
"Ayo kita bersulang sekali lagi untuk Tuan Leo yang terhormat!"
Seorang pria mengangkat gelas dan diikuti oleh semua pria lain yang berada di sana, kecuali Zafier. Mereka menengguk minuman mereka dilanjut gelak tawa.
Suara musik yang bising berpadu dengan gelak tawa dan juga suara dentingan gelas. Wanita - wanita penghibur menari di tengah ruangan redup itu. Menggoda setiap pria hidung belang berdompet tebal. Telah menjadi bagian dari hidup seorang Zafier selama lima tahun terakhir, sejak dia berpisah dari wanita yang sangat dia cintai. Dia adalah anak buah, lebih tepatnya, ketua anak buah Tuan Leo, laki-laki konglomerat, pengusaha dan juga pria hidung belang.
Hampir setiap pekan dia akan menemani bosnya itu minum-minuman bersama wanita. Padahal dia tahu Tuan Leo yang telah memasuki kepala tiga itu sudah beristri dan memiliki seorang putra.
"Kau tidak minum Zaf?" tanya asisten Gino. Dia adalah asisten pribadi Tuan Leo. Kedudukannya sama dengan Zafier, menjadi orang kepercayaan Tuan Leo. Hanya bedanya, Gino diberi tugas membantu Tuan Leo dalam urusan perusahaan. Sedangkan Zafier mengurus kehidupan pribadi Tuan Leo. Khususnya urusan kehidupan Tuan Leo bersama wanita panggilan.
Zafier menggeleng.
"Ayolah, Zaf. Minum satu gelas saja." Bujuk Tuan Leo.
"Tidak, Tuan. Terima kasih." Meski Zafier selalu menemani Tuan Leo minum hingga mabuk berat, dia tak pernah mencicipi atau minum setetes pun. Dia pernah memiliki pengalaman buruk dengan minuman haram itu yang membuat wanita pujaannya sakit hati pada dirinya.
Ingatan Zafier melayang membawanya kembali ke masa lalu. Saat wanita pujaannya masih bersamanya. Bayangan seorang wanita cantik tengah menangis terisak di hadapannya. Wanita itu memberikan sorot mata penuh kebencian.
Sayang, dimana kau sekarang? Apakah kau rindu padaku? Aku minta maaf, karena keegoisanku kita harus berpisah. Gumam Zafier dalam hati.
Membuka memori tentang wanita itu membuat hatinya pilu, Zafier menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan tentang masa lalunya.
"Atau kau mau bermain dengan salah satu dari mereka?" Tuan Leo mengarahkan tangannya yang sedang menggenggam gelas ke arah gerombolan wanita penghibur yang sedang asyik menari menikmati musik di tengah ruangan. "Ambil saja bila kau mau. Aku yang akan membayar mereka."
"Aku mau bos." Celetuk salah satu anak buah Tuan Leo tanpa malu.
"Hai, aku tidak memberi tawaran kepadamu." Gertak Tuan Leo. "Kau harus bekerja sebagus Zaf jika ingin aku yang membayar wanita itu untukmu. Hahaha..." Tuan Leo tertawa lantang hingga terbatuk-batuk.
"Dia tidak memiliki selera dengan perempuan, Tuan." Anak buah tadi mencibir sembari melirik Zafier yang tetap diam.
"Aku meragukan kejantananmu, Zaf. Apakah kamu ini gay?" ledek asisten Gino. "Atau kau ini impoten?"
Seketika tawa pecah dari semua bawahan Tuan Leo. Mereka mentertawakan Zafier yang tak pernah minum dan juga main perempuan. Meskipun mendapat ejekan dari rekannya, Zafier tetap diam, memasang wajah masa bodo. Dia tidak pernah meladeni ejekan Gino. Baginya, tidak ada tempat lagi di hatinya karena sudah diisi oleh seorang perempuan yang dari dulu sangat dia cintai.
"Kenapa bos terlihat senang sekali akhir-akhir ini?" tanya Zafier mengalihkan pembicaraan. Dia tahu Tuan Leo dalam keadaan mood yang bagus, itu artinya bosnya itu sedang dimabuk cinta. Dia sudah hafal gerak-gerik Tuan Leo jika sedang tergila-gila dengan seorang perempuan. Saking seringnya menemani Tuan Leo, Zaf bahkan sampai tahu tipe wanita yang disukai bos hidung belang itu.
"Ada seorang perempuan cantik yang mengusik otakku dua minggu terakhir ini."
Sudah ku duga. Zafier menyeringai. Sudah tahu tugas baru telah menantinya. Mencari wanita tersebut dan membawanya ke hadapan Tuan Leo.
"Katakan siapa dia! Akan aku cari sekalipun dia bersembunyi di lubang semut dan aku akan membawakannya untukmu, Tuan."
Mendengar perkataan anak buah paling dipercayanya, Tuan Leo tergelak. Lalu meneguk habis minumannya.
"Dia bukan wanita murahan yang biasa kamu bawa untukku, Zaf. Dia seorang model. Aku bertemu dengannya saat menggadiri acara fashion show."
Tuan Leo mengayunkan tangan memberi isyarat kepada wanita penghibur yang sejak tadi bergelayutan manja di samping Tuan Leo. Tanpa berkata apapun, Wanita itu sudah tahu maksud dari Tuan Leo. Dia menuangkan botol bir ke dalam gelas kosong yang digenggam Tuan Leo.
"Aku tidak bisa tidur karena bayangan perempuan itu menghantuiku hingga saat ini."
"Pasti dia cantik."
"Kamu sedang menghinaku, Zaf? Memangnya kamu pikir seorang Tuan Leo pernah menaruh hati pada perempuan jelek? haha.."
Zafier ikut tertawa.
"Pertama kali bertemu, dia memberiku lirikan menggoda tapi saat aku menemuinya di belakang panggung, dia malah jual mahal."
"Dia pasti belum mengenal siapa itu Tuan Leo. Jika dia tahu, dia akan berlutut di depanmu, Tuan." Kata Zafier untuk membuat bosnya senang.
"Lalu, apa yang akan Tuan lakukan untuk menangkap kupu-kupu Tuan itu? Apa perlu aku menculiknya?"
"Tidak. Tidak, Zaf. Tidak perlu." Tuan Leo menggeleng.
Kemudian, Zafier merasakan ada sebuah tangan mengelus lembut punggungnya. Lantas di memutarkan kepala untuk melihat orang yang dengan tidak sopan menjamah tubuhnya.
"Zafier." Sebuah suara menggoda dari seorang wanita memakai dres merah yang sangat sexy memperlihatkan lekuk tubuh wanita itu.
"Serry?" Zafier menepis tangan Serry yang terus meraba punggung hingga ke dada bidangnya. "Mau apa kamu ke sini? Tuan Leo sedang tidak ingin denganmu?"
"Aku ke sini karena kamu, honey. Temani aku malam ini." Goda Serry.
Tangan Serry hendak menyentuh bahu Zafier, namun ditangkis dengan kasar. Lalu Zafier memberikan tatapan tajam pada Serry membuat wanita itu mundur beberapa langkah.
Serry adalah wanita panggilan yang pernah dibawa Zafier untuk menemani Tuan Leo. Sejak pertemuan pertama dengan Zafier, Serry selalu mengejar pria dingin itu meski selalu mendapatkan penolakan.
Asisten Gino berdecak. "Apa aku bilang. Zaf itu laki-laki impoten. Wanita secantik Serry kamu tolak. Dasar bod*h."
"Diam kamu!" Teriak Zafier.
"Hai, sudah! Kalian seperti anak kecil saja." Tuan Leo melerai dan menatap Serry. "Zaf masih ada urusan denganku. Pergi!"
Sebelum pergi, Serry sempat melirik Zafier dengan kecewa. Dia pun meninggalkan meja Tuan Leo, membaur ke kerumunan orang-orang yang hanyut dalam musik.
"Lalat pengganggu. Sampai mana kita tadi?" tanya Tuan Leo.
"Jadi, apa yang akan Tuan lakukan untuk mendapatkan perempuan itu?"
Tuan Leo tertawa. "Seperti yang aku bilang dia seorang model. Sangat mudah untuk membuatnya datang sendiri kepadaku."
"Maksudnya?"
"Perusahaan memberikan tawaran kepada perempuan itu untuk menjadi model iklan produk parfum yang sebentar lagi akan kita luncurkan. Bagaimana, Gino, apa managernya sudah setuju?"
"Sudah, Tuan." Jawab Gino. "Bahkan kita akan melakukan proses syutingnya besok lusa, Tuan."
Tuan Leo tertawa penuh kemenangan. "Bagus, Gino. Aku sudah tidak sabar bertemu perempuan itu. Sekarang tugasmu, Zaf. Cari informasi tentang dia, latar belakangnya, keluarganya, hingga kesukaannya."
"Baik, Tuan."
Tangan Tuan Leo memberi isyarat kepada Asisten Gino. Pria itu dengan segera mengeluarkan selembar foto dan memberikannya ke Zafier.
Pupil mata Zafier membesar melihat seorang perempuan berambut panjang lurus tersenyum lebar. Dia masih tidak percaya pada orang dalam foto itu.
Yasmin. Istriku.
Tbc.
Hai, readers!!!!
Gimana episode pertamanya 'I was Your Man'? Suka?
Kalau suka jangan lupa pencet favorit, like dan vote ya.... Biar author semangat nulisnya.
Love you, all!!!!