
Setelah lima menitan waktu gue habis buat niup-niup lilin, gue memutuskan mandi dan bersiap-siap. Sekarang sudah jam 5 lebih. Gue nggak punya banyak waktu buat dandan. Aslinya gue masih capek setelah perjalan di pesawat tadi, tapi begitu lihat couple bath-up nya, semangat gue langsung terbakar. Mau sejam juga betah banget gue mandi di sini. Tapi gue nggak bisa lama-lama, buru jam tujuh ini nanti.
Setelah mandi dan memoleskan make-up, gue berkaca di hadapan cermin. Gaun merah maroon yang diberikan Kai membungkus sempurna tubuh gue, memancarkan aura seksi sekaligus misterius dari dalam diri gue. Tapi selanjutnya gue jadi bingung sendiri, gue mau pakai high heels apa booth ini? Trus rambut gue mau dicatok apa dikeritingin? Ini juga warna lipstik yang match apa ya? Duh... di saat-saat seperti ini gue berharap punya temen cewek yang bisa diajak berdiskusi.
Jam sudah menunjukkan pukul enam dua puluh. Gue nggak punya banyak waktu lagi. Buru-buru gue ambil ponsel gue dan menghubungi Chelsea. Yup, hubungan gue dan Chelsea semakin baik. Apalagi setelah Chelsea mendengar kejadian gue hampir diperkosa waktu di Macau itu. Ternyata penilaian gue tentang dia selama ini salah. Meskipun tingkahnya sedikit kekanak-kanakan dan centilnya kebangetan, tapi dia sangat atentif dan bisa bikin kita nyaman cerita masalah apapun ke dia. Dibekali dengan ilmu psikologi yang dia dalami di bangku kuliah, Chelsea sangat membantu gue untuk tidak berlarut-larut dalam trauma kejadian malam itu. Beberapa kali dia bolak balik Jakarta-Aussie untuk menghibur hati gue yang kalut. Dia jadi satu-satunya temen gue ngobrol. Sejak gue masuk rumah sakit jiwa, hubungan gue sama temen-temen sekolah gue dulu putus. Entah mereka yang sengaja ngehindarin gue karena malu punya temen bekas orang sakit jiwa atau ada alasan lain. Gue juga males sama orang-orang munafik kayak mereka.
"Kak Krystal....!!! Kakak cantik banget mau kemana itu?" belum juga gue ngomong, wajah Chelsea di layar ponsel udah berbinar-binar, semangat banget nerocosnya.
Gue arahin kamera ke cermin, menangkap gambar seluruh tubuh gue dari atas ke bawah.
"Chels, menurut lo bagusan gue pake high heels apa booth ini?"
"Kak Krystal mau ngedate ya sama kak Kai?"
"Udah buruan jawab"
"Eemm... kakak coba satu-satu deh. Chelsea liat dulu bagusan yang mana."
Dengan ponsel masih mengahadap ke cermin, gue coba pake high heels. Kemudian gue puter tubuh gue biar Chelsea bisa menilai tampak belakang gue. Setelah dirasa cukup gue ganti pake yang booth.
"Gimana?" tanya gue nggak sabar
"Yang booth aja deh kak mendingan"
"Oke yang booth aja kalau gitu. Terus-terus ini rambutnya bagusnya diapain? Dicatok? Dikeriting? Atau dicepol aja ini?"
"Dicatok aja kak. Dibiarain teruarai kayak gitu malah bagus. Lagian kakak nggak punya waktu lama kan?"
"Loh kok kamu tau aku buru-buru?"
"Eh.. itu... eh... aduh kakak, kenapa pakai lipstik yang itu"
"Lah kenapa?" gara-gara ngomongin lipstik gue jadi lupa kecurigaan gue kenapa Chelsea bisa tau gue lagi buru-buru.
"Jangan yang itu. Kakak keliatan pucet banget"
"Terus pake yang mana?"
"Yang lebih merah lagi kak"
"Iiih kakak, ya merahnya jangan yang menor dong. Pake shade yang no 18 itu aja"
Sesuai komentar Chelsea, gue pulas bibir gue dengan lipstik pilihan dia. Hmm... fashionable juga nih anak. Selera dia nggak jauh-jauh sama taste gue.
"Aduh jadi pengen kencan juga Chelsea"
"Bukannya cowok kamu banyak? Ajak aja salah satunya"
"Chelsea bosen. Chelsea putusin aja"
Bener-bener deh ini cewek.
"Chels, kamu nggak pengen gitu berhenti main-main terus serius aja sama satu cowok?"
"Ya pengen sih. Makanya Chelsea gonta-ganti gini. Biar bisa nemuin satu yang tahan banting. Kakak beruntung banget bisa dapetin kak Kai. Ada nggak ya cowok yang bakal bisa sayang Chelsea kayak kak Kai sayang kak Krystal"
"Ya adalah Chels, makanya kamu berhenti main-main."
"Iya deh, iya. Tapi nggak janji ya... hehe"
Emang dasar kepala batu.
Setelah gue mengakhiri panggilan, seorang bellboy lagi-lagi mengetuk pintu kamar gue. Langsung gue masukin ponsel gue ke tas Channel hitam dan berjalan keluar membukakan pintu. Bellboy itu nganterin gue sampai depan hotel. Di sana, sudah ada sebuah Roll Royce Phantom Limousine dengan drivernya yang membukakan pintu untuk gue. Gue berkedip. Sesekali mengucek mata gue memastikan gue nggak salah lihat. Bener-bener totalitas banget sih suami gue romantisnya. Jadi tambah sayang. Pokoknya ntar mau berapa ronde juga gue jabanin deh.
Gue masih sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya Kai siapin buat gue ketika limousin yang gue naiki berjalan melambat. Dari balik kaca yang gelap, gue bisa melihat riuh orang yang berlalu-lalang mengenakan berbagai model pakaian merek dunia. Ada Channel, Gucci, Louis Vuitton, Dior, Zara, dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya adalah reporter dan paparazi yang sibuk dengan kamera dan blitznya.
Pintu limousin gue terbuka. Sebuah uluran tangan dan wajah sumringah menyambut gue. Wajah yang udah gue nanti-nanti sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan wajah suami gue. Dengan senyuman yang tak kalah sumrigah gue gapai uluran tangan itu dan keluar dari limousin. Pandangan gue beredar, memindai kerumunan yang membungkus tempat ini. Sebuah tulian besar menangkap atensi gue, MILAN FASHION WEEK.
"Mas?" gue menagih penjelasan ke suami gue.
"Udah ikut aja Mas ke dalem"bisiknya ditelinga gue sebelum menuntun gue memasuki bangunan mewah di hadapan gue ini.
Aduh, ini Kai mau ngapain sih? Jadi deg-degan gini...