I Was Your Man

I Was Your Man
Melabrak



Sepulang dari rumah sakit, Zafier mendapati Yasmin tengah berjibaku dengan kompor dan pisau di dapur. Sungguh pemandangan yang langka terjadi. Yasmin sendiri yang memasak makan malam kali ini. Senyum tipis terlukis di bibinya, lalu mendekat ke dapur.


"Mau aku bantu?"


Yasmin menoleh ketika mendengar suara husky dari belakangnya. "Jangan meremehkanku. Aku lebih jago masak darimu, tahu." Katanya sambil terus mengaduk sup ayam.


"Ya sudah. Lagian aku juga mau mandi." Zafier berjalan menjauh. "Dimana Sofia?"


"Pergi mencari apartemen baru."


Zafier hanya ber-oh singkat sebelum masuk ke dalam kamar. Dia menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya, lalu mandi. Suara gemercikan air shower membuat Zafier tidak mendengar berdering beberapa kali. Dia keluar kamar mandi sembari mengeringkan rambut dengan handuk, ponselnya masih saja berbunyi.


15 panggilan tak terjawab Tuan Leo.


Sontak membuat mata Zafier membelalak sekaligus kebingungan. Sejak dia menjadi bodyguard Yasmin, baru kali ini Tuan Leo meneleponnya. Apa yang terjadi? Ada sesuatu yang tidak bereskah?


"Halo, Tuan."


"Zafier, gawat." Suara di seberang telepon terdengar cemas.


"Gawat kenapa, Tuan?" tanya Zafier santai. Dia memakai celana panjang sambil menerima telepon.


"Irene tahu aku dan Yasmin ada hubungan. Dia tahu alamat apartemen Yasmin. Bahkan dia sedang menuju ke sana."


Detik berikutnya, suara bel apartemen berbunyi. Deg. Detak jantung Zafier berpacu cepat. Secepat itu kah Irene menemukan Yasmin?


"Siapa?" teriak Yasmin dari arah dapur.


"Tolong kamu urus Irene. Jangan sampai dia menemui Yasmin." Suara panik Leo dari seberang telepon membuat Zafier juga ikut panik.


Terlambat. Irene sudah ada di depan pintu.


"Atau setidaknya buat Irene percaya aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Yasmin selain rekan bisnis."


Bunyi bel terdengar kembali.


"Siapa, sih? Huh, Tidak tahu ya kalau aku sedang masak." Gerutu Yasmin seraya mematikan kompor.


Untuk ketiga kalinya, bunyi bel dibunyikan dengan tidak sabar.


"Iya, iya. Sebentar." Teriak Yasmin yang sedang melepas celemek.


Zafier yang masih bertelanjang dada, hanya sempat memakai celana panjang hitam keluar dari kamar. Tidak ada Yasmin di dapur. Gadis itu telah melenggang ke ruang tamu. Membukakan pintu. Dia berlari menyusul Yasmin. Berniat mencegah tangan Yasmin untuk membuka pintu tapi terlambat.


Pintu berderak terbuka perlahan. Saat itu pula, sebuah ide gila menyusup masuk ke dalam benaknya. Tangan Zafier yang sudah terlanjur mencekram tangan Yasmin, menarik tangan lembut itu sehingga si pemiliknya berputar membalik ke arah Zafier dan merapat ke tubuh atletis.


Zafier mendekap Yasmin dan menciumnya. Tentu Yasmin kaget dengan ulah Zafier, namun setelah dia tahu siapa yang ada di ambang pintu lewat lirikan mata, Yasmin justru membalas ciuman itu.


Orang yang lebih terkejut tentu saja sang tamu yang ketika dibukakan pintu langsung disuguhi adegan ciuman layaknya di film-film. Dia menutup kembali pintu. Berpikir sejenak.


Dari informasi yang dia dapat wanita yang bernama Yasmin itu masih lajang. Kenapa ada pria di dalam?


Tentu saja. Dia kan wanita ******. Itulah mengapa dia menggoda suamiku. Gumam Irene menggenggam gagang pintu dan membuka pintu dengan kasar.


"Oh, Nyonya Irene." Sapa Zafier menunduk yang diikuti juga oleh Yasmin.


"Zafier? Kau rupanya?" Irene tampak terkejut mendapati pria yang tadi ialah Zafier.


"Ada apa nyonya kemari?"


"Oh, maaf aku mengganggu kalian."


***


Beberapa menit yang lalu.


"Halo, Sayang. Sibuk, ya? Cobak tebak aku ada dimana?"


"Apa maksudmu? Sayang, bercandanya nanti saja. Aku sedang rapat."


"Bagus kalau begitu. Berarti kamu tidak akan bisa menyusulku ke sini."


"Irene, jangan bercanda. Tutup teleponnya sekarang juga." Desis Leo menahan malu karena semua mata yang menghadiri rapat tertuju padanya.


"Coba tebak aku dimana? Aku sekarang ada di lobby apartemen perempuan itu."


"Perempuan siapa? Irene ayolah, jangan kekanak-kanakan."


"Perempuan yang kau temui tengah malam. Yang kau jadikan dia duta merek parfummu itu lho."


Shit


Terpaksa Leo keluar dari ruang rapat, memilih tempat yang sekiranya tidak ada orang yang mencuri dengar. "Irene, apa yang kau lakukan di sana? Jangan membuat masalah. Aku dan dia hanya sebatas rekan bisnis."


"Kenapa kau terdengar tegang, Sayang. Memang kau pikir aku akan melakukan apa? Aku hanya akan memberikan peringatan padanya." Kata Irene dengan penuh tekanan pada kata peringatan.


Tentu Leo tahu apa maksud peringatan itu. Dia mengacak rambut frustasi. "Irene, kau tahu yang kau lakukan sekarang bisa saja mencoreng reputasi perusahaan kita."


"Oh, tenang saja. Apa kau lupa? Aku memiliki banyak koneksi dengan para wartawan dan juga polisi. Aku bisa membungkam polisi dengan uang dan menyuruh wartawan menulis berita yang membalikan fakta. Berita yang seakan gadis itu yang salah. Aku hebat, kan?"


"Irene." Desis Leo yang diiringi bunyi gemelutakan gigi.


"Sudah, ya, aku hampir sampai. Nanti aku beri kabar lagi jika sudah selesai memberi pelajaran gadis itu."


Tut. Panggilan dimatikan sepihak oleh Irene. Dia tersenyum, bukan, tapi menyeringai saat pintu lift yang membawanya ke lantai tujuh belas terbuka. Sementara itu, di sisi lain, Leo menendang udara kosong di depannya dengan penuh amarah.


Darimana Irene tahu soal Yasmin? Ah, itu tidak penting sekarang. Sekarang bagaimana cara menghentikan Irene. Zafier. Ya. Zafier satu-satunya andalanku.


Leo mencari nomor telepon Zafier di ponselnya. Memanggil.


***


"Hahaha..." Irene tertawa lantang sambil menutup mulutnya. Dia kini duduk di ruang tamu bersama Zafier yang telah menggenakan baju. Mereka bercengkrama akrab layaknya sahabat lama ketika Yasmin muncul membawa tiga cangkir teh hangat. "Jadi kalian sudah menikah? Kapan? Kenapa kau tidak mengundangku? Kau anggap apa aku dan Leo?"


Zafier merangkul Yasmin agar duduk merapat di sampingnya. "Kami menikah beberapa minggu yang lalu. Ya, hanya sebatas keluarga dekat saja. Untuk acara pestanya akan kami adakan beberapa bulan lagi. Kami sedang menyiapkan pesta pernikahan kita sebagus mungkin." Zafier menoleh pada Yasmin. "Iya, kan, Sayang?"


"Iy. Iya." Jawab Yasmin dengan gagap.


Zafier mendekatkan wajahnya ke telinga Yasmin dan berbisik, "Lakukan sesuatu untuk meyakinkan Irene."


Apa? Apa-apaan ini. Jelas kali ini Zafier menang banyak. Awas saja kau, Zaf. Mencari kesempatan di kesempitan.


Yasmin melirik pada Zafier yang tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada pilihan lain, dia melingkarkan tangan di perut Zafier dan menyandarkan kepala di dada bidang itu. "Kami minta maaf atas ketidak nyamanan anda tadi. Hmmm, kami sedang makan bersama. Zafier bilang sop ayam buatanku sangat enak, jadi dia menciumku. Yah, suamiku ini memang sering mengecupku tanpa tahu situasi."


Plak. Apa yang telah aku lakukan. Aku mau masuk ke kerak bumi saja. Yasmin menggumam dalam hati.


"Tidak masalah. Aku bisa memaklumi pengantin baru memang masih hangat-hangatnya."


"Ngomong-ngomong, ada perlu apa Nyonya Irene kemari?"


"Hmmm..." Irene memutar otak untuk menemukan jawaban yang pas. Tidak menyangka akan ditanya balik oleh Zafier. "Ah, aku mau memberikan ini." Irene mengeluarkan sebuah undangan yang dihias pita merah.


"Undangan?" tanya Yasmin ketika menerima kertas dari Irene.


"Iya. Undangan pesta ulang tahun pernikahanku dengan Leo. Kalian datang, ya?"


Tbc