I Was Your Man

I Was Your Man
Makan Malam



Zafier menghela napas, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah dua puluh menit dia habiskan untuk memilah milih menu makanan di ponselnya. Dia disuruh Yasmin untuk menyiapkan makanan malam.


Tidak mau ribet, Zafier memesan makanan secara online. Tapi dia dihadapkan pilihan yang sulit. Masalahnya, dia tidak tahu makanan kesukaan Yasmin. Dia telah bertanya langsung pada Yasmin yang hendak mandi, namun yang ada Yasmin malah menyuruhnya menebak apa makanan kesukaan Yasmin. Lalu Yasmin masuk ke kamar mandi begitu saja.


Sial. Suami macam apa aku ini? Tidak tahu makanan favorit istriku sendiri. Kira-kira dia suka makanan apa ya? Apa susahnya menyebutkan langsung makanan kesukaannya? Malah main tebak-tebak begini?


Batas waktu yang diberikan Yasmin hampir habis, Zafier buru-buru memesan makanan dan juga minuman. Sebenarnya, dia tidak yakin dengan makanan yang dipesan apakah akan disukai oleh Yasmin. Tapi batas waktu hampir habis, Yasmin juga sudah selesai mandi.


Tidak sampai lima belas menit, pesanan makanan telah terhidangkan di meja makan. Zafier sengaja memilih restoran cepat saji yang dekat dengan apartemen supaya tidak menunggu waktu lama.


"Sudah siap makanannya?" tanya Yasmin begitu berjalan mendekat ke meja makan.


"Bisa kamu lihat sendiri."


Senyum lebar Yasmin perlahan redup, diganti dengan bibir yang mengerucut melihat makanan di atas meja. Pasalnya makanan yang dipesan Zafier tidak sesuai dengan ekspetasinya. Zafier memilih makanan cepat saji untuk makan malam. Ayam goreng, kentang goreng, burger, dan minuman soda.


"Kamu mau aku gendut ya?"


"Maksudnya?"


"Lihat!" Yasmin menunjuk meja. "Semua ini makanan berlemak. Tidak cocok untuk makan malam. Yang ada nanti berat badanku naik."


"Sudahlah makan saja. Lagian makan makanan berlemak sekali saja tidak akan membuat badan seperti gajah."


Yasmin membuang muka. "Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja memesan makanan itu supaya aku berubah jadi gendut. Kalau aku gendut, aku tidak akan cantik lagi. Lalu tidak akan ada yang melirikku sebagai model, lalu aku kehilangan pekerjaanku, lalu aku jadi pengangguran, lalu aku tidak punya uang, lalu aku kelaparan dan lalu aku mati." Menoleh cepat ke arah Zafier dan berteriak, "kamu mau aku mati, ya."


Astaga ini wanita kesurupan apa sih? Halunya sudah overdosis.


"Jadi mau dimakan atau tidak?"


"Tidak." Pekik Yasmin.


"Lalu, kamu mau makan apa?"


"Terserah."


Zafier menggaruk kepalanya lagi. Berfikir. "Steak."


"Tidak."


"Mie?"


"Tidak."


"Makan apa dong kalau begitu?"


"Terserah."


"Jeroan ayam?"


Mata Yasmin langsung mendelik. Kemudian membuang muka lagi. "Kamu ini tidak peka. Aku mau makan salad. Tidak mau yang lain."


Terdengar suara nafas Zafier yang naik turun, wajahnya merah padam menahan marah. Di bawah meja tangan Zafier sudah mengepal kuat. Andai orang di depan Zafier bukan Yasmin, pasti sudah mendapatkan hadiah bogem mentah.


"Kenapa tidak bilang saja tadi, kalau kamu mau salad?"


Perempuan merupakan makhluk hidup dari golongan aneh bin menyebalkan yang berpikir kalau pria mempunyai kekuatan super membaca pikiran orang lain.


Setidaknya, itulah pelajaran berharga yang didapat Zafier malam ini dari mata pelajaran memahami sikap wanita yang guru besarnya adalah Yasmin.


Atau itu hanya sekedar cara Yasmin membalas sakit hatinya dulu.


"Kamu sudah tidak kuat menjadi asisten pribadiku ya?" Yasmin mencibir.


"Aku hanya ingin keluar untuk mengambil barang-barangku. Bukannya kamu sendiri yang menyuruhku tinggal di sini? Kalau kamu tidak sudi aku ada di apartemenmu, aku juga dengan senang hati angkat kaki dari sini."


"Waktumu tiga puluh menit."


"Apa?"


"Waktu untuk mengambil barang-barangmu. Tiga puluh menit, dimulai dari sekarang."


"Hai, tunggu aku belum siap."


***


Bbyyyuur....


"Aaaa... Banjir... Baannjiirr... Apartemenku kebanjiran... Tolong... Toollong aku." Teriak Yasmin yang masih memejamkan mata. "Hei, sebentar. Apartemenku kan ada di lantai tujuh belas mana mungkin kebanjiran."


Mata Yasmin membelalak seketika, mendapati dirinya basah kuyup dan di sisi tempat tidur, Zafier yang sedang menggenggam sebuah baskom sambil mengerutkan bibir menahan tawa.


"Hei, bodyguard, kenapa kamu menyiramku?" kata Yasmin setengah berteriak kesal.


"Kan, kamu yang suruh."


"Bilang saja, kamu ingin balas menjahili aku, iya, kan?." Desis Yasmin.


"Kamu jangan tuduh aku sembarangan, kamu sendiri yang suruh. Masih ingat apa yang kamu katakan semalam?" Zafier sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat ke telinga Yasmin. Dengan suara yang dibuat-buat menyerupai gaya bicara Yasmin, dia berkata, "Besok bangunkan aku jam enam pagi. Ingat, bangunkan sampai aku benar-benar bangun, kalau aku tidak bangun siram saja pakai air."


Pipi Yasmin bersemu merah. Dia baru ingat kalau semalam sebelum dia beranjak tidur dia menyuruh Zafier membangunkannya pagi hari. Senyum lebar berkembang di bibir Yasmin.


"Sekarang sudah ingat?"


Yasmin mengangguk pelan sembari menahan malu. "Tapi jangan menyiramku dengan air satu baskom juga kali."


"Terus mau disiram pakai air laut sekalian?"


"Kasur dan bantalku jadi basah, kan." Yasmin berjalan melintasi Zafier menuju meja rias. Dia mengambil pengering rambut dan memberikannya pada Zafier. "Kamu harus bertanggung jawab. Keringkan tempat tidurku selama aku mandi."


Zafier menurut saja apa yang diperintahkan Yasmin yang langsung melesat masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, sudah menjadi rutinitas Yasmin mandi sambil bersenandung ria. Suaranya terdengar hingga ke telinga Zafier yang sedang mengeringkan bantal. Selesai mandi, Yasmin berjalan ke ruang pakaian sambil terus bernyanyi.


Selama lima tahun terakhir, Yasmin sudah terbiasa hidup sendiri. Setelah mandi dia akan melempar handuknya entah kemana, tidak akan ada orang yang mengintip karena dia tinggal sendirian di apartemen. Membiarkan bayangan tubuh mulusnya terpantul di cermin besar yang ada di sudut kamar. Dengan begitu, akan lebih mudah memilih baju yang cocok untuk dia pakai hari ini.


Namun, hari ini Yasmin lupa bahwa ada Zafier yang duduk di tempat tidur masih mengeringkan bantal.


"Pakai baju yang ini atau yang... ini." Yasmin mengangkat dua setel baju dengan masing-masing baju di tangan kanan dan kiri. Lalu melemparkan yang setelan baju yang ada di tangan kanannya. "Kayanya hari ini lebih cocok pakai yang ini."


Yasmin menempelkan setelan baju biru di tubuh polosnya dan melihat bayangan di cermin untuk memastikan apakah benar-benar keren untuk digenakan. Mata Yasmin pun menangkap sosok pria di atas kasur dari pantulan cermin. Seketika wajah Yasmin merah padam menahan malu karena pria itu memandanginya sejak tadi.


"AAARGGHH!"


Kenapa Zafier masih ada di sini? Dia melihat tubuhku tanpa sehelai kain. Tidak. Dasar Yasmin, kau ini sungguh ceroboh.


Yasmin lari masuk lagi ke kamar mandi. Memaki dirinya sendiri. Kali ini, giliran Zafier yang bernasib baik telah diberi kesempatan melihat pemandangan yang sangat indah dari setiap lekuk tubuh istrinya.


Tbc.