I Was Your Man

I Was Your Man
Maaf



"Katakan sebenarnya, apa alasanmu menjadikan aku pengawalmu?"


Pertanyaan itu menggantung di udara, sebab Yasmin tetap santai melahap makanannya. Dia tidak menghiraukan pertanyaan yang terlontar dari mulut Zafier. Bukan. Sesungguhnya dia tidak tahu harus menjawab apa.


Tidak mungkin kan aku bilang, aku mau membalas amarah, sakit hati dan sedih atas perlakuanmu dan keluargamu terhadapku. Aku ingin kalian juga merasakan apa yang aku rasakan. Haha... Tidak. Aku tidak akan sejahat itu. Karena aku tidak bisa.


"Jawab!"


"Apa perlunya alasan itu?" Yasmin mengangkat bahu, meraih gelas dan meminumnya. Untung dia diselamatkan oleh makanan yang sudah tandas di waktu yang tepat. Jadi dia bisa segera mengakhiri makan siangnya, berdiri dari posisi duduk lalu berjalan meninggalkan Zafier. "Cepat habiskan makananmu! Sofia sudah menunggu kita."


"Kau masih mengharapkan kau dapat kembali lagi kepadaku. Bukan begitu?"


Langkah Yasmin terhenti, membalikan badan dan kembali ke kursi dimana dia duduk tadi. "Apa kamu bilang?"


"Permainan apa yang sedang kau buat? Kau sengaja meminta pada Tuan Leo agar aku menjadi pengawalmu. Ini alasanmu saja ingin dekat denganku. Kamu sebenarnya berharap bisa bersamaku lagi."


Yasmin tersenyum sinis sambil menyibakan ujung rambut. "Percaya diri sekali kamu ini. Siapa juga yang memilihmu? Aku hanya minta Leo memberiku seorang pengawal. Lalu dia memilihmu." Terpaksa Yasmin harus berbohog demi harga diri.


"Jika Tuan Leo menunjuk orang lain untuk menjadi pengawalmu, kamu masih mau? Mengizinkan laki-laki lain yang tidak kau kenal untuk tinggal dalam satu apartemen denganmu? Katakan apakah selama kau pergi, kau pernah jatuh hati kepada pria lain?"


Yasmin diam membisu tidak bisa menjawab. Dia hanya membalas menatap Zafier.


"Jawab!" ucap Zafier pelan namun tegas. "Aku anggap diammu sebagai jawaban tidak." Zafier meraih tangan Yasmin yang ada di atas meja. Ini kesempatan Zafier untuk meminta maaf. "Aku tidak peduli kamu masih membenciku atau tidak. Aku hanya ingin me..."


"Yasmin! Zafier!" Teriakan Sofia memotong ucapan Zafier. Hingga Yasmin terperanjat dan segera melepaskan tangan dari genggaman Zafier yang mendengus kesal.


Padahal momen sudah sangat tepat sekali tapi kenapa Sofia datang dan memotong pembicaraanku?! Sekarang aku kehilangan kesempatan berhargaku.


"Kalian lama sekali. Ayo, kita harus pergi sekarang. Kalau tidak, kita bisa terlambat." Kata Sofia berkacak pinggang bak seorang ibu yang pagi hari membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah.


"Iya aku tahu, Sofia." Yasmin berjalan melintasi Sofia menuju parkiran restoran.


"Ayo, Zaf." Bujuk Sofia dengan menepuk bahu Zafier.


Tengah malam, Zafier dan Yasmin tiba di apartemen setelah Yasmin selesai melakukan peragaan busana. Yasmin sudah ambruk terlebih dahulu di sofa depan televisi, sementara Zafier telah sedikit paham kebiasaan Yasmin. Dia pergi ke dapur untuk mengambil air putih hangat tanpa diperintah. Sekarang dia benar-benar mengukur suhu air dengan termometer. Lalu memberikan gelas kepada Yasmin.


"Aku minta maaf." Ucap Zafier tiba-tiba, membuat Yasmin menghentikan tangan yang hendak meneguk minumannya. Zafier tidak peduli apakah ini momen yang tepat atau tidak. Yang pasti semakin lama dia menunda untuk meminta maaf, masalah akan semakin bertambah besar.


"Minta maaf untuk apa?" Yasmin meneguk air di gelas lalu meletakannya di meja. Dia tetap memandang lurus ke depan meski Zafier kini duduk di samping sembari menatap intens Yasmin.


"Aku minta maaf atas kesalahanku padamu dulu. Aku menyesal telah mengabaikanmu."


Huft. Zafier bernapas lega. Semudah itu? Kalau tahu Yasmin bukan tipe orang pendendam, sejak awal dia akan mengatakan ini. Senyum merekah di bibir Zafier dengan tatapan mata nanar.


"Jangan ucapkan maaf, maaf dan maaf. Lagian kamu meminta maaf tapi tidak tahu kesalahanmu di mana."


Deg. Wajah Zafier seketika berubah pias. Senyum di bibirnya redup hanya dalam hitungan detik.


"Aku tidak mau mendengarkan kamu mengungkit masa laluku. Sekarang aku sudah bahagia tanpa ada dirimu." Yasmin berkata dengan memberikan tatapan tajam. Dia berdiri hendak pergi ke kamar. Namun, tangannya dicegah oleh Zafier dan menarik Yasmin untuk duduk kembali.


"Yasmin, mari kita selesaikan masalah kita dan meluruskan kesalah pahaman ini."


"Tinggal kamu tanda tangani saja surat gugatan cerai dariku, lalu semua masalah kita selesai." Teriak Yasmin.


"Yasmin..." ucap Zafier lirih. Melihat mata gadis yang dicintai mulai berkaca-kaca membuat hati Zafier bergetar. Ingin sekali dia mengusap air mata yang mulai membasahi pipi itu. "Coba kita menata lagi dari awal. Kamu bilang aku tidak tahu kesalahanku di mana. Katakan salahku di mana? Supaya aku bisa memperbaiki kesalahanku."


"Kesalahanmu ialah kamu menikahiku bukan atas nama cinta, kalau sejak awal kamu tidak mencintaiku kenapa kamu harus menikah denganku. Kenapa kau tidak menikah saja dengan wanita yang kamu cintai? wanita yang bisa dibanggakan ibumu? wanita yang tidak menjadi beban keluargamu." Derai air mata terus mengalir dari ujung mata Yasmin.


Zafier mengarahkan tangan ke pipi Yasmin. Bermaksud ingin mengusap air mata kesedihan istrinya. Tapi tangan Zafier ditampik keras oleh Yasmin.


"Aku sudah berjanji kepada mendiang ayahku untuk menikah dan menjagamu. Ayahku menitipkanmu kepadaku, Yasmin."


"Lalu kenapa kamu tidak menepati janjimu?" tanpa bisa dikendalikan, Yasmin berteriak keras di depan telinga Zafier. Teriakan Yasmin pasti dapat membuat gendang telinga pecah, tapi Zafier nampak tak bergeming. Dia menunduk dalam. "Jika memang kamu tidak mampu menepati janji ayahmu, harusnya dulu kamu tidak perlu datang kepadaku dan menikah denganku. Kenapa tidak kau biarkan aku hidup sendirian kalau memang kau tidak cinta? Toh ayahmu juga sudah tidak ada."


"Iya, kau benar." Zafier mengakui. "Semua memang salahku."


"Ketika kau mengikat janji suci di pernikahan kita, aku berpikir..." Yasmin mengusap pipinya yang basah menggunakan pungung tangan. "Aku berpikir aku telah mendapatkan keluarga baru, kehidupan baru bersama orang yang sayang padaku. Nyatanya, itu semua semu belaka. Aku sadar, selama aku tinggal besamamu aku yang berharap lebih darimu. Untuk apa kau nikahi aku, kalau aku tidak mendapatkan cinta darimu. Ini lebih menyakitkan daripada hanya sekedar kau abaikan."


Berkali-kali Yasmin menahan untuk tidak menangis namun tetap saja bulir bening itu tetap meluncur dari pelupuk mata. Dia berlari ke arah kamar.


Sekali lagi Zafier berhasil mencengkram lengannya. Membalikan badan Yasmin agar menghadap Zafier. Namun gadis itu menunduk memilih menatap lantai sambil menangis. Tak tega melihat Yasmin terisak-isak, Zafier memeluk Yasmin. Tangannya yang kekar mengelus lembut rambut lurus Yasmin. Meski di dalam pelukan Yasmin memberontak, Zafier tetap tak mengendurkan pelukannya.


"Lepas! Lepaskan aku!" Yasmin memukul-mukul dada Zafier. Mendorong tubuh atletis itu supaya menjauh.


Akan tetapi Zafier masih di tempat. Seolah pukulan tangan Yasmin tak berarti apa-apa. Malah Zafier semakin mengeratkan dekapan. "Aku mengerti sekarang. Kamu sengaja ingin menjadikan aku 'mainanmu' yang bisa kamu mainkan semaumu. Lakukanlah! Jika itu membuatmu senang. Aku akan menerima, memang aku yang salah dan aku pantas mendapatkan hukuman apapun darimu."


Perlahan Zafier melepaskan dekapan ketika Yasmin juga diam, tidak melakukan perlawanan. Dia menangkupkan kedua tangan di pipi Yasmin. "Asal kau tahu, aku sangat mencintaimu."


Dengan sekuat tenaga, Yasmin mendorong tubuh Zafier hingga mundur beberapa langkah. "Kamu pikir aku akan percaya padamu lagi?"


Tbc