
"Aku sudah bilang berapa kali kepadamu, Sofia. Kalau aku tidak mau berarti tidak mau. Lagipula kenapa kamu tidak memberitahuku dulu. Kamu main tanda tangan kontrak begitu saja tanpa sepetahuanku." Yasmin merajuk. Tangannya bersilang di depan dada.
Sudah hampir satu jam dia melancarkan aksi protesnya tapi hanya dianggap angin lalu oleh manager Sofia. "Lebih baik kamu batalkan kontrak iklan itu. Aku tidak sudi kerjasama dengan pria buaya darat."
"Tidak bisa dibatalkan, Yasmin." Kata manager Sofia sambil sibuk mengepak baju. "Kalau dibatalkan, kita bisa dituntut. Mereka sudah membayarmu dengan nominal tiga kali lipat dari yang seharusnya."
"Tapi aku tidak mau berurusan dengan Tuan.... Hmm..." Yasmin berpikir sejenak. "Siapa sih, namanya aku lupa?"
"Leo."
"Iya itu dia."
"Sudah terlambat, Yasmin. Proses syutingnya sudah didepan mata dan lihat!" Sofia menunjukan dua buah tiket pesawat keberangkatan ke pulau X. "Kita akan ke tempat syutingnya dua jam lagi. Ayolah, Yasmin. Come on. Profesionalah sedikit!"
"Kamu anggap aku tidak profesional. Aku justru sedang protes. Kamu membantuku masuk ke mulut buaya, tahu?"
"Yasmin, dengarkan aku!" Sofia meresleting koper. Lalu menatap intens Yasmin. "Kamu cuma menjadi model iklan. Aku garis bawahi ya? Hanya model iklan produk parfum yang dikeluarkan oleh perusahaan Tuan Leo."
"Iya aku tahu."
"Sedangkan, jabatan Tuan Leo adalah direktur utama. Mana mungkin seorang direktur utama turun tangan langsung dalam proses syuting. Dia pasti akan menyuruh bawahannya, kan? Jadi kamu tidak perlu khawatir. Urusan meeting dan segala macam biar aku yang atasi. Kamu cukup menjalankan profesimu sebagai model lalu...."
"Lalu apa?"
"Lalu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara kamu dan Tuan Leo. Aku mohon, Yasmin. Perusahaan Tuan Leo itu perusahaan besar. Jika kamu menjadi model iklannya, maka kamu akan semakin terkenal dan reputasimu akan semakin naik. Kamu akan dipandang sebagai model kelas atas. Kedepannya akan banyak kontrak yang lebih besar datang pada kita. Justru kamu harus senang dengan tawaran iklan ini."
"Ya, sudahlah mau bagaimana lagi?!"
"Nah gitu dong. Itu baru Yasmin yang aku kenal. Sekarang sana mandi! Nanti kita bisa ketinggalan pesawat."
Yasmin memanyunkan bibir dan membungkukan tubuhnya. Dia berjalan ke kamar mandi dengan kaki dihentak-hentakan.
***
Di sebuah ruangan VVIP sebuah restoran, Tuan Leo duduk di ujung meja. Asisten Gino dan Zafier berdiri disamping kanan dan kirinya. Tuan Leo sengaja mereservasi ruangan itu khusus untuk menyambut kedatangan perempuan yang telah membuatnya mabuk kepayang.
"Sudah kamu dapatkan informasi tentang Yasmin, Zaf?" tanya Tuan Leo.
"Sudah, Tuan." Jawab Zafier sembari memberikan setumpuk kertas ke hadapan Tuan Leo. "Yasmin Malika, 25 tahun, profesi seorang model. Dia sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 13 tahun. Sejak itu pula dia hidup dalam bayang-bayang kemiskinan."
Zafier menjelaskan deskripsi masa muda Yasmin dengan gamblang. Tentu saja dia tahu semua hal itu karena Yasmin adalah istrinya. Selebihnya dia mengorek sedikit informasi dari manager Sofia yang baru dia kenal. Dia tidak akan menyangka, wanita yang dia cari selama ini datang melalui bosnya sendiri.
"Namun, pada usia 20 tahun, dia pergi ke luar negeri untuk meniti karir sebagai model seperti sekarang ini, Tuan."
"Apakah dia sudah menikah?"
Zafier tercekat. "Belum, Tuan." Informasi yang dia dapatkan memang Yasmin belum menikah dengan pria manapun.
Sepertinya Yasmin dengan sengaja menyembuyikan indentitas status perkawinannya. Bahkan manager Sofia sama sekali tidak tahu bahwa Yasmin telah menikah di usia yang bisa dibilang masih muda. Sama halnya Zafier yang tidak mengatakan pada Tuan Leo dan rekan-rekannya bahwa sebenarnya dia telah memiliki seorang istri. Zafier juga tidak akan mengatakan pada Tuan Leo bahwa Yasmin merupakan istrinya yang telah lama pergi. Dia takut Tuan Leo akan marah besar dan pada akhirnya menjauhkan Yasmin dari dirinya. Hanya dengan cara ini dia bisa bertemu Yasmin.
"Bagus. Apakah dia telah memiliki seorang kekasih? Tunangan? Atau apa?"
Tuan Leo menyunggingkan sebuah senyum. "Bagus kalau begitu. Tidak ada penhalang bagiku. Semua informasinya tertulis semua di sini?"
"Iya, Tuan."
"Gino, kapan mereka tiba di sini?"
"Sebentar lagi, Tuan. Mereka sedang dalam perjalanan ke restoran ini."
Tuan Leo membaca kertas yang diberikan oleh Zafier lembar demi lembar sembari menunggu kedatangan Yasmin dan manager Sofia. Sekitar lima menit kemudian, ponsel asisten Gino berdering.
"Iya, hallo. Bawa mereka masuk. Baik." Asisten Gino menutup telepon dan membungkukan badan untuk membisikan ke telinga Tuan Leo. "Mereka sudah sampai, Tuan."
"Aku sudah tidak sabar melihatnya." Kata Tuan Leo.
Aku juga. Aku juga tidak sabar melihat istriku. Ini pertemuan pertama kita setelah lima tahun kita berpisah. Bagaimana rupanya sekarang?
Zafier menatap lekat pintu yang masih tertutup. Suara langkah kaki terdengar sayup-sayup dari balik pintu. Semakin lama, semakin jelas suara langkah kaki itu seirama dengan degup jantungnya. Dia menutupkan mata sejenak.
Pintu terbuka saat Zafier pun membuka mata. Yasmin berdiri di ambang pintu tepat di belakang pelayan restoran yang menunjukan ruangan yang telah dipesan Tuan Leo. Wanita itu tampak terperanjat melihat keberadaannya.
Zafier menatap Yasmin dari bawah kaki sampai ujung kepala. Banyak perubahan dari istrinya itu. Terutama dalam hal penampilan. Sejak dulu Yasmin memang telah memiliki aura kecantikannya sendiri, sekarang ditambah lagi polesan make up yang tepat membuat dia semakin cantik.
Manager Sofia dan Yasmin masuk dan dipersilahkan duduk oleh Tuan Leo. Tatapan Yasmin tidak lepas dari sosok Zafier. Ada rasa rindu namun juga benci di dalam tatapannya.
Tuan Leo mempersilahkan Yasmin duduk di samping kanannya dan manager Sofia di sebelah Yasmin. Tuan Leo juga menyuruh Gino dan Zafier untuk duduk. Jujur, Zafier ingin duduk bersebrangan dengan Yasmin agar dapat lelusa menatap Yasmin. Namun, Gino lebih dulu menempati tempat duduk yang dia incar. Mau tidak mau dia harus duduk di sebelah Gino, berhadapan dengan Sofia.
Pelayan restoran masuk ke ruangan sambil mendorong troli makanan dan menyuguhkan hidangan satu persatu.
"Kami sangat berterima kasih, Tuan Leo, telah menyambut kami dengan jamuan yang begitu mewah." Ucap manager Sofia.
"Tentu. Ini ucapan selamat datang untuk tamu spesial." Tuan Leo melirik Yasmin.
"Uhmm.. Kalau boleh tahu, kapan proses syutingnya akan dimulai? Apakah setelah makan kita akan langsung pengambilan gambar?" tanya Yasmin.
Tuan Leo tertawa mendengar pertanyaan polos Yasmin. "Proses syutingnya akan dimulai besok, sweetheart."
"Apa?" Yasmin menjatuhkan sendok saking terkejutnya. "Itu artinya..."
"Itu artinya kalian akan menginap di pulau ini. Asisten Gino sudah menyiapkan villa untuk kalian."
"Apa? Villa?"
Tbc.
Jangan lupa jadiin novel ini favorit, like dan vote ya?
Author juga nunggu komen, kritik dan saran dari kalian, readers sayang...
Love you, all...