I Was Your Man

I Was Your Man
Alasan



Hingga mereka berada di dalam mobil bersama Sofia, tak ada yang berani berbicara atau bahkan bertatap muka sejak kejadian tadi pagi. Keduanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Zafier tentu saja sebagai pihak yang diuntungkan wajahnya berseri-seri bak bunga di musim semi. Kebalikan dari Zafier, Yasmin sedang berusaha melupakan peristiwa tadi. Dia jadi harus menanggung malu akibat kecerobohannya sendiri.


Waktu aku yang melihat Zafier telanjang aku yang malu, giliran aku yang tidak memakai penutup badan tetap aku yang malu. Huh, dia bahkan tersenyum bahagia melihatku tadi. Tidak adil.


Aaaa. Tanpa sadar Yasmin berteriak dan mengacak-acak rambutnya. Sofia yang duduk di samping Yasmin mengeryit melihat teriakan Yasmin.


"Yasmin, kamu kenapa? Kesurupan?" tanya Sofia panik. Dia beringsut mundur, takut kerasukan setan juga.


"Tidak." Kata Yasmin setelah mengatur napas. "Aku tidak apa-apa."


"Kalau kamu terbebani dengan jadwal yang aku buat bilang saja. Aku akan mengatur agar jadwalmu tidak terlalu padat. Daripada harus melihatmu kesurupan. Untung kesurupannya di dalam mobil. Coba kalau kamu kesurupan sedang berjalan di catwalk, bisa-bisa kamu akan menjadi penghuni baru rumah sakit jiwa."


"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Lagian, siapa yang kesurupan? Aku waras." Protes Yasmin dengan nada suara yang membuat semua orang di dalam mobil menutup telinga.


"Iya, iya kamu waras."


Mobil sampai di tempat tujuan. Di sebuah gedung yang menjadi kantor redaksi majalah V. Majalah yang menerbitkan seputaran gaya hidup dan mode untuk kalangan atas. Tidak sembarangan orang bisa menjadi model sampul majalah V. Artis papan atas, penyanyi terkenal bahkan orang yang memiliki keturunan bangsawan, siapapun tokoh publik yang dianggap menjadi panutan fashion pernah menghiasi sampul majalah V ini.


Dan Yasmin mendapatkan kesempatan emas untuk tampil di sampul majalah V edisi bulan depan setelah terdengar kabar dirinya menjadi duta merek parfum S. Parfum produksi perusahaan Tuan Leo. Benar kata Sofia, sejak mendapat tawaran menjadi model iklan parfum S, sekarang Yasmin kebanjiran pemotretan dan wawancara di berbagai media.


"Hai, Sofia." Sapa seorang pria gembul dengan nada kemayu. Mereka bercipika-cipiki dan menanyakan kabar layaknya teman yang sudah lama tak bertemu.


"Hai, Ben. Senang bisa didandani olehmu lagi." Kata Yasmin saat giliran dia yang bercipika-cipiki.


Ben tertawa selesai menyapa ke wanita itu. "Aku yang harusnya senang bisa bekerja sama lagi dengan kalian. Oh ya, ngomong-ngomong, Yasmin, aura kecantikanmu jadi lebih terpancar ya? Ini pasti karena efek liburan."


"Ah, liburan apa?" ucap Yasmin merendah. "Kita kemarin kerja bukan liburan."


"Oh, bukan efek liburan ya? Biar kutebak, kalau begitu pasti karena sudah menemukan calon suami, iya, kan? Makanya wajahmu sejak tadi bersemu merah." Ben tersenyum meledek sambil melirik Zafier.


Mata Yasmin melotot, dia tahu wajahku memerah. Aku sedang menahan malu karena telah mengalami kejadiaan naas. Bukan sedang kasmaran. Lagipula dia bukan calon suamiku. Suami sungguhan malah.


"Perkenalkan aku Ben, penata rias di kantor ini." Ben mengulurkan tangan tanda perkenalan pada Zafier. "Boleh aku tahu namamu?"


Suara Ben yang sedikit lemah gemulai bagaikan nada bicara perempuan, membuat Zafier agak risih tapi dia tetap menjabat tangan Ben. "Aku Zafier."


"Kamu calon suaminya Yasmin?"


"Aku hanya bodyguard."


Rahang bawah Ben turun begitu mendengar kata 'bodyguard'. Dia melongo beberapa detik tapi langsung menutupnya menggunakan kedua tangan. Mirip sekali seperti perempuan cara dia menutup mulut karena saking terkejut. "Aku pikir kamu calon suami Yasmin. Maaf ya? Habis kalian cocok sih."


Kata-kata Yasmin bagaikan duri yang menamcap langsung ke ulu hati bagi Zafier. Dia hanya menunduk dalam. Segitu bencikah Yasmin padanya?


"Benar juga. Ditambah sebentar lagi wajah cantikmu akan menghiasi layar televisi dan sosial media sebagai model iklan. Kamu akan menjadi seorang bintang, Yasmin. Satu langkah lagi mimpimu akan terwujud. Penggemarmu akan bertambah dan... Ya, kau benar. Kau butuh seorang bodyguard."


"Oke, Ben, bagaimana kalau kita mulai saja merias Yasmin." Usul Sofia yang mulai bosan mendengar celoteh Ben.


"Baik, baik." Ben menarik kursi rias di sampingnya dan menepuk-nepuk tempat duduk. "Silahkan, sang bintang kita, Yasmin Malika." Ucap Ben penuh sumringah.


Menunggu Yasmin yang sedang dirias, Zafier memilih duduk di sofa yang berada tepat di belakang meja rias. Bola mata Zafier lekat memandangi wajah Yasmin dari bayangan cermin.


Dia bisa tertawa, berbincang, dan bercanda dengan sangat riang begitu dengan orang lain. Akan tetapi sepasang mata itu akan menajam jika melihatku. Aku masih bisa melihat kebencian di dalam tatapan tajam itu. Tapi kenapa kau seakan memberi aku kesempatanuntuk lebih dekat denganmu? Apa yang kau mau dariku?


Karena merasa bosan, Zafier tertidur di sofa selama pemotretan berlangsung. Sebagian orang yang berlalu lalang tidak peduli akan keberadaan Zafier di sana. Sebagian lagi ada yang hendak membangunkan tapi dicegah oleh Yasmin.


Berakhirlah proses pemotretan di kantor redaksi majalah V. Waktunya melanjutkan jadwal Yasmin yang sangat padat. Yasmin mengguncangkan badan Zafier yang masih terlelap. Pria itu tidak membuka mata sedikit pun.


Terlintas sebuah inisiatif di benak Yasmin agar Zafier segera bangun. Dia meneguk air mineral hingga tersisa setengah botol lalu menyiramkannya ke wajah Zafier.


Yasmin tertawa lepas melihat ekspresi terbangun Zafier. Pria itu mengusap wajah dan rambutnya yang basah. Menampilkan wajah yang kurang senang.


"Apa-apaan kau ini." Rajuk Zafier.


Yasmin tidak menghiraukan tatapan penuh marah yang ditunjukan padanya, dia tetap saja tertawa hingga bola matanya yang indah mengeluarkan bulir bening di ujung mata.


"Kau ini enak sekali tidur di jam seperti ini. Ayo pergi cari makan. Aku lapar."


Mereka makan berdua di restoran seberang kantor redaksi. Hanya berdua. Yasmin dan Zafier. Entah kemana hilangnya Sofia. Sejak Zafier tertidur dia tidak melihat batang hidung Sofia lagi.


"Seharusnya selama aku sedang di protet, kamu cari makanan untukku. Biar kalau selesai pemotretan aku bisa sambil makan di mobil. Jadinya aku bisa menghemat waktu, tidak perlu antri memesan makanan. Bukan malah enak-enakan tidur." Yasmin mengeluh atas kinerja Zafier sebagai pengawal. Dia sedang mengunyah dengan lahap.


Sementara Zafier merasa tidak nafsu makan. Dia menatap piring di depannya dengan pandangan kosong. "Boleh tanya sesuatu?"


"Apa?" tanya Yasmin yang sedang menguyah.


Zafier menjatuhkan sendok dan garpu ke piring dengan keras, menempelkan punggungnya ke sandaran kursi. "Katakan sebenarnya, apa alasanmu menjadikan aku pengawalmu?"


Tbc.