In Between

In Between
Terjebak



"Pardon me?" tanya gue sedikit merasa canggung dengan situasi ini.


 


"Come on. Don't be so naive. You are so beautiful tonight Ma'am (Ayolah. Jangan terlalu naif. Anda terlihat begitu cantik malam ini Nona)" suaranya memberat dan seduktif, matanya menghitam diliputi kabut nafsu, dan wajahnya semakin mendekati wajah gue. Memahami situasi seperti apa ini, gua langsung menepis tangannya yang bergerak pelan menulusuri pipi hingga ke dagu gue.


 


"I thought you were a gentleman. But you are nothing but trash. Forget our cooperation. I do not want to cooperate with someone like you (Saya pikir Anda adalah seorang gentleman. Tapi ternyata Anda hanyalah sampah. Lupakan kerjasama kita. Saya tidak sudi bekerjasama dengan orang seperti Anda)" gertak gue sebelum berdiri dan meninggalkan tempat itu. Tapi naasnya, belum satu langkah gue berjalan, tubuh gue ditarik  hingga jatuh ke sofa.


 


"Not as easy as you think, Ma'am (Tak semudah itu Nona)" seringai lelaki bejat itu. Tangannya mencengkeram erat bahu gue dan tubuh kokohnya menindih tubuh gue.


 


Rasa takut mulai merayap di pikiran gue. Tatapannya yang tajam dan seringai bak serigalanya terlihat sangat siap melahap gue. Bodoh. Nggak berhenti-berhentinya gue meratapi kebodohan gue. Bisa-bisanya gue masuk ke perangkap buaya seperti dia.


 


Sekuat tenaga gue berontak melepas cengekeraman kuat pak Nakamura yang kini berada di lengan gue. Bibirnya sudah menginvasi leher gue, meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana. "No.. Please no... Help.. Help..." gue teriak sekenceng-kencengnya. Tapi percuma, ruangan ini kedap suara. Siapa juga yang bakalan nolong gue di sini. Gue terjebak.


 


Dengan berurai air mata, gue tendang kemaluannya dengan lutut gue. "Aaargggh..." teriaknya kencang memberikan kesempatan gue untuk lari. Baru saja gue tekan tombol unlocked di dekat pintu, rambut gue ditarik dari belakang, tubuh gue diputar dan pipi gue ditampar hingga gue jatuh terjerembab di lantai. Rasa panas dan perih menjalar di pipi gue. "You should be nice when I was being good to you. Now, don't blame me (Anda seharusnya menurut ketika saya memperlakukan Anda dengan baik-baik. Sekarang jangan salahkan saya)". Setelah menggertak gue, pria bejat itu menyeret gue ke atas tempat tidurnya, mengikat tangan dan kaki gue serta menyumpal mulut gue.


 


 


Pak Nakamura sibuk memasang kamera Hasselblad H4D 200MS-nya di atas tripod dan mengarahkannya tepat ke arah gue. Setitik cahaya merah menyala, menandakan kamera sudah on. Dasar sakit jiwa. Psikopat. Apa-apaan ini? Gue mau direkam?


 


Setibanya di samping gue, dia tegakkan tubuh gue hingga bersandar ke tubuhnya. Wajah gue dengan paksa dihadapkan ke arah kamera. Lelaki itu mulai menjilati lekuk leher gue, bergerak ke atas bermain-main sebentar dengan telinga gue dan kembali mencium serta menggigit leher gue.


 


"I like your smell. (Saya suka wangi Anda)" Suara bass lelaki bejat itu tertangkap indera pendengaran gue. Membuat gue semakin jijik. "Come on baby. Let me hear your moan (Ayolah sayang. Perdengarkan suara desahanmu)" perintahnya diiringi suara robekan kemeja gue, memperlihatkan bra warna hitam yang menangkup sempurnya payudara gue. Gue memekik keras. Apalagi saat tangannya meremas-remas bukit kembar gue. Lidahnya semakin turun menelusuri dada atas gue dan salah satu tangannya bergerak turun hingga sampai di kaitan celana gue. "Can you fell my erection? Soon it will fill you up baby. (Dapatkah kamu merasakan ereksiku? Sebentar lagi benda ini akan memenuhi mu sayang)" Bisa gue rasakan barangnya yang keras menggesek-nggesek punggung gue. Ciumannya makin liar, dan tangannya sebentar lagi berhasil menarik turun celana gue.


 


Gue udah nggak tahu lagi harus gimana. Seluruh tenaga udah gue kerahkan untuk memberontak. Suara gue udah serak. Dan air mata gue udah membanjiri pipi gue. Di saat seperti ini gue cuma inget Kai. Sebetapa jengkelnya gue sama dia, namun nggak bisa dipungkiri hati gue sangat berharap dia ada di sini, nolongin gue. Betapa nyeselnya gue nggak nurut sama Kai, mementingkan ego gue demi karir. Andai saja gue mengindahkan nasehat Om Yudha untuk tidak bekerjasama dengan pria bangsat ini. Tapi percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Gue nggak bisa ngebayangin gimana hidup gue habis ini. Tubuh gue dilecehkan oleh lelaki hidung belang. Bahkan pelecehan ini pun direkam. Bisa saja suatu saat rekaman ini beredar luas. Mau ditaruh mana muka gue? Apakah suami gue masih mau menerima gue nantinya?


 


Gue nangis. Nangis sejadi-jadinya. Hingga tak ada lagi air mata yang sanggup gue keluarkan.