
"Yasmin, ayolah nikmati saat saat seperti ini. Anggap saja kita sedang liburan. Kapan lagi kita bisa ke pulau X ini dengan gratis."
Sofia menatap muka masam Yasmin. Ternyata membawa Yasmin ke pantai tidak merubah suasana hatinya. Dia tetap memanyunkan bibir merahnya kentara sekali tidak menikmati pemandangan eksotis pantai yang bagi Sofia sudah gatal tangan dan kakinya ingin bermain ombak.
Mereka sedang duduk di kursi pantai dengan meja kecil sebagai sekat mereka.
"Apa kamu sengaja mendekatkan Leo denganku agar bisa menjilatnya?"
"Apa apaan kamu ini. Menjilat?" kata Sofia setengah berteriak. "Tentu saja tidak. Aku juga tidak akan menyangka Tuan Leo akan menyambut kita dengan cara seperti ini."
"Kau bilang Leo tidak akan ikut campur dalam proses syuting ini." Yasmin protes.
Sofia terkekeh. "Tuan Leo tidak akan langsung jatuh miskin kalau hanya sekedar memberikan ini semua, kan?" maksud Sofia yang bercanda ditanggapi oleh Yasmin serius.
"Tuh, kan. Kamu memang menjodohkanku dengan Leo mesum itu. Itu sama saja kamu menjualku."
"Bukan. Bukan begitu, Yasmin sayang. Aku juga tidak menyangka akan diperlakukan seperti anak raja. Tapi kita tidak bisa menolak kemurahan hati Tuan Leo, kan?"
"Kenapa tidak bisa?"
Belum sempat Sofia menjawab, sebuah bola voli menggelinding mengenai ujung kaki Sofia.
"Hei, bisa lempar bolanya, Nona." Kata seorang laki-laki bertelanjang dada hanya memakai celana pendek memperlihatkan badan atletisnya. Tak jauh di belakang pria itu sekelompok orang juga menatap Sofia menunggu bola itu kembali.
Sofia melepas kacamata hitamnya lalu mengambil bola. "Aku dapat bayaran apa jika mengembalikan bola ini?"
"Kau bisa ikut main dengan kami. Kebetulan kami kurang satu pemain."
"Deal." Kata Sofia dengan senyum merekah di bibirnya. Menoleh pada Yasmin. Memindahkan topi lebar dari kepalanya ke kepala Yasmin. "Aku pergi dulu, Yasmin sayang. Bye."
Yasmin hanya menatap Sofia yang perlahan menjauh. Kemudian, dia sadar ada Zafier yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu sudah memakai kemeja lengan pendek berbahan rayon. Sebenarnya Yasmin malas untuk berbicara dengan Zafier, tapi daripada tidak ada orang yang bisa diajak berbincang Yasmin pun melambaikan tangan menyuruh Zafier duduk di kursi yang tadi ditempati Sofia.
"Jadi, ini pekerjaanmu sekarang? Menjadi anak buah dari bos mesum? Hah. Ibu yang selalu membanggakanmu itu pasti syok berat mengetahui pekerjaan asli anak sulungnya. Lihat saja dirimu. Tidak ada bedanya dengan preman. Kau pikir keren?"
Zafier tidak menampakan tanda-tanda marah atau kesal meskipun perkataan Yasmin sungguh menyakitkan hati. Dia menatap tajam Yasmin. "Begini juga aku suamimu."
"Suami?" Yasmin tergelak. "Aku koresi ya. Bukan suami. Tapi man-tan sua-mi." Kata Yasmin penuh tekanan saat menyebut mantan suami.
"Kita belum benar-benar bercerai, ingat itu."
"Iya memang. Tapi sebentar lagi perceraian akan terjadi diantara kita. Kau lihat sendiri bagaimana Leo memperlakukanku, kan?" melambaikan tangan kirinya sengaja untuk mengingatkan Zafier tentang kejadian saat Leo mencium punggung tangan itu. "Dia tampan, kaya raya, dan romantis terhadap pasangannya. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang wanita bisa dicintai oleh pria seperti Leo."
Yasmin bukanlah tipe wanita matre tapi dia baru saja menemukan hiburan baru. Ya, Yasmin merasa senang memancing emosi Zafier.
Lihat! Lihatlah wajah merah padam Zafier..Haha.. Sudah seperti kepiting rebus saat aku membanggakan Leo dihadapannya. Dia pasti cemburu.
"Kau tahu Tuan Leo sudah menikah, kan?"
"Aku tahu. Lalu kenapa? Aku bahkan rela meski hanya sebagai wanita simpanannya."
Aaaaa... Kenapa aku bilang seperti itu sih. Dasar mulut. Tidak bisa dikontrol. Aku justru akan dipandang wanita murahan oleh Zafier. Sial.
JLEP!!!
Ingin rasanya Zafier menyumpal mulutnya dengan kain lap atau dijahit sekalian agar tidak berkata seenaknya saja.
Dia akan semakin benci padaku. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah menyebutnya wanita murahan. Zafief mengusap wajah frustasinya.
"Kamu pikir dirimu siapa? Kalau aku sudah menjadi pendamping Leo, kamu bagaikan butiran pasir ini." Yasmin menunjuk kakinya yang menendang-nendang pasir.
Zafier ingin segera beranjak dari tempat dia duduk ketimbang masalah semakin ruyam. Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Apakah kamu sekarang bahagia tanpaku?"
Yasmin tergelak. "Kamu ini buta ya? Atau rabun? Sampai mengucap pertanyaan bodoh seperti itu?"
Zafier sudah berdiri. Sudah tahu maksud jawaban Yasmin. Namun dia ingin kejelasan langsung dari mulut Yasmin. "Jawab pertanyaan dariku. Aku serius."
"Kamu lihat sendiri, aku sekarang seperti apa. Aku bisa mengejar mimpiku menjadi model, bisa keliling dunia, membeli apartemen dan sekarang, aku menjadi wanita yang digilai Tuan Leo. Alasan apa yang membuatku tidak bahagia? Ya, tentu saja aku bahagia tanpa ada dirimu."
Zafier merasa ada petir menyambar di siang hari. Hatinya teriris tapi sadar diri bahwa yang membuat gadis di depannya bertindak seperti ini adalah karena perbuatannya sendiri. Dia pun pergi meninggalkan Yasmin seorang diri. Masuk ke dalam mobil. Mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.
BRAKK!!!
Zafier memukul kemudi mobil dengan cukup keras hingga tangannya berdarah. Kemudian bersandar di kursi.
*Kenapa aku tadi tidak langsung saja meminta maaf. Ketika kesempatan bertemu dengan Yasmin datang, aku malah menyia-nyiakan kesempatan. Andai tadi aku bilang minta maaf, pasti permasalahan diantara aku dan Yasmin akan selesai. Meskipun dia akan tetap menggugat cerai, meskipun dia akan tetap membenciku seumur hidupnya, aku akan menerimanya dengan lapang dada setidaknya aku sudah mengutarakan isi hatiku selama ini. Aku malah menyebutnya wanita murahan. Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali kau, Zafier.
Apa masih ada kesempatan kedua untuk aku mengucapkan maaf. Aku ingin dia tahu bahwa aku sungguh sangat menyesal atas perilaku aku terhadap dia dulu. Aku ingin meminta maaf di waktu yang tepat. Agar dia tahu ketulusan permintaan maafku.
Argh. Dia bahkan semakin membenciku. Aku harus bagaimana*?
Sementara itu, Yasmin yang duduk sendiri sepeninggalan Zafier menatap laut. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum getir. Sekelebat bayang masa lalu terlintas di benaknya. Tanpa bisa menahan, Yasmin mulai menitikan air mata. Bulir demi bulir membasahi pipi.
Oh, Yasmin, kamu belum bisa move on ternyata.
"Sweetheart, are you oke?"
Yasmin mendongak untuk melihat pria yang sudah berdiri di sampingnya.
Tbc
**Hai readers sayang....
Udah episode ke empat nih, gimana seru nggak?
Kalau kalian suka sama novel ini jangan lupa jadiin novel I was Your Man favorit kalian dan bagi yang punya koin boleh dong disumbangin ke novel ini heheh...
Atau sekedar pencet love aja udah bikin author seeennneenngg banget.
Happy reading, guys**!