
Zafier seakan tidak peduli tatapan menusuk Yasmin yang ditujukan padanya. Sekarang, dia hanya memfokuskan untuk bernafas dan mengistirahatkan ototnya sejenak. Nafas Zafier masih naik turun dan dia memegangi lutut yang terasa sangat ngilu.
Cih, kapan aku terakhir olahraga? Sejak menjadi pengawal Yasmin, aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Jangankan untuk olahraga.
"Kamu tega sekali. Kembali ke mobil dan naik ke lantai tiga mana mungkin bisa sampai tiga menit. Tahu sendiri, kan, toko ini luas. Ditambah kamu main petak umpet. Kamu sengaja membuat aku kewalahan?"
"Kamu bilang ingin minta maaf dengan tulus. Mau melakukan apapun supaya aku memaafkanmu. Baru juga permulaan sudah mengeluh."
"Permulaan apa? Jadi sejak awal aku menjadi pesuruhmu, itu tidak dihitung?"
"Kenapa? Kamu tidak terima? Ya sudah. Aku anggap maafmu tidak tulus." Ujar Yasmin memalingkan wajah.
"Iya, iya. Terserah kamu saja."
"Kalau memang mau minta maaf dengan benar, turuti apa perintahku!"
"Iya."
"Jangan ada kesalahan sedikitpun."
"Iya."
"Dan kalau kau mencintaiku, buktikan!"
Ketika wanita sedang marah padamu, jangan pernah mendebat, memprotes apalagi membentak. Lebih baik dengarkan apa yang dia katakan, lalu iya-kan saja.
Pelajaran nomor dua memahami sifat wanita yang diperoleh Zafier kali ini.
"Hukumanmu nanti setelah kita kembali ke apartemen."
Lalu Yasmin berjalan mendorong troli belanja menyusuri rak yang berjejer. Dia mengambil peralaran masak yang belum ada di dapur sembari terus berpikir.
Apa yang belum ada di dapur?
Sedangkan Zafier mengekor di belakang Yasmin. Matanya mengamati sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada orang yang mengawasi. Langkah Zafier terhenti karena Yasmin yang ada di depannya juga berhenti. Melihat Yasmin menjinjit dan mengacungkan tangan ke atas, Zafier tahu Yasmin sedang kesusahan mengambil sesuatu.
Ah, kenapa tanganku tidak sampai meraih panci itu, sih. Harusnya aku tadi pakai sepatu hak tinggi.
"Kamu mau ambil apa? Sini biar aku saja yang mengambilkan." Kata Zafier menawarkan bantuan seraya ikut mendongak ke atas.
"Panci itu." Menunjuk benda yang dimaksud.
Zafier mengambilkan panci yang ditunjuk Yasmin yang berada di rak paling atas. "Yang ini?" Yasmin mengangguk.
Tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang. Zafier dan Yasmin kompak menoleh pada seorang ibu paruh baya yang juga sedang memilih panci tak jauh dari mereka. Sepertinya maksud ibu itu berdehem sedang tidak meminta perhatian Yasmin dan Zafier melainkan suaminya yang berdiri di samping si ibu. Jelas sekali karena ibu itu terus berdehem melirik ke suaminya yang sibuk memainkan ponsel.
"Ada apa?" tanya suami ibu itu.
"Kamu itu selalu bermain ponsel di manapun seperti anak muda zaman sekarang saja. Inget umur, Ayah." Rajuk si ibu. "Tuh, lihat pasangan suami istri yang di sana." Menunjuk ke arah Zafier dan Yasmin. "Suaminya romantis dan perhatian mengambilkan barang untuk si istri. Tidak sepertimu yang cuek saat istrinya belanja."
"Mereka paling pengantin baru, wajar kalau masih hangat dan romantis. Kalau umur pernikahan mereka sudah seperti kita pasti lebih banyak bertengkar daripada akurnya. Sama seperti kita, Mama."
"Hush," Si ibu mengibaskan tangan di depan mulut si bapak. "Jangan keras-keras kalau bicara nanti mereka dengar."
"Mama yang bicaranya keras. Seperti sirine ambulance." Kata si bapak tak mau disalahkan oleh istrinya.
Ibu itu menengok perlahan ke arah Yasmin dan Zafier yang sejak tadi menonton pertengkaran kecil sepasang suami istri tingkat senior. Tersenyum lebar pada Yasmin dan Zafier. Tak enak hati. "Maaf ya, suami saya kalau bicara sering ngelantur."
"Tidak apa-apa." Yasmin membalas senyuman si ibu.
"Kalian pasti pengantin baru yang sedang membeli perabotan untuk rumah kalian ya? Saya dan suami saat masih menjadi pengantin baru seperti kalian juga sering belanja perabotan rumah tangga di sini. Ngomong-ngomong kalian pasangan suami istri yang cocok sekali. Kapan kalian menikah?"
"Mama, sudah jangan ganggu mereka."
"Kami bukan pa..." Ucapan Yasmin terpotong oleh sang ibu yang terus bertanya.
"Namamu siapa anak muda? Darimana kamu menemukan istri secantik ini? Apa kalian sudah mempunyai momongan?"
"Mama ini norak sekali." Si bapak menepuk bahu ibu agar sadar bahwa sikapnya sangat mengganggu.
Kumat lagi deh istriku ini. Batin si bapak menepuk jidat.
Yasmin mengulurkan tangan bersalaman dengan ibu dan bapak yang tak dikenal itu. "Perkenalkan aku Yasmin dan dia Zafier. Kami bukan pasangan suami istri."
"Apa?" teriak ibu dan bapak bersamaan tidak percaya pada yang barusan mereka dengar. "Kalian bukan suami istri?"
"Maksud istri saya, bukan suami istri baru." Sergah Zafier.
"Apa?" kata ibu dan bapak bersamaan lagi.
"Iya, kami bukan suami istri baru. Kami sudah menikah lima tahun." Imbuh Zafier.
"Apa?" lagi-lagi bersamaan tanpa dikomando.
"Kalian sudah menikah lima tahun?" si bapak mengulang perkataan Zafier tak percaya.
"Tapi masih romantis seperti ini?" Si ibu menambahkan pertanyaan.
Romantis dari mana, sih. Aku bahkan sangat membenci dia. Ucap Yasmin dalam hati.
Si bapak sedikit mencondongkan tubuh mendekati Zafier. Menyipitkan mata penuh selidik. "Apa rahasianya, anak muda?"
"Rahasia apa?"
"Rahasia bisa seharmonis kalian. Kau tidak minum obat kuat yang iklannya beredar di koran-koran itu, kan?"
Zafier menggeleng kuat. Apa-apaan ini bapak. Bicaranya tidak disaring sama sekali.
"Jadi meski sudah lima tahun menikah tapi rasanya masih sama ketika malam pertama ya?"
Ya ampun, bapak. Stop! Aku bahkan belum pernah menyentuh istriku sendiri. Bapak bilang seperti itu, aku kan jadi terpancing.
Secara mendadak, ibu tiba-tiba menarik daun telinga bapak hingga pria itu mengaduh. "Kamu ini ya. Kamu selalu bilang kalau aku norak saat bertemu orang tapi kamu sendiri juga sama."
"Lepaskan!" Menampik tangan istrinya. "Aku sengaja bicara seperti itu supaya nanti malam, mereka terngiang dan melakukan reka adegan malam pertama mereka."
Seketika pipi Yasmin dan Zafier memerah. Astaga bapak ini pikirannya kotor sekali.
"Kamu hanya membuat membuat malu."
"Iya, iya. Aku minta maaf, anak muda. Lupakan kata-kataku tadi. Kami pasangan suami istri yang sudah berpengalaman hanya memberi wejangan saja. Kalau ingin pernikahan kalian awet, harus saling mengerti, saling menghormati, saling komunikasi dan apalagi ya...." Bapak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memikirkan kata-kata selanjutnya.
"Ah, sudahlah. Jangan berlagak layaknya suami idaman. Seperti kamu mempraktekannya saja." Perhatian ibu perpindah pada Yasmin dan Zafier. "Aku beritahu, anak muda. Setiap pernikahan pasti memiliki masa-masa sulit. Selalu ada masalah yang menghampiri. Jangan pernah mengeluh pada masalah yang terus silih berganti. Tapi jadikan masalah itu sebagai penguji kuatnya cinta kalian. Meskipun banyak rintangan yang dihadapi, jika hingga akhir kalian tetap bersama, itulah cinta sejati."
Kali ini bapak yang tersenyum malu sambil merangkul istrinya. "Maaf ya, istriku ini terlalu banyak nonton drama percintaan. Padahal sudah tua tapi masih jiwa remaja."
"Ya, sudah kita permisi dulu. Silakan lanjutkan belanjanya!" Kata ibu sebelum berjalan melewati Yasmin dan Zafier yang membalas dengan anggukan kecil.
Baru beberapa langkah menjauh dari mereka, si bapak menengok lagi ke belakang. "Semoga nanti malam kalian tidur nyenyak, anak muda." Teriak si bapak.
Seketika pipi Yasmin kembali bersemu merah karena tahu maksud dari ucapan bapak itu.
Tbc.