
"Apa yang dia lakukan di kamarku? Dengan keadaan telanjang bulat lagi. Semalam habis terjadi apa sih?"
Yasmin menjitak kepalanya sendiri di depan cermin kamar mandi. Dia membasuh muka, lalu memeriksa setiap lekuk tubuhnya yang terpantul di cermin. Tidak ada tanda-tanda penyiksaan atau pemerkosaan. Hanya ada tanda merah samar di kening.
"Tanda apa ini?" Yasmin menggosok keningnya. Tidak hilang.
Tadi malam aku ketiduran saat perjalanan pulang, kemudian aku tidak ingat apa-apa. Begitu terbangun aku sudah seranjang dengan Zafier.
"Sofiaaaa, kenapa tidak membangunkanku sih? Malah membiarkan aku tidur dengan bodyguard jelek itu." Geram Yasmin mengepalkan tangan. Padahal semalam dia sudah dibangunkan beberapa kali oleh Sofia. Yasminnya saja yang tidur terlalu pulas. "Selama aku satu atap dengan Zafier, aku belum pernah melihat dia telanjang. Aaaaa dia telah merusak mataku yang suci. Aku bahkan melihat bagian yang itu."
AAARGGGHHH!!!
Yasmin mengacak-acak rambutnya frustasi. "Baru juga sehari menjadi bodyguard, sudah berbuat macam-macam."
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu kamar mandi.
"Yasmin, kamu tidak apa-apa?"
Yasmin mendesah. Kenapa dia masih di sini sih?
Tok. Tok. Tok. "Yasmin?"
"Keluar dari kamarku!"
"Kenapa kamu berteriak? Tidak terjadi sesuatu di dalam, kan? Aku masuk, ya?"
"Apa urusanmu jika aku berteriak? Hah?" teriak Yasmin dari dalam kamar mandi.
"Katamu aku harus menjadi bodyguard yang baik. Memastikan kamu aman di manapun kamu berada." Jelas Zafier dengan nada santai.
"Ya, tapi tidak harus ikut masuk ke kamar mandi juga kali."
"Sudahlah. Aku akan pergi kalau begitu."
"Hei, tunggu! Jangan pergi dulu!"
Katanya disuruh keluar kamar. Memang wanita membingungkan.
Yasmin keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono, sedangkan Zafier telah menggenakan pakaiannya kembali. Dia berkacak pinggang di depan Zafier yang memasang wajah tanpa dosa. Alis Yasmin menyatu dan memajukan bibir.
"Kenapa bibirmu dimajukan seperti itu? Minta dicium?"
"Aku sedang kesal." Ucap Yasmin setengah berteriak.
"Oh, kesal kenapa?" tanya Zafier dengan ekspresi datar.
"Apa yang kau lakukan semalam?"
"Semalam apa?"
"Jangan pura-pura polos! Pasti kamu semalam menjelajahi tubuhku." Yasmin marah sekaligus malu. Pipinya langsung merah merona.
Sementara yang sedang dibentak dan dimaki-maki hanya melongo melihat ekspresi wajah Yasmin. Hidung yang kembang kempis, pipi malu merah merona yang sengaja dia sembunyikan dan bibir sexy yang terus berkomat-kamit. Sungguh menggemaskan jika Yasmin sedang marah. Membuat Zafier tersenyum tipis.
Ucapan makian tidak ada yang masuk ke telinga Zafier. Dia tetap menatap Yasmin.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum seperti itu? Sudah gila ya?"
"Memang salah jika aku minta layanan dari istriku sendiri." Kata Zafier sembari mencondongkan tubuhnya mendekati Yasmin.
PLAK!
Tamparan keras mengenai pipi Zafier. Dia langsung menyentuh pipi kirinya yang memerah. Matanya melotot heran, kenapa tiba-tiba main tampar segala.
"Yasmin. Sudah bangun?" suara Sofia terdengar dari luar kamar. Yasmin mencegah Zafier yang hendak keluar.
"Mau kemana?" bisik Yasmin sembari mencengkran lengan Zafier.
"Pergi." Jawab Zafier enteng. "Kamu mau aku di sini terus?"
"Tunggu dulu. Ada Sofia di balik pintu itu. Kalau dia melihat kamu keluar dari kamarku, dia bisa berpikir yang tidak tidak."
"Hmm, ti-tidak. Ak aku tidak bicara dengan siapa-siapa." Kata Yasmin gelagapan. "Aku hanya sedang latihan monolog."
"Latihan monolog? Untuk apa? Memangnya kamu mau ikutan casting film. Ah, sudalah. Kamu ini ada ada saja. Cepat mandi! Kita pulang sekarang. Bukankah ini yang kamu mau dari kemarin. Pulang dari vila ini lebih cepat."
"Iya, iya, dasar manager cerewet."
"Apa kamu bilang?" teriak Sofia.
"Tidak."
"Cepat mandi! Aku sarapan duluan."
Setelah merasa Sofia sudah pergi dari balik pintu, Yasmin memberi tatapan tajam kepada Zafier. "Ingat ya, kalau kamu mau tetap bekerja, sembunyikan status hubungan kita. Bahkan Sofia tidak tahu kalau aku telah menikah dan jangan sampai ada orang tahu kalau kamu suamiku."
Zafier hanya mengangkat bahu dan berjalan melintasi Yasmin keluar kamar tanpa sepatah kata terucap. Dadanya terasa sesak dan sakit. Sakit yang tidak berdarah.
***
Di jantung ibu kota, kawasan elite dimana berjajar area perkantoran, pusat perbelanjaan dan juga gedung-gedung apartemen pencakar langit. Jalanan di sana selalu padat oleh kendaraan, orang-orangnya pun seakan tidak pernah tidur. Siang dan malam selalu saja berlalu lalang orang berjalan di kawasan tersebut.
Meskipun begitu, penduduk di sana sangat menjaga kebersihan kota. Air sungai yang mengalir jernih di tengah kota, dan juga pohon-pohon rindang yang sengaja ditanam di setiap pinggir jalan untuk memberikan hawa sejuk bagi pengendara yang melintasi jalanan.
Di salah satu gedung apartemen pencakar langit itu, tepatnya di lantai tujuh belas, di sanalah apartemen milik Yasmin. Apartemen dengan dua kamar tidur. Satu kamar untuk dirinya sendiri dan satu lagi biasanya digunakan jika Sofia atau temen perempuan yang juga sesama model menginap di apartemennya.
Ada dapur, ruang makan, ruangan untuk menonton TV dan ruang tamu juga yang didesain khusus sesuai keinginan Yasmin sendiri. Sebenarnya, Yasmin mampu membeli apartemen yang lebih mewah dari yang ada sekarang, tapi bagi Yasmin apartemen hanyalah tempat untuk dirinya sekedar tidur dan mandi karena selebihnya Yasmin menghabiskan hari dengan bekerja. Tidak perlu mewah, terpenting nyaman, tenang, aman dan bersih. Kurang lebih seperti itulah prinsip Yasmin dalam memilih tempat tinggal.
"Ah, sampai juga di istana kecilku." Kata Yasmin yang langsung menyusup masuk ke dalam apartemen begitu pintu dibuka. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televisi. Sedangkan Zafier di belakang menggeret koper besar milik Yasmin.
Hari telah berganti senja ketika mereka sampai. Tenggorokan Yasmin terasa sangat kering dan dia pun melambaikan tangan. "Minum. Aku harus, mau minum."
Ya terus? Tinggal minumlah apa susahnya. Zafier.
Yasmin menoleh pada Zafier yang tetap mematung di tempat. "Ambilkan aku minum! Bagaimana kamu ini tidak ada pekanya sama sekali."
"Memang tidak bisa ambil sendiri?"
Mata Yasmin melotot. "Kamu di sini hanya sebagai pengawal, pelayan, sopir dan..." Yasmin menekan keningnya dengan jari telunjuk. Sedang berpikir. "Dan apalagi ya? Ah, intnya kamu harus menuruti perintah dariku. Mengerti? Sudah sana ambilkan aku minum."
"Di sebelah mana dapurnya?"
"Tuh, sebelah sana." Yasmin menunjuk menggunakan dagu.
Tak lama, Zafier kembali dengan membawa segelas air putih. Begitu gelas itu diberikan pada Yasmin, dia malah mengembalikan gelas tanpa meminumnya barang setetespun.
"Kenapa?" tanya Zafier heran.
"Airnya dingin. Aku minum air hangat."
Akhirnya, Zafier terpaksa kembali ke dapur untuk membawakan air minum hangat.
"Kurang hangat. Ini masih dingin."
Zafier ke dapur untuk yang ketiga kalinya.
"Terlalu panas."
"Panas."
"Dingin."
Zafier mendesah saat Yasmin masih saja mengeluhkan air putih yang akan dia minum. Dia mondar-mandir ke dapur sudah ada sembilan kali. Dan dia harap untuk yang ke sepuluh kali merupakan yang terakhir. "Jadi apa perlu aku mengukur suhu minumanmu menggunakan termometer sekalian?"
"Ide bagus."
"Mau berapa derajat?"
"39 derajat celcius."
Zafier memutarkan kedua bola mata. "Baik."