I Was Your Man

I Was Your Man
Flashback (part 2)



Keluarga Zafier bukanlah dari golongan orang kaya raya, namun juga bukan keluarga miskin. Bisa dibilang termasuk dalam kelas menengah. Mereka tinggal di komplek perumahan yang cukup sederhana. Tidak memiliki asisten rumah tangga karena ibu Zafier (Bu Yola) merasa menantunya bisa disuruh untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga.


Zafier masih menempuh pendidikan kuliahnya, akan tetapi karena ayah Zafier meninggal, dia harus bekerja sambilan menjadi pelayan di sebuah cafe. Apalagi dia telah memiliki istri. Tanggungjawab untuk memberi nafkah harus dia jalankan.


Untungnya, Zafier merupakan mahasiswa yang cukup berprestasi sehingga dia banyak mendapatkan beasiswa. Jadi, dia tidak perlu memikirkan tentang urusan biaya kuliah.


"Zaf, aku ingin bicara."


Zafier hanya diam.


"Katakan yang sejujurnya, Zaf. Aku tahu. Kamu semalam minum bersama Sam, kan?"


Tangan Zafier yang tengah mengancingkan kemeja terhenti seketika. "Bagaimana kau tahu?"


"Itu tidak penting." Yasmin mengendus. "Jadi itu benar. Berapa gelas yang kau minum?"


"Hanya dua gelas." Jawab Zafier enteng sambil menerusan mengancing baju.


Yasmin yang duduk di sisi tempat tidur mengepalkan tangan dan meninju pahanya sendiri. Namun, Zafier tak menghiraukan wajah kesal istrinya. Dia meraih tas kecil dan jaket.


Jadi benar kalau semalam Zafier minum bersama Sam. Dia sudah mengeluarkan isi perutnya tepat di atas tubuhku, aku yang mencucinya, lalu dia masih bisa bicara dengan santai seperti itu?


"Aku pergi dulu."


"Kamu nggak minum kopi dulu. Aku sudah membuatkan kopi untukmu." Yasmin menunjuk secangkir kopi di atas nakas.


"Tidak."


"Tunggu! Jangan pergi dulu. Aku ingin bertanya lagi?"


"Apa?"


Yasmin ragu dengan pertanyaannya sendiri. Takut akan menyinggung hati Zafier. "Apakah semalam kau juga bersama seorang wanita?"


Zafier memasang wajah kesal. Tahu maksud pertanyaan Yasmin. "Aku bukan tipe pria yang suka main perempuan, asal kau tahu saja." Lalu berjalan melintasi Yasmin.


Zafier pergi meninggalkan rumah dengan sepeda motornya. Yasmin yang duduk termenung di dekat jendela melihat kepergian Zafier dari celah tirai yang sedikit dia sibakan. Tak lama, ibu datang. Mata ibu menyapu ke segala penjuru kamar.


"Mana Zafier?"


" Baru saja pergi kerja, Bu."


"Kamu ini bagaimana menjadi istri? Sudah tahu suami sedang sakit malah dibiarkan pergi bekerja."


Yasmin sudah tidak tahan dianggap istri yang gagal mengurus suami. Dia merasa telah berusaha melayani suaminya dengan baik tapi selalu dianggap tidak becus oleh ibu mertua. Atau mungkin standar pelayanan ibu mertua yang terlalu tinggi. Intinya, kali ini Yasmin tidak kuat menahan cemoohan ibu yang dilayangkan pada dirinya. Dia pun memberanikan diri untuk membuka suara.


"Zafier tidak sakit, Bu. Semalam dia minum di bar bersama Sam."


Ibu berdecak kesal. "Kamu pintar sekali menuduh orang ya? Bahkan suamimu sendiri kamu fitnah."


"Aku tidak memfitnah. Itu memang benar, Bu. Semalam Zafier mabuk dan..."


"Kenyataannya memang seperti itu, Bu." Yasmin mulai terisak. Dia menangkupkan kedua tangan di dada karena merasa sesak di bagian sana. Tangannya gemetar ketakutan melihat ibu marah besar.


"Kamu sama saja meremehkan ibu yang sudah merawat Zafier sejak dia di dalam kandungan ibu."


Yasmin menggelang sambil menangis. "Tidak. Tidak, Bu. Aku tidak bermaksud meremehkan ibu. Aku berkata benar. Kalau ibu tidak percaya, ibu bisa tanyakan langsung pada Zafier."


"Ibu yang paling tahu sifat dan watak anak-anak ibu sendiri. Ibu yang melahirkan dan membesarkan mereka dengan susah payah. Ibu ajari Zafier dan Rey sopan santun. Ibu ajari berperilaku baik. Dan ibu juga yang mengajari mereka hingga mereka pintar dan menjadi seorang yang pekerja keras."


Yasmin melihat wajah ibu yang merah padam. Tatapan tajam sudah di tujukan padanya sejak tadi. "Tapi, kamu! Kamu malah menuduh Zafier mabuk. Dia bekerja untuk memberimu makan tapi ini balasan darimu. Istri macam apa kamu ini."


"Aku minta maaf, Bu. Aku tidak menuduh Zafier." isak Yasmin.


"Kami sudah mau menerima kamu di rumah ini, memberimu makan, dan pakaian. Kau bisa-bisanya memfitnah Zafier mabuk-mabukan. Itu hanya alasanmu saja, kan? Karena kamu tidak mau disalahkan. Kurang baik apa keluarga kami terhadapmu? Hah? Dasar kau wanita tidak tahu terima kasih."


Ibu pergi keluar kamar. Sedangkan Yasmin terus saja menangis hingga malam tiba. Dia malas untuk melakukan apapun. Semua hal yang dia lakukan selalu dianggap salah oleh ibu mertua.


Yasmin memilih tiduran di atas tempat tidur. Berusaha untuk menghubungi nomor Zafier dengan ponselnya namun selalu tidak diangkat. Akhirnya Yasmin menulis pesan, menceritakan peristiwa kemarahan ibu pada Yasmin. Dia tidak bermaksud mengadu tapi, saat ini, Yasmin membutuhkan teman untuk berbagi cerita.


Mungkin saja, Zafier bisa jadi penengah dan menjelaskan ke ibu atas kesalah pahaman ini. Begitu pikir Yasmin.


Lama Zafier tidak membalas. Yasmin menatap lekat layar ponselnya. Berharap Zafier membalas pesan yang sudah dia kirim panjang lebar dengan balasan yang bisa membuat hati Yasmin lega dan tenang. Akhirnya ada bunyi notifikasi dari ponsel Yasmin. Satu pesan masuk dari Zafier.


Senyum berkembang di bibir Yasmin, namun detik berikutnya senyum itu kembali layu ketika Yasmin membaca pesan dari Zafier yang hanya membalas :


'Sabar ya.'


Curhatan Yasmin yang dia ketik panjang lebar dengan pilihan kata yang tepat agar tidak memprovokasi siapapun hanya dibalas dengan dua kata. Sabar ya.


Yasmin masih berharap Zafier mengirim pesan lagi. Namun hingga dia terlelap tidur tak ada pesan masuk satu pun.


***


Beberapa bulan kemudian, semua penghuni rumah sudah melupakan peristiwa kemarahan paling besar ibu kepada Yasmin. Meski tidak ada yang dilakukan Zafier. Pria itu diam saja saat istrinya sendiri meminta tolong untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara ibu dan Yasmin sekaligus menyampaikan maaf.


Akhirnya Yasmin mengalah. Dia selalu menunduk saat berada dalam satu ruangan bersama ibu. Dia pun membiarkan ibu berbicara sesuka hati menjelekan harga diri Yasmin ke semua tetangga.


Hingga sampailah pada hari ketika ibu mengajak belanja Yasmin dan Zafier. Bukan tanpa alasan ibu mengajak mereka berdua. Sesungguhnya, orang yang benar-benar belanja hanyalah ibu. Zafier ikut menemani sekaligus untuk menjadi 'dompet berjalan'.


Ibu akan meminta Zafier untuk membayarkan semua belanjaannya. Sedangkan tujuan membawa Yasmin tentu saja untuk membantu membawakan barang belanjaan.


Mereka berada di toko perhiasan. Ibu sibuk berbicara dengan pelayan toko mengenai model gelang yang akan dibeli. Yasmin sendiri sejak masuk ke toko perhiasan tersebut hanya berdiri di depan etalase yang memajang sebuah kalung emas. Tidak berpindah sejengkal pun.


Zafier memilih melihat ke arah luar toko karena sejujurnya dia enggan menemani ibu belanja. Lalu matanya menangkap sosok Yasmin yang diam mematung memandangi kalung emas. Zafier menyeringai sambil bergumam sendiri.


"Kenapa aku bisa-bisanya menikah dengan gadis sepertimu?"


Tbc