I Was Your Man

I Was Your Man
Membantu



"Kemana Sofia? Dia bilang cuti dua hari, kenapa ini sudah tiga hari belum juga pulang?"


Yasmin membenturkan kepala ke dinding lift. Tiga hari sudah dia bekerja bersama Zafier. Pria itu sebenarnya kerja cepat, tanggap dan pintar. Tidak ada alasan Yasmin untuk memprotes kinerjanya. Hanya saja, dia merasa kurang nyaman jika bekerja berdua.


"Besok akan aku pastikan dia sudah kembali bekerja."


Pintu lift terbuka, mereka pun keluar dari lift dan berjalan melintasi stand-stand makanan. Bau aroma masakan menggugah selera makan siapa pun yang menciumnya. Yasmin terus melesak diantara keramaian orang.


Siang ini, Leo meminta Yasmin untuk makan siang bersama. Alasannya, ingin membahas proyek iklan berikutnya. Tapi entalah. Mungkin Leo memiliki maksud lain karena hanya Yasmin yang diminta makan siang.


Yasmin menggampiri Leo begitu melihat pria itu sudah duduk di salah satu meja yang sudah di pesan. Di sekitar meja itu sudah ditempati, jadi Zafier memilih meja yang masih kosong yang jaraknya agak jauh dari meja Leo.


"Aku senang kau datang." Ucap Leo sambil menampilkan senyum paling menawan.


"Ada urusan apa?" tanya Yasmin. Ingin rasanya dia segera mengakhiri sesi makan siang ini.


"Aku ingin sedikit membahas proyek iklan berikutnya dan aku juga ingin meminta saran."


"Saran apa?"


Leo mengangkat alis. "Masalah rumah tanggaku dengan Irene. Kami menghadapi masalah lagi."


"Kenapa harus cerita pada wanita lajang sepertiku? Kenapa kau tidak meminta saran saja ke konsultan pernikahan? Bukankah ada yang semacam itu, kan?"


Leo tersenyum. "Iya kau benar juga. Tapi aku sudah terlanjur bertemu denganmu. Oh ya, mau pesan apa?"


Yasmin sadar maksud sebenarnya Leo mengajaknya makan siang. Dia memesan makanan, dan memakannya sambil mendengar curhatan Leo. Pria itu terus aja mengoceh tentang Irene yang tidak begitu didengarkan Yasmin. Dia malah melempar pandangannya ke arah Zafier yang duduk bersama seorang gadis cantik.


"Hai, Zafier."


Zafier mendongak untuk melihat gadis yang menyapanya. Di depannya, Serry sudah berdiri dengan menggenggam sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Gadis itu tampak mengedarkan pandangan.


"Tampaknya tidak ada meja yang kosong. Jadi aku boleh duduk di sini, kan?"


Tanpa menunggu jawaban dari Zafier, Serry sudah terlebih dahulu duduk di kursi berhadapan dengan Zafier. Dia tidak memudarkan senyumannya, sedangkan Zafier menatap Serry dengan tatapan dingin seperti biasa.


"Mau apa kau ke sini?"


"Oh, aku hanya kebetulan sedang makan siang di sini. Lalu aku melihatmu. Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu ya?"


Zafier tetap diam tidak menggubris Serry. Dia melahap mie gorengnya dengan tenang seakan tidak ada orang yang mengajaknya bicara. Serry menghela napas panjang. Dia tidak akan menyerah begitu saja melihat respon Zafier yang acuh tak acuh.


"Zafier, kamu tidak mau menanyakan kabarku?"


"Tidak."


"Aku sudah keluar dari kehidupan malam. Lalu, aku berniat untuk menjadi penyanyi."


Melihat Zafier yang tampak tak menanggapi membuat Serry sedikit membungkukan bahu. "Kamu tidak memberiku selamat atau kata-kata semangat, begitu?"


"Memang aku harus bilang apa?"


"Zafier, aku sedang sedikit memiliki masalah." Ucap Serry berterus terang. "Lagu yang akan aku rilis ada kendala sedikit. Aku perlu penyanyi laki-laki untuk laguku dan aku belum mempunyai penyanyi yang pas untuk berduet denganku. Zafier, kamu mau tidak membantuku menyelesaikan lagu? Aku mohon. Mau, ya?"


Serry mengatupkan kedua tangan di depan dada memohon pada Zafier.


"Aku tidak bisa menyanyi." Zafier meneguk jus jeruknya.


"Jangan bohong. Kalau kau tidak bisa menyanyi, kenapa kamu bisa memiliki band waktu SMA dulu?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Kamu bahkan menjadi vokalis, bukan?"


Zafier memalingkan wajah. "Kamu bisa mencari penyanyi yang lebih kompeten dariku. Aku hanya penyanyi amatir."


"Ayolah, Zafier. Jangan sembunyikan bakatmu. Tidak ada penyanyi profesional yang mau berduet dengan penyanyi pendatang baru sepertiku. Aku hanya butuh suaramu sedikit untuk menyempurnakan laguku. Kamu tidak perlu terlibat dalam video clip-nya. Aku mohon bantu aku, Zafier."


"Kalau aku tidak mau?"


Serry menghela napas sesaat. "Ini kesempatan aku untuk keluar dari dunia malam. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya menjadi penyanyi harapanku satu-satunya untuk meninggalkan masa laluku. Jadi aku mohon bantu aku. Kalau kamu membantuku menjadi seorang penyanyi itu artinya kamu juga membantuku meninggalkan profesiku yang hina itu."


"Kenapa kamu tidak mencari penyanyi yang handal untuk membantumu? Kau bilang ini harapan satu-satunya. Kalau sampai gagal menjadi penyanyi, kau akan kembali lagi ke dunia malam?"


Serry menghentakan kakinya di bawah meja. Mengepalkan tangan dan menggebrak meja. Tampak dia sedang sangat geram. "Itulah masalahnya. Aku sudah bilang kalau tidak ada penyanyi profesional yang mau berduet denganku. Penyanyi pendatang baru sepertiku mana ada yang melirik. Ayolah, Zafier, mau ya?"


Serry menundukan kepala memohon.


Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Zafier. "Baik. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" Kata Serry mendongak.


"Kamu harus benar-benar meninggalkan masa lalumu dan jangan pernah kembali sekalipun kamu gagal menjadi penyanyi. Hanya itu syaratnya jika kamu mau aku membantumu."


"Benarkah? Hanya itu? Kamu tidak menginginkan uang hasil penjualan laguku nanti?" tanya Serry penuh selidik.


"Kenapa kamu keberatan dengan syaratnya? Baik, aku tidak jadi membantumu kalau begitu."


"Tidak. Tidak. Bukan itu maksudku. Kamu yakin tidak mau uang dari laguku nanti?"


Zafier menjawab dengan sebuah gelengan menciptakan sedikit kebahagiaan di hati Serry.


"Kalau begitu, aku berjanji setelah ini apapun yang terjadi aku akan berhenti menjadi wanita penghibur, aku tidak akan pergi ke club malam dan akan menjauh dari pria hidung belang. Aku akan menjadi Serry yang baru." Ucapnya dengan berapi-api.


Serry mengulurkan tangannya. Sedangkan Zafier mengernyit bingung melihat tangan Serry yang menggantung di udara di depan wajahnya. "Apa?"


"Aku pinjam hp. Aku mau minta nomor teleponmu sekaligus aku menyimpan nomor teleponku di ponselmu."


Zafier merogoh saku celana, mengeluarkan benda canggih yang langsung disambar oleh Serry.


Tampak dari kejauhan, sepasang bola mata mengamati percakapan mereka sejak tadi. Ada kegelisahan di hati Yasmin saat melihat Zafier bersama wanita lain. Dia duduk bersama Leo namun, jiwanya tidak sedang di sana. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu apa saja yang diocehkan Leo. Kedua bola matanya tidak bisa lepas mengawasi kedekatan Zafier dan wanita yang bersamanya.


Siapa wanita itu? Kenapa mereka tampak akrab sekali? Wanita itu bahkan sampai bermain ponsel milik Zafier?


"Yasmin, kamu dengar aku?"


"Apa?" tanya Yasmin gelagapan. Dia kembali fokus pada orang yang di depannya.


"Aku bilang menurutmu bagaimana menyelesaikan masalahku dengan Irene? Kamu sejak tadi mendengarkan aku cerita masalah baruku dengan Irene, kan?"


"Hemm.. Hmm." Yasmin gelagapan. Dia bingung karena dia sama sekali tidak mendengarkan sepatah katapun dari Leo. "Aku tidak tahu. Sebaiknya kau konsultasi dari ahlinya saja. Aku mau ke toilet dulu, ya?"


"Ini." Kata Serry mengembalikan ponsel Zafier. "Sudah aku simpan nomor teleponku di situ. Aku akan menghubungimu kapan proses rekaman suaranya. Aku ke toilet dulu."


Tbc