang sangat ramah. Dia menyerahkan satu buket besar mawar merah yang katanya dari suami gue.


 


Iiiihhh... bisa sweet gini sih suami gue. Jadi pengen cipok deh bibirnya yang tebel itu.


 


Begitu sampai di depan pintu kamar 2414, bellboy yang nganterin dan bawain koper gue memberi hormat sebentar sebelum undur diri. Tanpa menyita lebih banyak waktu, gue langsung membuka pintu berwarna cokelat tua itu. Hamparan kelopak mawar dan cahaya kecil lilin-lilin yang berjajar rapi menyambut indera pengelihatan gue. Membuat gue terkesiap dan ternganga.


 


Dengan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum gue berjalan menyusuri lorong itu menuju main room.


 


 


Ditengah tempat tidur ada sebuah kotak berwarna putih yang dihiasai pita-pita dengan warna peach. Begitu gue buka, sebuah gaun panjang berwarna merah menjuntai indah di depan kelopak mata gue. Ada beberapa belahan di bagian lengan dan pahanya menambah kesan feminin sekaligus seksi. Selera gue banget ini mah. Nggak terlalu vulgar dan glamor namun tetep classy dan simple. Muah muah yang banyak deh buat suami aku. Selain gaun, gue juga menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan suami gue di dalam kotak itu.


 


 


 


 


Sayang,


Dandan yang cantik ya. Nanti jam 7 ada yang nganter kamu ketemu Mas


Love you ❤


-Kai-


PS: jangan lupa lilinnya yang di lorong tadi dimatiin dulu ya, biar nggak kebakaran ^-^


 


 


 


 


Apa-apaan sih nih Kai, gue lagi menikmati momen-momen romantis malah suruh matiin lilin. Dasar ogeb... Iiihh... emang ya romantis-romantis itu cuma ada di film. Pada kenyataannya nggak seromantis itu.