I Was Your Man

I Was Your Man
Cintaku



Apa yang sebenarnya terjadi dengamu, Yasmin?


Cemburu melihat Zafier dengan wanita lain?


Cemburu? Siapa yang cemburu?


Aku hanya kesal. Pria memang seperti itu ya? Bilang cinta dan melarang pasangannya dekat dengan pria lain tapi sendirinya juga tidak segan dekat dengan wanita lain.


Sebenarnya siapa wanita itu sih? Kenapa bisa seakrab itu dengan Zafier? Apa mereka hanya sebatas teman?


Aaaaa kenapa aku menjadi gusar begini? Apa pedulinya aku?


Yasmin mengacak-acak rambutnya dan memukul dinding kamar mandi. Dia menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran. Setelah emosinya stabil, dia keluar dari kamar mandi dan mendapati wanita yang tadi duduk bersama Zafier sedang berada di depan wastafel. Wanita itu sedang sibuk menelepon seseorang ketika Yasmin berjalan ke wastafel di samping wanita itu, berpura-pura melihat cermin untuk menata rambut.


"Iya. Percepat persiapannya ya? Aku mau secepatnya. Sudah. Aku sudah menemukan orang yang akan berduet denganku, jadi tolong urus semua proses rekamannya. Ah, sudahlah. Pokoknya aku sudah menemukan orang yang tepat. Ya, sampai nanti."


Serry menutup telepon dan meletakan ponsel di samping wastafel. Yasmin sempat melirik hp yang masih dalam keadaan menyala dan matanya membelalak melihat foto Zafier yang dijadikan sebagai wallpaper.


Foto Zafier saja dijadikan wallpaper oleh wanita itu. Berarti hubungan mereka bukan hubungan yang biasa-biasa saja, kan?


Serry mencuci tangan dan sibuk membetulkan lipstik yang belepotan. Lalu pergi begitu saja tanpa sadar ponselnya tertinggal. Yasmin melihat hp milik Serry.


"Hai, tunggu! Hpmu ketinggalan. Hai."


Serry yang baru saja keluar dari pintu toilet wanita, menoleh dan melihat Yasmin berlari menghampirinya sambil membawa hp miliknya. Dia menepuk jidat. "Ya, ampun. Kenapa aku bisa sampai lupa." Dia menerima ponselnya dan memasukan ke dalam tas. "Terima kasih, ya.... Hmmm"


"Kenapa?" tanya Yasmin menyadari dirinya sedang diperhatikan dari bawah sampai atas oleh wanita di depannya.


Serry menurunkan rahang bawah saking terkejutnya. Dia menutup mulut dengan kedua tangan. "Ya, ampun. Kamu Yasmin itu kan?"


"Hei, kenapa kamu tahu namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Tentu saja aku tahu. Kamu itu kan terkenal sejak menjadi model iklan parfum S. Sekarang siapa coba yang tidak kenal denganmu?"


"Oh begitu, ya?" Yasmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aaaaaa..." Serry menjerit histeris membuat Yasmin kurang nyaman dan salah tingkah. "Kenalkan namaku, Serry. Asal kau tahu saja. Aku ini salah satu dari ribuan penggemarmu."


"Senang bertemu denganmu, Serry. Ah, kamu ini berlebihan. Aku merasa tidak punya penggemar sampai ribuan."


"Kau jangan merendah. Aku sering melihatmu di berbagai sampul majalah. Bahkan sampai pernah menjadi sampul majalah V. Aku benar-benar iri dengan kehidupanmu. Kau punya segalanya tapi kamu tetap rendah hati dan juga ramah."


Yasmin tersenyum manis. "Terima kasih."


"Aku pikir seorang Yasmin seperti kebanyakan orang terkenal lainnya. Sombong, suka pamer barang-barang mahal, dan pilih-pilih teman. Tapi kamu berbeda. Boleh aku minta foto denganmu."


Yasmin mengangguk. "Boleh." Dia merapatkan tubuhnya mendekat dengan Serry yang sudah siap dengan kamera di ponselnya.


Mereka mencari gaya yang pas, lalu


Satu...


Dua...


Tiga...


Cekrek.


Serry cekikikan melihat hasil foto di ponsel. Tanpa sadar dia melompat-lompat kecil seperti balita yang baru saja mendapatkan hadiah. "Boleh satu lagi?"


"Ayo."


Dan akhirnya puluhan jepretan foto tersimpan di ponsel Serry. Padahal tadi mintanya satu kali lagi. Meskipun terlihat norak tapi Yasmin menurut saja.


Yasmin sungguh penasaran dengan Serry ini. Ada hubungan apa dia dengan Zafier? Jadi dia mulai berbasa-basi.


"Hmm aku tadi tidak sengaja mendengarmu menelepon seseorang dan kamu sedang mengurus proses rekaman. Apakah kamu ini penyanyi?"


"Sebenarnya aku baru akan memulai debut. Minta do'anya saja biar aku bisa segera memulai debut dan menjadi penyanyi terkenal."


Oh, jadi dia penyanyi.


Yasmin menggigit bibir bawah. Apa yang sudah dia bicarakan. Sementara Serry tampak tercekat. Yasmin sangat menunggu jawaban dari Serry. Iya atau bukan. Namun, Serry hanya tersipu malu.


Malu untuk mengatakan bahwa dirinya hanyalah pengagum rahasia yang tidak pernah dianggap serius oleh Zafier. Akan tetapi, Yasmin salah mengartikan gelagat Serry. Dia mengira itu merupakan jawaban iya.


***


Yasmin menoleh ke kiri dan kanan. Kedua teman modelnya yang berada di samping kiri dan kanan sudah hampir selesai dirias sementara dirinya belum dipoles alat make up sedikitpun. Seorang penata rias sibuk mondar-mandir mendandani model lain, kecuali Yasmin. Hanya dia model yang belum dirias.


"Maaf, boleh aku tahu kapan aku mulai dirias?"


"Hmmm aku tidak tahu. Maaf, bukan tugasku meriasmu."


"Lalu siapa?"


"Orang yang meriasmu belum datang sepertinya terjebak macet. Tunggu saja, ya?"


Yasmin menghela napas. Mana lagi lapar. Pengin ngemil. Mana si bodyguard itu. Bukannya berjaga di sekitarku.


Orang yang baru saja Yasmin pikirkan muncul sambil menenteng sebuah paperbag. Dengan santai Zafier menyenggol lengan Yasmin yang sejak tadi sudah menatap tajam, mengibarkan bendera perang. Zafier memberi isyarat lewat gerakan kepala agar mereka keluar dari ruang rias sebentar.


Yasmin berjalan di belakang Zafier yang membawanya ke sebuah tangga darurat. Tampak Zafier melihat situasi. Sepi. Jarang ada orang yang lewat.


Mau apa dia membawaku ke sini?


"Di sini tampaknya agak tenang. Duduk dan makanlah." Zafier menyodorkan paperbag yang dia bawa.


Senyum cerah langsung mengembang begitu Yasmin melihat isi paperbag. Ada sekotak salad buah dan jus strowberi. Dia duduk di anak tangga, dan melahap salad buah dengan rakus.


Tahu saja kalau aku sedang pengin ngemil.


Zafier tersenyum melihat Yasmin yang tampaknya senang dengan apa yang dia belikan. Tanpa sadar, dia memandangi tingkah Yasmin dengan intens. "Kamu tidak mau menawariku makanan itu?"


"Kalau kau mau kenapa tidak beli dua sekalian? Enak saja minta makananku."


Tawa pecah dari mulut Zafier. Sungguh betapa lucu istrinya ini. Ingin rasanya dia mencubit kedua pipi Yasmin. Ya, tapi dia masih dalam keadaan sadar jadi dia mengurungkan keinginannya.


Tiba-tiba ponsel milik Zafier berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk dengan nama 'cintaku'. Zafier mengernyit bingung. Sejak kapan dia menyimpan nomor denga nama cintaku. Sedangkan, Yasmin yang sempat melirik melihat nama 'cintaku' menelepon Zafier terlihat sangat gusar.


Ah, ya ampun. Ini pasti perbuatan Serry. Siapa lagi yang mengutak-atik ponselku selain dia?!


Zafier berjalan menjauh dari Yasmin. Begitu dirasa sudah cukuo aman, baru dia mengangkat telepon.


"Ada apa?"


"Hai, Zafier. Kenapa sih kamu tidak bisa ramah sedikit padaku?"


"Tidak. Cepat katakan apa maumu?"


"Aku cuma mau bilang proses rekamannya kita adakan hari rabu depan. Kamu bisa meluangkan waktu sebentar hari rabu depan, kan?"


"Iya, nanti aku usahakan. Aku akan mengabarimu jika aku bisa."


"Sip. Bagus."


"Oh, ya. Kenapa kau menamai nomor ponselmu dengan sebutan 'cintaku' di ponsel milikku?"


"Kenapa tidak boleh? Tidak ada yang akan marah, kan?"


"Ah, sudahlah. Tutup teleponnya aku sibuk."


Dari tempatnya duduk, Yasmin mengamati Zafier yang tengah asyik bertelepon dengan 'cintaku' itu. Perasaannya sedikit carut marut.


"Siapa?" tanya Yasmin begitu Zafier kembali duduk di sampingnya. "Kenapa harus menjauhiku hanya sekedar untuk mengangkat telepon?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa. Aku takut mengganggumu jadi aku menjauh."


Tbc