In Between

In Between
Si Pengacau Kecil



Dengan satu perintah dari gue, Kai segera memposisikan kejantannannya di lubang mahkota gue. Kaki gue sedikit diangkat lalu dengan sekali tusuk dia memasuki gue dari belakang. "Aaahhh" kita sama-sama mendesah. Miliknya tenggelam di dalam milik gue, memenuhi gue, begitu besar dan keras. "Kamu kenapa tambah sempit kayak gini dek... ahhh" rancaunya sambil mendorong senjatanya keluar masuk. "Mmmphh... cepetin Mas... ah".


 


Kai semakin mempercepat gerakannya. "Anget banget dek di dalam kamuuh.. ah.. mmphh... iya, ketatin lagi dek. Remes-remes punya Mas... aah... lubang kamu enak banget gini".


 


"Mas... ahh... sodok yang keras... ah.. mpphh... gedhe banget punya Mas... penuh banget... Lebih dalem dong Mas... akkhh... ahhhh... mppphh...ahh"


 


"Enak dek?"


 


"Ehm" gue mengangguk, tak sangup lagi berkata-kata. Kai menumbuk tetap di titik kenikmatan gue. Satu kali.. dua kali.. aaahh... ini bener-bener nikmat. Mata gue terpejam. Gerakan Kai semakin lama semakin cepat. Gue bersiap menyambut *** gue tapi tiba-tiba...


 


"Huaaaa.... Papapa.... huaaaaa" suara tangisan anak sulung gue dari kamarnya menghentikan aktivitas panas kita. Kai buru-buru melepas miliknya dari milik gue dan memakai kembali bajunya. "Mas, nanggung banget. Bentar lagu aku keluar " protes gue.


 


"Nanti di lanjut lagi. Kasian itu si kakak nangis. Mas tengokin dulu sebentar."


 


Huh.. selalu saja. Si kakak paling hobi gangguin Mama dan Papanya yang lagi asyik berdua.


Iya, jadi anak sulung gue ini lengket banget sama Papanya. Kaya perangko, nempel terus nggak bisa pisah. Nggak heran sih, sejak gue hamil dia apa-apa harus Kai. Tapi lama kelamaan gue jadi cemburu, apalagi sejak hamil anak ke dua ini. Gue sama si kakak selalu rebutan perhatian Kai.


 


"Papa, suapin kakak.. aaaaa" celotehnya pada suatu hari saat kita sedang makan bersama.


 


"Aaaaa" Kai mengayunkan sendok yang berisi nasi dan sayur itu ke mulut si kecil.


 


"Mama juga mau Papa suapin" rengek gue nggak mau kalah.


 


"Mama kan udah gedhe, kenapa disuapin?" protes anak sulung gue sambil mengunyah makanan.


 


 


"Nih buat Mama... aaaaa" langsung gue sambut suapan Kai dengan senang hati.


 


"Papa juga makan. Kakak suapin Papa ya. Papa aaaaa" anak gadis gue mengambil satu potong daging dan memasukkannya ke dalam mulut suami gue.


 


Gue juga nggak mau kalah dong, "Papa aaaaa" gue ikut-ikutan nyuapin Kai sesendok nasi dan sayur.


 


"Hmmm.. enaknya disuapin dua cewek cantik. Sini Papa sun dulu satu-satu"


 


Yang paling ngeselin adalah ketika si kakak nggak mau bobok sendiri. Dia selalu minta dikelonin Papanya. Padahal kan gue juga pengen kelonan sama si Papa. Apalagi semenjak gue hamil lagi, sering banget birahi gue naik. Jadilah kita berdua rebutan Papa.


 


"Ya udah Papa boboknya di tengah aja. Kakak sini peluk papa, Mama juga sini biar Papa peluk. Nah gini kan enak"


 


Enak gundul mu. Berasa di duain gue.


 


Tak berapa lama setelah si kakak terlelap, Kai berbisik si telinga gue, "Kakak udah bobok. Pindah ke kamar atas yuk"


 


Hehehe... ini nih saat yang gue tunggu-tunggu. Setelah memastikan kakak aman untuk ditinggal, Kai menggendong gue menuju kamar atas. Ssttt... jangan pada berisik ya. Ntar kalau kakak bangun bisa berabe. Mama mau pacaran enak dulu sama Papa. Good night. Muaaah 💋


 


The End