
Setelah kejadian itu, gue dibawa Kai pulang ke Jakarta. Hari-hari gue habiskan di rumah. Gue udah nggak ngurus lagi masalah kantor. Proyek di Macau gue percayakan ke orang lain. Sementara ini, gue pengen menenangkan diri terlebih dahulu.
Ritual harian gue ya gini-gini aja. Latihan masak, beres-beres rumah, males-malesan di depan TV, dan ngabisin isi kulkas. Meskipun berat badan gue nambah, tapi gue ngerasa bahagia. Hidup gue nggak lagi terbebani tuntutan kerja. Gue lirik jam di dinding, sudah pukul sembilan malem tapi Kai belum pulang-pulang. Tumben banget sih. Ketika gue sedang asyik menggonta-ganti channel TV mencari tontotan yang menarik, tangan gue berhenti menekan tombol remote ketika sebuah siaran berita ditayangkan.
Mata gue mengerjap berkali-kali. Nggak. Nggak mungkin. Ini semua nggak mungkin terjadi kan?
Tepat ketika berita itu berakhir, Kai sampai di apartemen. Cepat-cepat Kai mengambil remote TV di tangan gue dan mematikan benda persegi panjang itu. Gue yang masih mencerna tayangan berita yang baru saja disiarkan hanya terdiam kaku menatap Kai.
"Mas, tadi maksudnya apa? Kenapa Om Yudha ditangkap polisi?" tanya gue terbata-bata setelah beberapa saat terdiam.
Kai menutup matanya dan menarik nafas panjang. Digenggamnya tangan gue dan ditatapnya mata gue lembut.
"Dek, nggak pa pa. Kamu jangan banyak pikiran ya. Mas lagi cari jalan keluarnya"
Gue berontak, "Sebenarnya ada apa sih Mas? Jelasin ke aku? Aku juga berhak tahu"
Tanpa melepas genggamannya, Kai mulai bercerita, "Pak Yudha terseret kasus penggelapan pajak. Beberapa investor juga menarik investasinya dari proyek-proyek perusahaan. Nilai saham anjlok. Kondisi saat ini bener-bener parah."
Mulut gue menganga. Seserius inikah kondisi perusahaan.
"Dek, dengan kondisi saat ini, sangat sulit untuk perusahaan bisa tetep jalan. Mas sama Sigra sudah mengupayakan berbagai cara. Namun sepertinya nggak ada pilihan lain selain perusahaan harus ditutup"
"Ditutup? Nggak.. nggak mungkin perusahaan ditutup gitu aja. Kita masih bisa cari jalan keluarnya kan Mas? Iya kan? Mas juga pengacara. Mas bisa kan bebasin Om Yudha dari kasus ini? Iya kan, Mas? Bilang sama aku Mas? Mas bisa kan?"
Gue terdiam sebentar. "Ma-maksud Mas..? Siapa orangnya Mas?"
Mulut Kai terkunci, dia nampak ragu-ragu mengatakan sesuatu ke gue.
"Siapa Mas? Bilang ke aku, siapa?" tuntut gue sekali lagi.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, mulut Kai terbuka, "Pak Nakamura." ucapnya lirih.
Apa?
Gue semakin shok. Perusahaan bokap gue, perusahaan yang udah mati-matian dibentuk bokap gue, perusahaan yang berdiri karena keringat dan jernih payah bokap gue akhirnya harus ditutup. Dan semua ini salah gue. Salah gue yang terlalu keras kepala dan egois sehingga semua orang kena batunya. Hukuman macam apa yang sedang Tuhan kasih ke gue. Tubuh gue lemes, pandangan gue kabur, pelupuk mata gue nggak bisa lagi nahan air mata. Lagi-lagi gue nangis dalam dekapan orang yang paling berharga buat gue. Setidaknya dibalik semua huru hara ini, Tuhan sudah sangat baik mengirimkan satu malaikat pengganti Papa dan Mama untuk selalu menjadi tempat gue bersandar. Dan detik itu juga gue sadar, gue udah jatuh cinta. Jatuh cinta yang sedalam-dalamya.
Kai.
Aku sayang kamu.
Sayang banget.
Jangan pernah tinggalin aku.