I Was Your Man

I Was Your Man
Hadiah



Semua orang tampak menikmati pesta yang diadakan oleh Leo yang sebenarnya ditujukan untuk Yasmin. Namun, gadis itu tidak sedikit pun tertarik pada pesta malam ini. Dia memilih berduduk menatap dasar kolam renang. Berbeda dengan Sofia yang sangat menikmati pesta. Makan sangat lahap di samping Yasmin.


Pesta memang diadakan di vila. Tepatnya di taman dengan kolam renang di tengahnya.


"Mau?" Sofia menawarkan kepotong kue yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Yasmin. "Ya, sudah." Sofia melahap potongan kue ke dalam mulutnya.


"Boleh saya duduk di sini?"


Sofia menoleh, senyum berkembang di bibirnya. "Tentu saja, Tuan Leo. Anda kan yang mengadakan pesta ini. Anda bebas mau duduk di mana saja."


Tapi Leo tidak langsung duduk melainkan memasang mimik muka aneh. Butuh sedikit waktu untuk Sofia mengerti kemauan Leo. Setelah dia tahu maksud dari tatapan Leo, Sofia pergi meninggalkan Yasmin sendiri bersama Leo. Dia sempat menoleh ke arah Yasmin saat beranjak menjauh.


Leo duduk di samping Yasmin. "Kau suka dengan pestanya, Sweetheart?"


"Menurutmu?"


"Apakah kau ingin tahu kenapa aku mengadakan pesta ini?"


"Tidak."


"Aku ingin membahagiakanmu, Sweetheart."


"Lalu, apakah sekarang aku terlihat bahagia? Lagipula jangan panggil aku sweetheart. Aku bukan siapa siapamu." Kata Yasmin ketus.


Tuan Leo tergelak. "Jelas kamu ini sweetheart milikku. Aku sangat mengagumi dan ingin memilikimu." Ucap Leo berterus terang.


Ingin rasanya Yasmin muntah mendengar rayuan Leo. Tapi dia menahannya dan bersikap biasa saja. "Panggil saja Yasmin. Seperti yang lain. Aku lebih nyaman dengan panggilan itu."


"Baiklah. Aku akan memanggil dengan namamu kalau kamu lebih suka. Tapi bolehkah aku membuatmu bahagia?"


"Tidak, terima kasih. Aku sudah bahagia."


Leo tergelak lagi. Sungguh kupu-kupu yang sukar ditangkap.


Cih, apanya yang lucu?. Batin Yasmin.


"Maksudku, aku ingin kamu memiliki kebahagiaan dariku. Kamu suka dengan pestanya, kan?"


"Tidak." Jawab Yasmin cepat.


"Kalau begitu apa yang membuatmu senang. Katakan pada tuan leo ini." Kata Leo menunjuk dadanya. "Akan aku berikan apapun yang kamu mau."


Yasmin hanya mengangkat bahu.


"Aku bahkan sudah membelikan apartemen mewah untukmu."


Kali ini Yasmin yang tergelak. Mengibaskan tangan. "Tidak usah repot-repot. Aku lebih suka tinggal di apartemenku yang nyaman."


"Tapi aku ingin menunjukan kepadamu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku ingin membahagiakanmu. Apa yang kamu mau akan aku berikan. Tolong jangan tolak pemberian dariku."


Leo meraih tangan Yasmin yang seketika langsung ditepis oleh Yasmin.


"Aku bukan wanita murahan yang akan luluh dengan barang mewah yang anda berikan. Dan pula, aku tidak suka diriku menjadi perusak rumah tangga orang."


Leo tidak bisa menjawab. Dia memang sudah memiliki istri dan anak. Tapi dia tidak mencintai istrinya. Pernikahan mereka karena paksaan dari orang tua dan juga karena Leo ingin menguasai harta sang istri.


"Lalu, aku harus bagaimana? Apakah kamu ingin aku menceraikan istriku? Begitu maumu?"


Yasmin mengerutkan dahi. Bingung harus menjawab apa. Lalu terucaplah, "Kalau anda berani."


Leo tertawa lantang. "Kamu sedang menantangku, Sweetheart."


"Sudah kubilang jangan panggil aku sweetheart." Kata Yasmin jengkel. "Kalau kau benar-benar bercerai dan menikah denganku, aku akan membenci diriku sendiri karena aku merusak kebahagiaan istri dan anakmu."


"Kau hanya butuh waktu untuk menerimaku. Aku yakin lama kelamaan kamu yang akan mengejarku. Tidak pernah ada wanita yang menolakku."


"Iya. Dan aku yang akan jadi orang pertama yang menolakmu." Yasmin sudah muak dengan tingkah Leo. Dia hendak berdiri meninggalkan pesta, tapi tangan Leo cepat mencengkram tangan Yasmin. Sehingga dia tidak bisa kabur.


"Mau kemana? Aku belum selesai berbicara denganmu. Duduk di sini." Leo menepuk kursi di sampingnya.


"Biar aku jelaskan. Aku menikah dengan istriku, Irene, karena keterpaksaan. Aku tidak mencintainya. Dan kamu mengira akan menyakiti hati Irene jika aku mengganti posisi Irene denganmu? Kamu sungguh wanita berhati mulia." Leo mengusap pipi Yasmin. "Irene wanita kaya raya dan cantik. Dia pasti bisa mencari pria lain. Dia akan mudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Tapi aku? Aku hanya bahagia jika bersamamu, Yasmin." Kini tangan Leo menuntun tangan Yasmin untuk menyentuh dada bidang milik Tuan Leo. "Di sini. Di hati ini hanya ada dirimu."


Baik Yasmin maupun Leo tidak ada yang tahu ada sepasang bola mata yang mengamati mereka sejak tadi. Hati Zafier berdesis melihat kedekatan Leo dengan Yasmin. Dia merebut gelas yang berisi wine yang tadinya akan diminum Gino.


"Hei, itu minumanku!" protes Gino. "Tumben sekali kamu minum."


Zafier tidak menggubris. Dia menyodorkan gelas kosong di tangannya. "Isi lagi!" perintah Zafier pada Gino.


Gino tersenyum puas sambil menuangkan wine ke gelas.


Di kejauhan, Yasmin menarik tangannya untuk lepas dari cengkraman Leo. "Aku bukan wanita murahan seperti yang kau kira."


"Iya aku tahu. Kamu memang bukan wanita murahan. Kamu adalah kupu-kupu yang sulit ditangkap."


Apa lagi ini. Kupu-kupu? Mengigau ya, ini orang.


"Kamu pikir, aku percaya dengan ceritamu."


Leo mengangkat bahu. "Kamu bisa tanyakan langsung pada Zafier jika tidak percaya. Dia orang kepercayaanku. Dia tahu segala dalam diriku." Meraih tangan Yasmin lagi. "Aku memberimu waktu untuk menerimaku, Yasmin. Aku akan menunggumu datang padaku. Boleh aku minta sesuatu darimu?"


Ucapan Leo terdengar tulus. Sorot mata Leo pun menggambarkan bahwa pria itu sedang bersungguh-sungguh.


"Apa?"


"Jangan menolak hadiah dariku!"


"Hadiah? Hadiah apa?"


"Apartemen mewah yang sudah aku belikan untukmu."


Yasmin tersenyum kecut. "Kalau kau benar-benar mencintai aku, harusnya kau tahu apa yang benar-benar aku butuhkan. Ngomong-ngomong, aku tidak tertarik dengan hadiah apartemen."


"Tolong jangan ditolak" Leo memelas. "Lalu, katakan! Apa yang kamu butuhkan? Aku akan memberikannya untukmu."


"Boleh aku tukar hadiah apartemen dengan hadiah yang lain?" Yasmin mengangkat alis.


"Tentu. Tentu saja. Apa yang kamu? Cepat katakanlah!"


"Aku mau...." Yasmin sedikit mengerutkan dahi. Berpikir sejenak.


"Mau apa? Cepat katakan!"


"Aku mau..."


"Iya. Kamu mau..."


"Aku mau menukar hadiah apartemen dengan..."


"Jangan buat aku menunggu! Cepat katakan apa yang kamu mau, Yasmin."


"Seorang bodyguard." Ucap Yasmin mantap.


"Bodyguard?"


"He-eh."


"Aku seorang public figure, aku punya banyak fans dan juga haters. Apalagi setelah kamu menyatakan cinta padaku, pasti akan banyak orang membenciku. Dan bagaimana kalau istrimu tahu perasaanmu padaku? Dia bisa saja membunuhku. Maka dari itu aku mau pengawal. Harusnya kamu mengutamakan keselamatanku jika benar cinta padaku."


"Ba-baik. Aku akan mencari orang untuk menjadi pengawalmu."


"Tidak perlu kamu mencari orang. Bukankah anak buahmu ada puluhan jumlahnya?"


"Oh ya. Kamu mau aku memberikan satu anak buahku untukmu?"


"Aku mau anak buahmu yang paling kau percaya untuk melakukan tugas berat ini." Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Yasmin. "Aku mau Zafier."


Tbc