I Was Your Man

I Was Your Man
Karma



"Iya villa. Letaknya ada di tepi pantai. Pulau X ini terkenal akan destinasi pantai yang eksotis. Jadi sambil menunggu hari esok kalian bisa sekalian liburan."


"Benarkah?" kata Sofia dengan mata berbinar. "Aku ingin sekali bermain pasir, merasakan deburan ombak, melihat sunset dan sunrise Ah... Kapan terakhir aku ke pantai ya? Sudah lama sekali."


Ekspresi wajah yang ditampilkan Yasmin berbeda dari ekspresi Sofia. Yasmin cemberut sambil menusuk-nusuk makanannya. "Apa tidak sekarang saja pengambilan gambarnya? Lebih cepat, lebih baik."


"Kalian baru saja sampai di pulau ini. Kalian pasti lelah, kan? Istirahat saja dulu. Lagipula kru kami belum datang."


"Iya, Yasmin. Kita kan jet lag."


Yasmin hanya mendengus kesal. Ingin rasanya dia menenggelamkan Sofia di bak mandi.


"Setelah makan, Zafier akan mengantarkan kalian ke villa. Kalian bebas menggunakan semua fasilitas di sana."


Mendengar nama Zafier disebut, Yasmin menoleh pada seseorang di ujung meja. Suaminya. Eh bukan tapi mantan suami. Lima tahun sudah banyak merubah seorang Zafier yang dahulu dikenal Yasmin. Dia tidak sama seperti dulu lagi saat Yasmin meninggalkannya. Kini dia makin diam dan dingin.


Tampilan Zafier tidak serapi ketika masih menjadi suami Yasmin. Waktu itu, Zafier lebih memilih potongan rambut cepak dan selalu rajin mencukur habis kumisnya. Sekarang dia membiarkan rambut halus tumbuh di dagu hingga ke bawah pipi. Kumisnya pun dibiarkan tumbuh tipis dengan gaya rambut morrissey.


Terlihat lebih manly dan tampan sih, tapi aku masih sakit hati dengan dia. Aku tidak akan terpengaruh dengan wajah tampannya itu. Kata Yasmin dalam hati.


"Terima kasih sekali lagi, Tuan Leo. Tapi semua yang kita dapatkan ini apa tidak berlebihan?"


"Tidak, Sofia. Tentu saja tidak. Kalian pantas mendapatkan semuanya." Tuan Leo menatap Yasmin intens, menggenggam tangan gadis itu. "Terutama kau, sweet heart."


Mata Sofia melotot saat melihat Tuan Leo mencium punggung tangan Yasmin. Sang pemilik tangan membuang muka dan mendapati wajah Zafier yang merah padam. Ketika genggaman tangan Tuan Leo memudar, Yasmin buru-buru menarik tangannya. Mengelap punggung tangan bekas ciuman Tuan Leo dengan bajunya seakan telah tersentuh benda menjijikan.


"Siapkan dirimu secantik mungkin untuk pesta nanti malam."


"Pesta?"


"Kita akan mengadakan pesta di villa nanti malam."


***


Sofia menjatuhkan tubuhnya di kasur ukuran queen super empuk. Memejamkan mata lelah akibat perjalanan ke pulau X. Tapi suara deburan ombak dari luar jendela sungguh sangat menggodanya. Suara ombak seakan memanggil Sofia untuk mendekat dan bermain di pantai. Yasmin ikut rebahan di samping Sofia setelah membanting kopernya ke lantai.


"Aku lelah." Ucap Yasmin memejamkan mata. "Aku ingin tidur sampai kita syuting."


"Aku juga bilang apa. Memangnya kita ini robot. Setelah perjalanan panjang ke sini, kamu berlagak kuat ingin langsung syuting? Hah dasar sinting."


Menyadari masih ada orang yang memperhatiakan mereka di ambang pintu, Yasmin bangun duduk di tepi kasur. "Kenapa masih di sana?"


"Kamarmu bukan di sini." Kata Zafier datar.


"Apa?"


"Kamarmu ada di sebelah."


"Tapi kamar ini kan luas. Terlalu luas bahkan untuk dua orang. Aku mau di sini saja." Kata Yasmin dengan nada menghentak.


"Ini perintah Tuan Leo. Kalau tidak dituruti kalian akan dalam masalah besar."


Sofia mendekat ke telinga Yasmin. Berbisik, "Turuti saja, Yasmin. Aku mohon. Kamu tahu kan sifat Tuan Leo. Kalau hanya membatalkan kotrak itu tidak seberapa, dia bisa saja membuang kita ke laut. Lalu tubuh kita dicabik-cabik ikan hiu. Iiihhh seram."


Zafier memutar kunci dan membuka pintu. Terlihatlah kamar yang luasnya dua kali dari kamar Sofia. Semua furniture didominasi warna putih dan abu-abu. Terdapat lukisan besar menggantung di atas dipan. Ada televisi plus home theaternya juga. Sofa, meja rias, dan tirai dengan warna yang sama. Abu-abu. Lantai kamar yang terbuat dari kayu membuat kamar terasa luas.


Kamar ini yang memang luas atau karena hadirnya balkon panjang berpagar kaca di depan kamar yang menyuguhkan pemandangan laut biru. Entahlah. Yang pasti kamar itu terasa luas dan elegan.


Sepertinya kamar ini disiapkan khusus oleh Tuan Leo untuk Yasmin seorang.


Pintu model sorong menjadi pilihan sebagai pemisah antara kamar dan balkon.


Yasmin terpana dengan keberadaan balkon itu. Tanpa disadari kakinya telah melangkah ke sana. Hembusan angin membuat rambut Yasmin melambai-lambai. "Kau boleh pergi!"


"Baik."


Hah!Hanya itu saja. Apa dia tidak mau mengatakan sesuatu kepadaku setelah sekian lama tidak bertemu? Bilang hai, apa kabar? Atau kau baik-baik saja? Atau bahagia sekarang tanpaku? Atau apalah. Dia bahkan tidak mengatakan apapun. Dia masih sama seperti lima tahun yang lalu dalam urusan sifat. Masih menganggapku butiran debu. Tunggu! Kenapa aku jadi mengharapkan perhatian darinya? Yasmin bergelut dengan pikirannya sendiri.


Zafier yang sudah memegang gagang pintu, memandang punggung Yasmin. Ingin rasanya dia berlari memeluk wanitanya. Meminta maaf dan mengatakan betapa mencintainya dia. Namun, keinginannya hanya sebatas keinginan. Mengingat bagaimana Yasmin tadi menatap Zafier penuh kebencian. Gadis itu masih membencinya.


Rasa sesal memenuhi pikiran Zafier. Menyesal kenapa dulu dia menyia-yiakan Yasmin. Lalu gadis itu pergi meninggalkan luka. Ada secercah kebahagian saat Zafier bertemu lagi dengan Yasmin. Tapi sebentar lagi gadisnya akan menjadi milik orang lain.


Mungkin ini karma bagiku.


Zafier menunduk lalu menutup pintu.


"Zaaafieeerr."


Sebuah suara menggoda mengaketkan Zafier. Dia mengira itu suara Serry. Ternyata, Sofia sudah berdiri di belakangnya. Sudah memakai dress pantai panjang lengkap dengan topi bertepi lebar dan kaca mata hitam.


"Ada apa?"


"Aku mau minta bantuanmu boleh?" Sofia antusis.


"Apa? Katakan! Aku ditugaskan oleh Tuan Leo untuk menjaga kalian. Jadi, jangan sungkan untuk meminta bantuan." Ucap Zafier. Sepertinya ini adalah kalimat terpanjang yang dikatakan Zafier sejak tadi.


"Ah, bagus sekali. Aku ingin sekali ke pantai. Kami takut tersesat atau ada orang jahat yang berbuat yang tidak-tidak. Jadi, bisakah kamu menemani kita ke pantai?" mata Sofia sengaja dibuat berbinar-binar agar Zafier mengiyakan permintaannya.


"Tentu."


"Aha. Sebentar ya? Aku ajak Yasmin juga. Permisi orang cantik mau lewat."


Zafier tersadar badannya yang sejak tadi berdiri di depan pintu menghalangi Sofia masuk. Dia pun bergeser. "Oh. Silahkan."


Satu jam berlalu, Zafier sudah bosan berdiri di depan pintu hanya untuk menunggu dua wanita yang hendak pergi ke pantai. Lalu pintu pun terbuka. Sofia keluar dengan senyum sumringah.


"Maaf ya, Zafier. Yasmin kalau dandan memang sering lama." Sofia memasukan kepalanya ke dalam kamar. "Yasmin, ayo cepat!"


Zafier menatap kaki jenjang milik Yasmin. Pandangannya naik dari kaki indah yang memakai sandal pantai, celana denim pendek, tank top hitam yang di balut kardigan pantai bermotif bunga, sampai pada rambut yang dikepang satu.


"Zafier, bagaimana? Yasmin cantik, kan?"


Tbc.