In Between

In Between
Milan with Love 1



Suara dentum musik yang menggema diiringi sorot lampu warna-warni mengisi ruang yang riuh karena hiruk pikuk penonton. Sebuah panggung catwalk di tengah menjadi pusat perhatian para pemuja seni dan mode. Model-model papan atas melenggang dengan sempurna seiring  irama musik yang beradu, meliak-liuk menyusuri panggung, memamerkan tubuh indahnya yang dibalut dengan busana-busana karya designer papan atas dunia. Mata gue dimanjakan oleh koleksi empat musim keluaran brand-brand ternama seperti Armani, Roberto Cavalli, Dolce & Gabbana, Prada, Tod's, dan Vercace. Beberapa label dan designer baru juga ikut berpartisipasi memeriahkan pameran busana malam ini. Ada Au jour le jour, Cristiano Burani, Gabriele Colangelo, Marco De Vincenzo, Stella Jean, Francesco Scognamiglio, dan masih banyak lainnya.


 


Disusul kemudian koleksi busana dari Fausto Puglisi, sebuah label muda yang memamerkan koleksi fall&winter-nya. Sebuah perpaduan menarik ciri khas Italia yang dipadupadankan dengan gaya modern Amerika mendatangkan tepuk tangan yang meriah dari bangku penonton. Setelah model terakhirnya meninggalkan panggung, model dari designer lain mengambil alih. Masih dari label muda yang belum disebutkan namanya. Tetapi koleksi-koleksinya langsung menarik perhatian gue. Koleksi kali ini mengusung tema simplicity but classy, bener-bener gue banget ini mah. Perpaduan warnanya kalem. Aksesorisnya nggak berlebihan tapi tetep terkesan elegan dan manis.  Semakin gue perhatikan semakin gue teringat sesuatu. Desain-desain ini seperti nggak asing buat gue. Bentar-bentar, biar gue inget-inget lagi. Rasanya gue pernah lihat desain yang mirip banget sama baju-baju ini. Tapi dimana ya... Hmm...


 


O iya.. di sketchbook gue.


 


Beneran... ini desainnya mirip banget sama baju-baju yang gue gambar.


 


Kok bisa samaan gitu?


 


"And the last show from New Arising Season is presented by our new designer from Indonesia, Miss Naura Krystal Hutama. (Dan pameran terakhir dalam sesi New Arising ini dipersembahkan oleh designer baru kita dari Indonesia, Nona Naura Krystal Hutama)"


 


Suara dari pembawa acara itu disambut oleh riuh tepuk tangan penonton. Sorot lampu panggung beralih ke bangku tempat gue duduk, menjadikan semua mata tertuju pada gue. Gue yang masih shock dengan semua ini nggak tahu harus ngapain. Dengan tenang Kai membimbing gue untuk berdiri dan membungkuk sebentar memberikan hormat pada atensi yang diberikan publik. Setelah lampu sorot kembali ke panggung, gue pun duduk dengan berjuta pertanyaan berkeliaran di benak gue.


 


Gue menoleh ke Kai yang sedang menatap gue lembut banget. Gue nggak ngomong apa-apa tapi seolah-olah Kai udah bisa baca ekspresi di wajah gue. Pelan-pelan digenggamnya tangan gue, "Kamu nggak marah kan?" tanya suami gue itu was-was.


 


"Hah? Marah kenapa?" jawab gue sekenanya karena masih bingung dengan semua ini.


 


"Maaf ya Mas nggak bilang-bilang kamu dulu. Mas pengen kasih kejutan buat kamu"


 


"Wow.. aku terkejut" gue nggak tau harus ngerespon apa, pikiran gue masih blank.


 


Kai tekekeh pelan sambil mengacak-acak rambut gue, "Kamu ini gemesin banget ya" pipi gue ikut ditarik saking gemesnya.


 


 


"Jadi, yang barusan dipamerin itu... baju-baju itu..."


 


"Iya sayang. Itu punya kamu"


 


Gue bengong, mencoba mencerna kata-kata Kai.


 


"Desain-desain yang kamu gambar di sketchbook kamu itu Mas realisasikan jadi baju beneran. Chelsea yang bantuin. Mas mana ngerti masalah ginian. Chelsea yang cariin tailor terbaik di Italy buat jahit baju-baju kamu. Dia juga yang milih bahan-bahan dan aksesorisnya. Dan berkat Chelsea juga baju kamu bisa ditampilin di fashion show ini."


 


Mulut gue ternganga. Jadi selama ini, suami gue sama Chelsea sibuk di Milan karena ini?


 


"Jadi kamu jangan salah paham lagi ya sama Mas dan Chelsea. Sayangnya Mas itu seutuhnya buat kamu seorang, istriku"


 


Mulut gue udah nggak sanggup merangkai kata-kata. Pengelihatan gue memudar karena air mata yang menggenang di pelupuk mata gue udah nggak tertahan. Tanpa pikir panjang langsung gue tarik wajah suami gue mendekat, dan gue tempelkan bibir gue ke bibirnya. Nggak ada acara lumat-lumatan maupun hisap-hisapan. Gue cuma nempelin gitu aja, meluapkan segala rasa syukur dan kebahagiaan yang membuncah di dada gue. Nggak tahu lagi gue mesti gimana. Gue bener-bener beruntung mendapatkan lelaki seperti dia, malaikat pelindung gue, rumah buat gue bernaung, tempat gue menggantungkan mimpi dan harapan.


 


"Dek jangan di sini lah, malu" ucap Kai begitu dia menarik gue pelan.


 


"Bodo" gue udah mau nyosor lagi tapi Kai menghentikan gue.


 


"Ya udah. Kita cari toilet aja yuk"