I Was Your Man

I Was Your Man
Belanja ( Part 1 )



Satu minggu berlalu sejak pertengkaran Yasmin dan Zafier malam itu. Selama satu minggu pula mereka merasa sangat canggung, tidak banyak perbincangan, sekalipun berbicara, hanya berbicara seperlunya. Mereka tampak layaknya dua orang yang belum kenal satu sama lain meski mereka selalu pergi bersama dan tinggal bersama.


Pagi hari, Yasmin terbangun dan sadar alarm yang dia pasang semalam sudah terlewat. Dia tersentak, hari sudah beranjak siang, Zafier juga tidak membangunkannya. Kemana orang itu? Apa dia juga bangun kesiangan? Semua jadwal yang sudah disiapkan Sofia akan berantakan. Manager itu pasti sudah menunggu di lobby apartemen sambil menggerutu memaki-maki Yasmin.


Yasmin ingin memarahi Zafier karena tidak membangunkan. Dia berjalan ke kamar Zafier yang bersebelahan dengan kamarnya, membuka pintu kamar dengan cukup keras. Kosong. Tempat tidurnya pun rapi, seperti belum pernah ditiduri. Kemana dia?


"Kau sudah bangun?"


Yasmin memutarkan badan, Zafier berada di belakangnya memakai celemek dan memegang piring berisi omelet. Dia membuka mulut hendak memarahi Zafier karena tidak membangunkannya, namun Zafier segera menyergah. "Tadi pagi Sofia menelepon kalau beberapa jadwalmu diundur. Hari ini agendamu mulai pukul satu siang. Jadi aku sengaja tidak membangunkanmu dan mematikan alarm di kamar. Mau sarapan?" Zafier menodongkan piring.


Tanpa berbicara apapun, Yasmin duduk di meja makan. Di sana sudah terhidang omelet dan nasi goreng yang masih mengepul panas.


Cih, setelah aku membuang perasaan padanya, dia baru memberikan perhatian. Kemana saja dia dari dulu.


"Mau minum apa?"


"Teh."


"Aku buatkan dulu sebentar."


Senyum samar terlukis di bibir Yasmin melihat Zafier yang berpenampilan sangar tapi tidak risih menggenakan celemek. Celemeknya warna pink lagi. Gambar bunga-bunga.


"Ini tehnya." Zafier meletakan cangkir berisi teh hangat.


"Pakai gula rendah kalori, kan?"


"Tidak."


"Aku hanya mau teh yang pakai gula rendah kalori." Yasmin mendorong cangkir di hadapannya. "Tidak mau yang ini."


"Apa ada yang lain, Tuan Putri?" kata Zafier dengan nada geram ketika menyebut 'tuan putri'.


"Tidak."


Setelah Zafier ke meja makan membawa secangkir teh yang baru, mereka mulai sarapan. Zafier melepaskan celemek dan menaruh lagi di dapur. Yasmin melahap nasi goreng tanpa berbicara. Selama satu minggu, tidak ada pembicaran di meja makan atau dimanapun mereka berada. Akhirnya, Zafier memutuskan untuk membuka obrolan.


"Nasi goreng dan omeletnya enak?"


"Tidak." Ucap Yasmin sengaja membuat Zafier kecewa.


Tapi bukannya wajah kecewa seperti diharapkan Yasmin, tatapan Zafier justru penuh tanda tanya. "Apanya yang tidak enak? Keasinan? Omeletnya kurang matang? Tapi menurutku makanan ini enak."


Masakan Zafier sebenarnya enak, cuma Yamin tidak mau memuji. Nanti yang ada Zafier terlalu percaya diri. Dia sengaja ingin melihat seberapa tegar mental Zafier.


Sial, aku tidak bisa mengelak. Masakan Zafier memang enak tapi tunggu dulu.... Dia belajar masak sejak kapan? Siapa yang mengajari dia memasak? Dia kan anak emasnya ibu setiap hari pasti ibu yang memasak makanan kesukaannya. Ngomong-ngomong soal ibu, bagaimana kabar ibu sekarang ya?


Yasmin angkat bahu. "Aku malas menilai masakanmu."


"Kalau begitu, jangan dimakan." Zafier merebut piring Yasmin. "Makan yang lain saja."


"Sudahlah. Aku lapar. Lagian siapa yang akan mau menghabiskan makanan seperti ini? Selesai makan aku mau belanja."


***


Kejadian berbelanja bersama lima tahun silam seakan terulang kembali. Hanya bedanya sekarang tidak ada kehadiran ibu. Kalau dulu Yasmin yang membawa semua kantong belanjaan, giliran Zafier yang menggantikan peran itu sekarang. Yasmin belanja sangat banyak hingga Zafier kewalahan menenteng tas belanja.


Memang kebetulan Yasmin sudah lama tidak cuci mata belanja, ditambah lagi stok bahan makanan di kulkas sudah menipis.


"Bagaimana kalau kita kembali ke mobil untuk menaruh ini semua?" Zafier yang mengangkat semua kantong belanjaan memberi usul.


"Tidak usah, tanggung. Aku belanja tidak akan lama." Ucap Yasmin sambil terus berjalan. "Sekarang aku akan beli beberapa perabot di apartemen."


Huh, apa salahnya ke parkiran dulu, sekedar menaruh barang ke dalam mobil.


Tujuan selanjutnya, toko yang persis berada di samping supermarket, yang tak lain toko peralatan rumah tangga. Di dalam toko luas itu, mereka disambut ramah oleh seorang pelayan perempuan. Sepertinya sudah menjadi standar operasional di toko tersebut, jika ada calon pembeli masuk pelayan akan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh calon pembeli. Sehubungan toko itu sangatlah luas, banyak pembeli kebingungan mencari barang yang mereka beli.


"Aku ingin membeli alat elektronik dan beberapa peralatan dapur." Kata Yasmin kepada pelayan toko.


"Oh. Sebelah sini. Mari saya tunjukan." Pelayan toko berjalan mengarahkan mereka sampai ke depan lift. Dia menunjuk tulisan yang ada di samping pintu lift. "Peralatan memasak ada di lantai tiga, sementara alat elektronik di baseman."


Setiap peralatan yang dijual di toko itu dikelompokan ke dalam beberapa lantai. Yasmin membaca tulisan yang berada di samping lift yang tadi ditunjuk oleh pelayan wanita. Toko ini mempunyai lima lantai termasuk baseman. "Saya ingin ke lantai tiga terlebih dahulu."


"Baik." Pelayan wanita menekan tombol lift.


Zafier teringat, ini pertama kali Yasmin dan dia pergi keluar apartemen selain urusan kerja. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada mata-mata dari orang suruhan Irene.


Tidak ada yang mencurigakan. Semua aman. Aku hampir lupa kalau Yasmin bisa saja diam-diam diintai.


"Hai, kamu." Panggil Yasmin yang sudah masuk ke dalam lift. Dia melempar kunci mobil yang langsung ditangkap gelagapan oleh Zafier. "Taruh belanjaan itu ke mobil. Lalu temui aku lagi di lantai tiga. Waktumu tidak banyak. Hanya tiga menit."


Pintu lift pun tertutup rapat tanpa memberi kesempatan Zafier mengelak. Dia buru-buru berlari keluar toko, menuju parkiran supermarket dan meletakan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil.


Oh, jadi ini alasan dia. Cih, hanya diberi waktu tiga menit? Apa-apaan ini? Dia sengaja menjahiliku ya? Dia sengaja membuat aku menderita?


Zafier kembali ke toko, berlari sekencangnya hingga orang yang berada di dalam toko mengeryit kebingungan.


Ada apa dengan pemuda satu itu? Hidupnya tidak bisa santai sedikit apa?


Kurang lebih seperti itulah gumaman orang yang melihat Zafier.


Zafier melintasi lantai dasar, pandangannya tertitik pada lift. Di sana sudah ada beberapa orang di dalam lift siap menunggu pintu tertutup. "Hai, tunggu! Tahan dulu pintunya!" teriak Zafier, namun sayang sekali pintu terlanjur tertutup dan orang di dalam lift tadi sepertinya tidak melihat Zafier.


Sial.


Butuh waktu lama untuk menunggu giliran lift, akhirnya Zafier memutuskan untuk menaiki tangga darurat. Begitu sampai di lantai tiga, napas Zafier terengah-engah, kakinya lemas karena sudah lama tidak berolahraga. Dia mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan lantai tiga, mencari sosok Yasmin.


Tidak ada. Dimana dia?


Sial, dia sengaja bersembunyi.


Zafier berlari diantara rak-rak perabotan dapur. Mata elang Zafier tetap mencari Yasmin di setiap sudut. Kemudian, langkah Zafier terhenti ketika melewati rak yang memajang berbagai macam piring.


Itu dia. Ketemu. Huft.


Pantas saja susah ditemukan. Yasmin sedang berjongkok memandangi piring-piring ukuran besar.


Apa yang kuduga? Benar, kan? Dia sengaja bersembunyi.


Menyadari Zafier yang telah berada di dekatnya, Yasmin mematikan timer ponsel. "Kau terlambat satu menit dua puluh detik."


Tbc.