I Was Your Man

I Was Your Man
Es Krim Vanila



Yasmin menatap resah nomor yang tertera di layar ponsel Zafier. Panggilan masuk dari Cintaku. Dia tidak berminat untuk mengangkat telepon itu tapi di detik terakhir dia goyang. Dia menekan tombol hijau dan menempelkan ke telinga.


"Hai, Zafier."


Suara yang tak lain adalah suara Serry. Suara Yasmin terasa tercekat di tenggorokan, tidak bisa menjawab.


"Terima kasih, ya? Berkatmu lagu pertamaku akan segera diliris. Aku akan mentraktirmu jika penjualan laguku laku keras. Hallo, Zafier."


Yasmin tetap diam.


"Hallo, Zafier. Kau dengar aku?"


Tut. Telepon ditutup oleh Yasmin.


Awas, jangan menyesal jika Zafier berpindah ke lain hati.


Kata-kata Sofia tiba-tiba berdengung di telinga Yasmin. Dia menutup telinganya rapat agar suara-suara Sofia tidak terdengar lagi.


Hingga ingatannya mengembara akan kejadian di pesta. Tepat ketika Zafier pergi ke toilet, Irene memanggil Yasmin.


Saat Yasmin berjalan mendekat, Irene sedang berbincang dengan seorang pria dan wanita. Sepertinya mereka pasangan suami istri. Mereka pergi begitu Yasmin ada di dekat mereka. Irene masih saja melambaikan tangan kepada pasangan itu hingga tak terlihat lagi oleh keramaian pesta.


"Dia Tuan Alex." Irene menunjuk pria tadi tanpa diminta. "Dan wanita itu istri simpanannya. Bisa-bisanya dia datang ke pesta dengan membawa istri simpanan, sedangkan istri sahnya berada di rumah bersama anak-anak mereka. Zaman sekarang wanita rela merendahkan harga diri mereka sendiri merebut suami orang hanya demi uang."


"Menurutku, tidak semua wanita. Kalau semua, berarti kita juga termasuk."


Irene tertawa. "Kalau seandainya Zafier menghianatimu, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku percaya Zafier tidak akan seperti itu. Tapi aku mempunyai prinsip, tidak ada penawaran untuk penghianatan. Tapi, sebelum aku bertindak jauh, aku akan mencari tahu siapa yang benar-benar berhianat."


"Zaf, bangun. Aku mohon. Bangun." Ucap Yasmin memelas. "Ada yang harus kamu tahu. Aku ingin kamu tahu bahwa perasaanku masih sama seperti dulu. Aku mencintaimu, Zaf."


Yasmin menjatuhkan kepalanya di sisi ranjang dekat dengan tangan Zafier yang diinfus. Untuk sekian kalinya dia menangis lagi.


Apakah sudah terlambat baginya untuk mengucapkan itu? Iya, Yasmin mengakui dia munafik tentang perasaannya. Dia telah lama menyayangi Zafier tapi tidak mau menunjukan perasaannya. Semata-mata tak mau lagi berharap lebih dan kecewa seperti dulu.


Isakan Yasmin terhenti ketika merasa ada sebuah tangan yang mengelus lembut kepalanya. Dia mendongak dan melihat Zafier yang telah membukakan mata tersenyum lebar.


"Kau bilang apa barusan?"


"Memang kau dengar apa?" pipi Yasmin berubah merah. Bukankah tadi Zafier belum sadarkan diri ketika dia menyatakan cinta? Apakah dia bisa dengar apa yang diucapkan Yasmin barusan?


"Aktingku bagus, kan?"


"Apa? Akting?" kata Yasmin setengah berteriak. "Jadi kau cuma pura-pura?"


"Aku menyuruh dokter agar tidak memberitahumu." Zafier berusaha menahan tawa.


Jadi, Zafier mendengar pernyataan cintanya tadi. Sungguh memalukan. Detik berikutnya, Yasmin meninju dada Zafier.


"Aww.. Sakit." Zafier mengangkat tangan kiri Yasmin. "Sejak kapan kamu memakai cincin ini?"


"Aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Hanya saja tidak aku pakai. Aku selalu menyimpannya di dalam dompet."


"Bagus." Menepuk lembut kepala Yasmin.


"Nomor di hpmu yang bertuliskan cintaku itu siapa?"


"Kenapa? Kau cemburu?"


"Tidak." Yasmin menjawab cepat. "Aku hanya.. Hanya.." Berpikir mencari alasan.


"Kita hanya berteman. Namanya Serry. Dia sendiri yang menuliskan nama cintaku di hpku."


"Lalu kenapa tidak kau ubah?"


"Tidak sempat." Jawab Zafier cuek.


"Zaf, ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa?"


Zafier menggeleng. Yasmin menghela napas panjang. Kecewa karena tidak bisa mengungkap siapa pelakunya. Tapi Yasmin yakin Irene dalang dibalik insiden keracunan Zafier.


"Aku hanya melihat ada orang yang berniat memberi racun ke dalam minumanmu. Tapi aku tidak kenal siapa dia."


"Lantas kau tahu minumanku beracun, kenapa kau minum, bodoh? Kenapa tidak kau buang saja?"


"Aku ingin melihatmu mencemaskanku." Kata Zafier seraya mencubit hudung Yasmin yang langsung memanyunkan bibir.


"Asal kau tahu saja, aku hampir gila melihat kamu kejang-kejang?"


"Iya, aku minta maaf."


"Aku mau keluar cari makan. Lapar."


"Tunggu." Tangan Zafier menahan Yasmin. "Apakah kau tidak mau mendengar jawabanku?"


"Jawaban apa? Memang aku tanya apa?"


"Sini." Zafier menarik lengan Yasmin agar gadis itu membungkuk. Di depan telinga Yasmin, Zafier berbisik, "Aku juga sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu."


***


Beberapa minggu kemudian.


Zafier mengeringkan rambut menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi. Tangannya terhenti melihat istrinya yang sedang menyendok es krim vanila dan melahapnya bulat-bulat. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.


"Katanya mau diet. Kenapa makan yang begituan?" Zafier menunjuk cup es krim ukuran besar yang ada di pangkuan Yasmin.


"Dietnya mulai besok saja." Jawab Yasmin melahap satu sendok es krim lagi.


Zafier merangkak naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Yasmin. Televisi dibiarkan menyala menyiarkan berita terkini tentang pengadilan Leo.


"Aku tidak habis pikir." Ucap Zafier masih menatap lurus televisi. "Leo itu mempunyai daftar kesalahan yang panjang, kenapa juga Irene harus membuat drama penusukan segala."


"Mungkin, dia ingin menambah panjang daftar kesalahan Leo." Sekali lagi melahap satu sendok penuh es krim. "Lebih baik sekarang tidur, besok kau sudah mulai kerja, kan?"


"Apa perlu aku mencarikanmu pengawal untuk menggantikanmu?"


Kini Zafier bukan lagi bodyguard, pengawal, pelayan, pesuruh atau apalah Yasmin menyebutnya. Dia bekerja di perusahaan desain.


"Tidak usah. Kalau ada apa-apa, aku bisa bela diri, tahu. Ciyaaa.. Ciat ciayaa..." Yasmin menirukan beberapa gerakan bela diri yang justru membuat Zafier terpingkal-pingkal. Detik selanjutnya, mereka tertawa bersama.


"Zafier, apa kau tidak pernah mencoba mencari Rey?"


"Untuk apa?" Zafier menarik napas panjang. "Beberapa bulan lalu, aku mendapat kabar dari teman Rey bahwa dia terkena kasus penipuan. Temannya bilang Rey sekarang sudah dijebloskan ke penjara."


"Lalu, kamu tidak melakukan sesuatu untuk membantu adikmu?"


"Untuk apa? Dia bukan adikku. Dia sendiri yang bilang seperti itu. Memutuskan persaudaraan dan ikatan keluarga seenaknya."


"Tapi bagaimanapun juga dia adikmu. Mungkin waktu itu dia hanya sedang emosi."


"Tapi dia sudah ada di dalam sel. Aku bisa berbuat apa?"


Zafier menatap intens Yasmin. Yang merasa ditatap menodongkan cup es krim.


"Mau es krim?"


"Mau." Ucap Zafier singkat. "Tapi yang di sebelah sini." Menjilat es krim yang belepotan di mulut Yasmin. Membuat pipi gadis itu bersemu merah.


"Makan yang ini. Jangan menjilat seperti itu." Yasmin menyuapi Zafier es krim. Tapi tangannya di tahan. Zafier menggelang.


"Tidak. Lebih enak yang ada di bibirmu." Menjilat lagi sisa es krim yang masih mengotori sudut bibir. Kemudian, berubah menjadi sebuah ciuman panjang.


Zafier merebut cup es krim dari Yasmin dan meletakan di meja tanpa melepaskan ciuman. Dia masih bisa merasakan rasa vanila. Ciumannya kini berpindah ke leher dan bahu.


Malam semakin larut, dan akan terasa sangat panjang oleh sepasang kekasih ini mencurahkan rasa cinta. Malam yang indah bagi Yasmin dan Zafier.