
Romantis.
Banyak cewek yang punya impian romantis. Tapi gue kasih tau satu hal, romantis itu nggak seindah kelihatannya. Jangan percaya serial film-film atau drama-drama mingguan di TV. Semua itu hanyalah konspirasi, imajinasi yang dibangun karena kepentingan persuasif. Romansa yang sesungguhnya penuh lika-liku, tanjakan, dan turunan. Cem naik roller-coaster.
Buat cowok-cowok di luar sana, nggak usah terbawa sama narasi media. Romantis bukan berarti lo harus nyewain satu gedung bioskop buat nonton berdua, bukan juga nerbangin balon-balon bertuliskan I LUV YOU di langit-langit kota. Inget, cewek itu bukan makhluk visual yang hanya melihat hal-hal konkret di depan mata. Mereka lebih perasa. Cukup lakukan hal-hal kecil namun bermakna. Usap lembut kepalanya, jangan biarkan dia berjalan di sisi keramaian, pinjemin jaket saat udara dingin di luar, atau inget hal-hal kecil yang pernah dia ucapkan. Simple kan?
Nah begini nih kalau kebanyakan nonton roman picisan. Pengen gue ketawain tau nggak tingkah polah laki gue satu ini. Niatnya mau romantisin tapi malah dia yang repot sendiri. Haduh haduh... pusing pala barbie.
Jadi ceritanya, habis selesai acara Kai ngajakin gue makan malem di luar. Idenya tuh mau dinner ala-ala billionare gitu. Dianter pake limousin, pesen makan di restaurant elite, terus table mannernya modelan bangsawan eropa. Pake meja puaaanjaaaang banget. Kursi gue di ujung sini kursi Kai di ujung sana. Jarak antara kita berdua bisa sampai tiga meteran lebih. Kai abis diracuni film apaan sih bisa dapet ide kayak gini.
"Mas kenapa pajang banget gini mejanya?"
"Biar kayak di film-film itu lho"
"Film apaan?"
"Pokoknya film-film romantis itu"
Mau gue ketawain takut dosa. Ya udah gue ikuti aja permainannya. Setelah duduk kita pun mulai membalikkan piring untuk makan. Dan saat itu gue baru nyadar kalau hidangannya ada di tengah meja. Dengan jarak yang jauh kayak gini nggak mungkin dong gue raih pake tangan. Mau nggak mau harus jalan.
Untung suami gue gercep. Belum aja gue berdiri dia udah nyamperin duluan.
"Sini biar Mas ambilin."
Kai jalan dari kursinya ke kursi gue. Habis itu dia ngambilin satu potong Mille Feuille yang ditaruh di sisi piring, terus beberapa potong sirloin, potato stick, dan cooked vegetables. Sementara tangan kirinya bawain satu piring kecil creme brulee. Kedua piring itu ditaruh ke hadapan gue. Tidak lupa dia menuangkan grape juice ke dalam gelas kaca gue. Waktu gue nanya kenapa nggak pesen wine aja, guenya malah kena semprot. "Hush, nggak baik minum-minum kek gitu" hardiknya. Unch... panutan banget laki siapa sih...
Setelah selesai ngelayanin gue, Kai kembali ke kursinya. Dia balik lagi ke tengah sambil bawa piring dia sendiri. Gue aslinya udah mau cekikak-cekikik liat dia rempong sendirian. Lagian biasanya juga kalau makan modelan kayak gini ada waiternya yang bantu menghidangkan makanan. Tapi gue diem aja sih, nggak komentar apa-apa.
"Hah? Bilang apa?" Kai setengah teriak.
"Sauce-nya Mas. Sauce..!" gue kerasin volume suara gue. Ngomong dengan jarak tiga meter ternyata butuh tenaga ekstra. Bohong banget tuh film-film yang ada scene dinner di tempat kayak gini tapi masih bisa ngobrol enak. Ckkk...
"O iya, bentar ya" dengan sigap Kai langsung berdiri, ngambilin saos di tengah meja, ngasihin ke gue lalu balik lagi.
Baru satu potong daging masuk ke mulut Kai, niatan gue buat ngerjain Kai muncul lagi, "Mas lada-nya dong. Nggak kerasa ini kalau nggak di tambahin lada."
"Hah? Kamu ngomong apa?"
"Lada Mas.. LADA"
"Oh lada, bentar"
Sekali lagi Kai beranjak dari kursinya, ngambilin satu botol kecil lada buat gue sementara mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Mas, aaaaa...." gue berlaga seolah-olah mau nyuapin dia.
Kai menghembuskan nafasnya berat sebelum kembali berdiri, menghampiri gue dan membuka mulutnya.
"Pinteeer" puji gue sambil mencubit pipinya gemas.