I Was Your Man

I Was Your Man
Hutang



"Siapa dia, Ayah?" Zafier muda menunjuk gadis yang tengah bersembunyi di balik punggung ayahnya. Gadis itu balik menatapnya. Tampak malu-malu.


"Ayah sudah pulang? Ayo kita akan mal..." Ibu Yola yang tiba-tiba muncul dari dapur sambil mengelap tangan menggunakan celemek. Tertegun melihat suaminya membawa seorang gadis muda. Tatapannya pun sama seperti Zafier. Tatapan penuh tanda tanya. "Siapa dia?"


"Kenalkan, dia Yasmin". Ayah Zafier mendorong lembut punggung Yasmin untuk keluar dari persembunyiaannya. "Yasmin, ini putra sulung kami, namanya Zafier. Mulai sekarang kalian adalah saudara."


"Apa yang kamu maksud saudara?" tanda sadar ibu Yola setengah berteriak. Dia menarik kemeja suaminya, membawanya ke ruangan lain.


"Sayang, apa-apaan ini?"


"Kau bilang apa tadi? Apa yang kau maksud Zafier dan gadis itu saudara? Apa selama ini kau bermain api di belakangku dan membawa anak hasil perselingkuhanmu ke rumah ini". Kata ibu Yola mulai naik pitam.


"Sayang, kau ini ada-ada saja." Merangkul pundak istrinya tapi langsung ditepis keras. "Aku tidak pernah berkhianat padamu. Aku mohon terima dia di rumah ini. Terima dia sebagai anak kita. Seperti Zafier dan juga Rey."


"Jangan berbohong!"


"Sayang, dia anak sahabat lamaku. Ayah dan ibunya teman kuliahku dulu. Mereka mengalami kecelakaan satu pekan yang lalu. Dan sekarang anak itu yatim piatu. Dia sudah tidak siapa-siapa lagi. Sebelum ayahnya pergi, dia menitipkan Yasmin kepadaku."


"Memangnya dia tidak punya paman, bibi atau kakek, begitu? Kau pikir rumah kita tempat menampungan anak yatim piatu?" Ibu Yola mengintrupsi sambil bersedekap.


Ayah Zafier menekan telunjuk ke bibir. "Jangan keras-keras, nanti anak-anak dengar. Sayang, asal kau tahu. Aku berhutang budi banyak pada orang tua Yasmin. Dahulu, sewaktu kami masih kuliah, ayah Yasmin sering membantu membiayai uang kuliahku. Ibunya juga. Ibunya dulu sering memberikan makanan untukku. Aku dulu hanyalah anak seorang buruh yang bermimpi bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan lebih layak. Kalau tidak ada ayah dan ibu Yasmin, aku mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan seperti sekarang ini. Tidak mungkin aku bisa memberikanmu rumah dan mobil."


Ibu Yola hanya diam menggigit bibir bawah.


"Kamu pikir, aku berbohong. Kamu bisa cek akta kelahiran Yasmin. Dia bukan anak hasil perselingkuhan. Dia anak kandung sahabatku. Dan lagi, aku memang tidak pernah berselingkuh."


"Tapi aku tidak sudi membesarkan anak yang bukan darah dagingku sendiri. Kau kan bisa membawanya ke panti asuhan."


"Sayang, aku mohon. Terima dia sebagai anakmu sendiri. Merawat Yasmin hingga dia dewasa adalah caraku membayar hutangku pada orang tua Yasmin." Ayah Zafier benar-benar berlutut di hadapan istrinya. Memelas. Meskipun istrinya itu tetap pada pendiriannya.


Tanpa mereka sadari, Yasmin menonton semua adegan itu dari balik pintu. Dia merasa tidak hati kepada ayah Zafier. Hanya akan membebani jika dia tinggal di rumah ini. Matanya yang layu dan berkantung mulai tergenangi oleh air mata. Diam-diam, dia pergi dari rumah itu. Dan tak pernah berharap dapat tinggal di sana.


Enam tahun kemudian.


"Ini untuk ayah." Zafier yang berusia dua puluh tahun meletakan secangkir teh di hadapan ayahnya. Mereka sedang duduk di taman rumah. Sudah menjadi kebiasaan setiap sore, sepulang bekerja ayah Zafier akan menghabiskan waktu di rooftop yang disulap menjadi taman.


Zafier menangkap basah ayahnya yang sedang memandang ke suatu titik yang jauh dengan tatapan kosong. "Apa yang sedang ayah pikirkan?" Zafier bisa menebak bahwa ayahnya sedang gelisah.


Ayah Zafier tampak terkejut karena tiba-tiba Zafier bertanya, namun, segera menutupi keterkejutannya dengan sebuah senyuman. Dia meneguk tehnya. "Kau masih ingat dengan Yasmin?"


"Yasmin?" Zafier mengernyit. "Gadis yang dulu ayah bawa ke rumah?"


Ayah mengangguk.


"Ada apa, Yah?"


"Apa dia pemilik restoran itu hingga sampai ayah bisa bertemu lagi?" Zafier menebak Yasmin anak orang kaya. Mungkin saja warisan dari ayah dan ibunya bisa membiayai kebutuhan hidup gadis malang itu.


Ayah tersenyum sinis. "Dia bekerja paruh waktu di restoran itu. Ayah dengar, dia ditipu oleh seseorang yang mengaku rekan kerja almarhum ibunya. Dan kini dia benar-benar tidak memiliki apapun."


Ayah menarik napas panjang. Lalu menekan dada sebelah kirinya. Wajahnya meringis kesakitan.


"Ayah. Ayah, baik-baik saja?"


"Ayah tidak apa-apa. Ayah sangat merasa bersalah pada Yasmin. Andai dulu dia bersama kita, mungkin, dia tidak akan tertipu. Ayah merasa berdosa karena tidak bisa menepati janji ayah pada ayah Yasmin."


"Ayah, tenanglah. Jangan merasa seperti itu. Coba ayah bujuk lagi ibu. Mungkin sekarang ibu mau menerima gadis itu. Belum terlambat, Ayah."


Ayah kembali lagi seperti menahan sakit. "Jika ayah meninggal, ayah tidak akan tenang jika belum memastikan ada yang bisa menjaga Yasmin. Keluarga kita tidak akan bisa bahagia seperti ini kalau bukan karena bantuan dari orang tua Yasmin. Keluarga kita berhutang pada Yasmin."


"Ayah ini bicara apa?" Zafier mendengus. "Ayah kan masih sehat bugar."


Ayah mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan mendorong benda itu mendekati Zafier.


"Apa ini, Ayah?" Zafier meraih benda merah pemberian ayahnya dengan dahi mengkerut. Sebuah cincin terselip di dalam ketika Zafier membuka kotak.


"Menikahlah dengan Yasmin. Jaga dia dan buat dia bahagia. Selama ini ayah tidak pernah meminta apa-apa darimu, Zafier. Ayah hanya minta satu, agar ayah tenang dan bisa membayar hutang budi keluarga Yasmin. Nikahi Yasmin."


"Ayah." Pekik Zafier ketika melihat ayah yang dicintainya jatuh tersungkur ke lantai. Tangannya mencekram kuat dada. Merintih kesakitan. Zafier membantu ayahnya berdiri tapi pria paruh baya itu terjatuh lagi.


Dengan suara terbata-bata sambil menahan sakit, ayah berkata, "Ce-pat pa panggil a am ambulance!".


***


"Jadi, kalian menikah karena keterpaksaan?" tanya Sofia.


"Awalnya." Jawab Zafier ragu-ragu. Melirik Yasmin yang diam saja. "Pada awalnya aku memang terpaksa."


"Yasmin, kau juga terpaksa?"


"Mana aku tahu Zafier dipaksa menikahiku. Aku pikir dia tulus menikahiku." Yasmin tersenyum getir. "Kenapa juga harus menikah hanya karena kasihan padaku? Aku tidak butuh perhatian kalian. Selama enam tahun aku bisa hidup sendiri tanpa ada campur tangan keluarga kalian. Dan, lima tahun aku kabur dari rumah juga telah membuktikan bahwa aku benar-benar tidak membutuhkanmu."


"Sebenarnya, apa yang membuatmu pergi dari rumah setelah menyandang status sebagai istri Zafier?"


"Untuk apa dia menikahiku kalau dia terpaksa. Hidupku terlalu berharga untuk menghabiskan sisa umurku tinggal bersama orang tidak mencintaiku."


"Tapi sekarang berbeda." Zafier menginterupsi.


"Aku tahu, kalian sebenarnya mencintai satu sama lain. Mata kalian tidak bisa dibohongi" Sofia menyeringai. "Hanya saja kalian sama-sama diselimuti oleh ego dan gengsi kalian sendiri. Sehingga kalian tidak bisa melihat cinta yang sesungguhnya."