I Was Your Man

I Was Your Man
Tugas Baru



Sore keesok harinya, proses syuting dimulai. Semua kru yang terlibat sibuk menyiapkan properti dan segala yang dibutuhkan selama syuting. Seorang perempuan seusia Sofia yang bertugas sebagai makeup artist telah selesai mendandani Yasmin sesuai dengan konsep iklan. Namun begitu, sang MUA sesekali merapikan rambut lurus Yasmin yang tersibak angin pantai pagi hari.


Pengambilan gambar diawali dengan Yasmin yang berlari-lari kecil di bibir pantai, menerjang ombak yang membasahi ujung pakaian. Seorang kameramen dan kru lain mengikuti langkah Yasmin dari belakang.


Lalu Yasmin membalikan badan masih sambil berlari kecil. Lebih tepatnya, berjalan mundur. Menarik sudut bibir ke atas, membentuk senyuman yang membuat semua orang terpesona. Dia menyibakan rambut yang tertiup secara natural oleh angin pantai. Dia melakukannya dengan sangat anggun.


Bukan hal sulit bagi Yasmin untuk melakukan adegan tersebut. Kepiawaian yang telah dia asah selama kurang lebih lima tahun. Tidak sia-sia perjuangannya selama ini.


Di sisi lain, di tempat yang lebih teduh. Tempat yang dikhususkan untuk sutradara, Tuan Leo dan kedua asistennya. Mereka mengamati hasil proyeksi kamera di sebuah layar di hadapan mereka. Leo menyunggingkan senyum puas. Memilih Yasmin untuk menjadi duta merek produk parfumnya memang pilihan yang tepat.


"Cut. Cut." Teriak sang sutradara dengan pengeras suara. Dia berdiri dan bertepuk tangan. "Kerja bagus, Yasmin. Kita langsung ke scene berikutnya ya?"


"Kalian lihat itu?" kata Leo pada Gino dan Zafier. "Yasmin memang wanita yang sempurna. Harusnya dia yang menjadi nyonya Leo, bukan Irene."


"Ya, Tuan. Yasmin memang lebih pantas bersanding dengan anda." Kata Gino untuk menyenangkan hati bosnya.


Leo terkekeh mendapat dukungan dari Gino. Lalu mengalihkan pandangan pada Zafier. "Aku punya tugas baru untukmu, Zaf."


"Tugas apa, Tuan?"


"Kau ingat apartemen mahal yang sudah aku siapkan untuk Yasmin?"


Zafier mengangguk. "Iya, ingat, Tuan. Kenapa memang? Apa dia tidak suka?"


"Dia tidak tertarik. Kurang mewah apa apartemen itu?"


"Mungkin dia lebih menginginkan rumah dibanding apartemen, Tuan." Gino menimpali.


Leo terkekeh lagi sambil mengggelang. "Tidak. Dia bukan tipe wanita matre yang melihat laki-laki hanya dari harta. Itulah yang semakin membuatku menginginkan kupu-kupuku itu. Dia malah meminta seorang pengawal." Suara gelak tawa Leo pecah. Padahal bagi Gino dan Zafier tidak ada yang lucu.


"Sekarang tugasmu, Zafier, adalah menjaga kupu-kupuku itu sampai aku berhasil menyingkirkan Irene. Kamu akan menjadi pengawal pribadi Yasmin sekaligus pelayan atau apalah sebutan yang pas. Intinya, turuti semua perintah yang keluar dari bibir Yasmin yang manis itu. Kamu mengerti?"


Zafier melirik sekilas ke arah Yasmin yang sedang berpose di depan kamera sembari menggenggam botol parfum. "Apa itu artinya aku harus bersama dengannya selama 24 jam?"


"Oh ya tentu. 24 jam selama 7 hari. Yang aku takutkan, Irene mengetahui status Yasmin sekarang dan mencelakainya."


"Berarti Zafier tidak akan punya waktu libur, Tuan." Ucap Gino sambil memberi lirikan dari sudut mata yang jika diartikan, ****** kamu, Zafier. Kerja tanpa ada waktu libur.


"Itu kamu minta saja pada Yasmin. Kalau Yasmin memberimu libur, kau bisa libur. Seperti yang sudah aku bilang, tugasmu sekarang melayani calon istriku."


"Baik, Tuan." Kata Zafier sambil menunduk. Terdengar sedikit helaan napas, untuk melenyapkan rasa kesal di dalam diri Zafier saat Leo menyebut Yasmin dengan julukan calon istri.


"Untuk bayaranmu tetap dariku. Aku akan membayar upah tiga kali lipat lebih banyak dari gaji yang biasa kamu terima jika kamu melakukan tugasmu dengan baik."


Senyum penuh hinaan yang -ditujukan pada Zafier- sejak tadi menempel di bibir Gino sirna seketika mendengar Leo akan membayar Zafier tiga kali lipat.


Apa? Tiga kali lipat? Aku juga mau. Pikir Gino.


"Sekarang aku harus menyusun rencana untuk menyingkirkan Irene."


"Halo, Sayang."


"Sayang, kamu ada dimana?" tanya Irene dari sebrang telepon dengan nada marah.


"Aku sedang ke luar kota. Ada urusan bisnis. Ada apa meneleponku? Aku sedang sibuk sekali." Leo terpaksa berbohong dan mencari alasan agar Irene segera menutup telepon.


"Ke luar kota? Sibuk katamu?" suara Irene terdengar melengking. Dia pasti berteriak-teriak dari tempatnya menelepon. "Sibuk apa? Kamu pasti sibuk berduaan dengan wanita lain, kan?"


"Irene, Sayang, aku tidak berduaan dengan wanita lain. Aku sedang bersama dengan Gino dan juga Zafier. Lagipula aku memang sedang ada urusan bisnis." Terang Leo dengan intonasi suara selembut mungkin. Padahal dalam hati, Leo sedang menahan amarah yang meluap-luap menghadapi sikap Irene yang sangat protektif.


"Jadi sekarang kamu lebih mementingkan kedua bocah itu daripada aku dan Junior, begitu?"


"Tidak. Tidak begitu, Sayang." Jawab Leo cepat. Dia merasa dongkol di depan anak buahnya sendiri.


"Bukankah kamu punya puluhan bahkan ribuan bawahan? Kenapa harus kamu yang ke luar kota? Memang tidak bisa diwakilkan?"


"Tidak bisa, Sayang. Harus aku yang ke sini." Kata Leo berbohong lagi.


"Aku tidak mau tahu urusanmu. Cepat pulang!" pekik Irene.


"Iya. Iya. Setelah urusanku selesai aku akan pulang."


"Sekarang." Pekikan Irene semakin nyaring. "Aku mau kamu pulang sekarang."


"Tapi sayang.." Leo mulai gelagapan. Dia sudah frustasi dengan kelakuan istri satu ini.


"Tidak ada tapi tapi. Cepat pulang atau aku cabut jabatanmu sebagai direktur utama." Ancam Irene. Kemudian menutup telepon secara sepihak.


Leo menarik napas panjang. Wibawanya telah jatuh di depan Gino dan Zafier. Tapi bagaimana lagi, dia harus tetap menuruti kemauan Irene karena kemewahan dan kekayaan yang dia dapat semuanya adalah milik istrinya.


Tanpa ada Irene, Leo hanyalah pria biasa yang mungkin tingkatanya lebih rendah dari Gino dan Zafier.


"Siapkan pesawat jet untuk pulang, Gino. Kita pulang sekarang juga."


"Baik, Tuan. Akan segera saya siapkan." Kata Gino mantap.


Leo yang hendak berdiri, mengurungkan niatnya dan duduk lagi menoleh pada Zafier. "Setelah syuting ini beres, kamu ikut dengan Yasmin. Sekarang dia yang menjadi bosmu. Ingat, jaga dia. Jangan sampai Irene tahu aku memiliki hubungan dengan Yasmin."


"Baik, Tuan."


"Satu lagi. Jangan sampai Irene mengetahui kalau aku membayarmu untuk menjadi pengawal Yasmin. Kau tahu sendiri Irene seperti apa, kan? Irene itu cerdik, jadi dia bisa mencium sesuatu hal yang ganjal jika aku menyuruhmu menjadi pengawal pribadi seorang wanita."


"Saya sudah tahu itu, Tuan. Saya akan berhati-hati."


"Aku sangat menginginkan Yasmin. Aku tidak mau ada orang lain yang menghalangi jalanku untuk mendapatkan kupu-kupu milikku. Bila ada yang berani memisahkanku dengan Yasmin, aku tidak akan segan-segan memberi perhitungan dengan orang itu. Siapapun." Leo memberi tatapan serius pada Zafier. "Termasuk juga kau, Zafier."


Tbc