
"Hukumanmu yang pertama tidak boleh tidur di kamar. Kamu hanya boleh tidur di luar. Entah itu di depan TV, di sofa ruang tamu atau manapun. Asal jangan di kamar. Hukuman kedua, kamu harus masak sarapan dan makan malam untukku dengan menu yang sudah aku buat." Jelas Yasmin ketika mereka berada di mobil setelah selesai belanja di toko peralatan rumah tangga.
"Kenapa ada dua hukuman? Aku hanya melakukan satu kesalahan." Protes Zafier namun tatapannya tetap lurus ke depan fokus menyetir.
"Kamu punya dua kesalahan."
"Kesalahan yang mana?"
Yasmin berdecak dan memukul dahi. "Kamu tidak ingat, kamu mengaku menjadi suamiku di depan dua orang tua yang kita temui tadi."
"Itu kamu sebut kesalahan? Tapi, aku kan memang suamimu."
"Kamu tidak ingat perintahku." Melirik tajam Zafier dengan ekor matanya. "Kamu tidak boleh memberitahu siapapun soal hubungan kita. Ke siapapun." Kata Yasmin penuh penekanan saat mengucapkan siapapun.
"Tapi orang tua tadi tidak tahu identitas kita. Kita juga tidak tahu mereka siapa. Tidak akan jadi masalah kalau mereka tahu kita suami istri."
"Jangan banyak protes. Kamu tulus minta maaf atau tidak?"
Zafier menghela napas. Ah, dia pakai senjata itu lagi.
"Iya, iya aku tulus."
"Itu berarti..."
"Harus menuruti semua perintah Tuan Putri Yasmin." Ucap Zafier dengan nada malas.
"Bagus." Mengacungkan jempol.
"Sekarang kita mau kemana?"
"Aku mau ke butik. Akan aku tunjukan arahnya. Perempatan depan belok ke kanan."
Mobil melaju sesuai dengan arah yang ditunjukan oleh Yasmin. Diam sesaat di dalam mobil tak ada yang bicara. Mereka berada di dunia lamunan mereka masing-masing.
Zafier yang mengemudi mobil sesekali mencuri pandang ke kursi sampingnya. Melihat tubuh indah Yasmin, dia menelan saliva. Pembicaraan dengan bapak tadi membuat dia ingin sekali dekat dengan Yasmin. Tepatnya, lebih dekat dari jarak yang sekarang ini.
Dulu Zafier jarang melihat Yasmin berdandan di rumah, yang sering dia lihat ketika masih awal pernikahan ialah wajah polos Yasmin. Mungkin karena Zafier juga tidak meminta Yasmin bersolek atau sekedar membelikan alat make up. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu keadaan istrinya meski mereka tinggal satu atap.
Mungkin dahulu Yasmin tidak akan menolak jika Zafier menyentuhnya. Dia istri yang penurut dan polos.
Namun itu dulu. Zafier juga menyesal telah mengabaikan Yasmin. Sekarang dia baru mendapatkan batunya. Yasmin sudah berubah menjadi wanita yang tidak bisa terpisahkan dengan alat make up. Meski wajah polosnya itu sudah cukup menawan untuk di pandang.
Dia juga telah berubah menjadi wanita pemberani dan kuat. Zafier tersenyum tipis melirik pada Yasmin yang tidak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Yasmin sendiri sedang berada di dunia lamunannya. Dia sedang mengingat ketika untuk pertama kali dia mengenal cinta. Dan pria yang sekarang duduk di kursi pengemudi yang menjadi cinta pertamanya. Dia jatuh hati sejak pertemuan pertama. Bukan pertemuan pertama setelah lima tahun berpisah. Tetapi pertemuan pertama ketika Yasmin masih tiga belas tahun dan umur Zafier waktu itu empat belas tahun.
Lalu ketika Yasmin menginjak usia sembilan belas tahun, Zafier datang ke padanya membawa kabar baik dan juga kabar duka. Yasmin berpikir kalau cintanya pada Zafier hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan belaka. Ternyata puncuk dicinta, ulam pun tiba. Tak disangka pria yang dia cintai datang melamar di tengah kondisi hidupnya yang tinggal sebatang kara. Yasmin senang bukan main pada waktu itu.
Akan tetapi di sisi lain, Zafier juga membawa kabar duka kepergian Tuan Zaidan, ayah Zafier, dan juga sahabat dekat dari orang tua Yasmin.
Dia pikir hidupnya akan membaik setelah menyandang istri Zafier. Nyatanya tidak. Dia sadar bahwa dirinya hanyalah istri yang tidak dicintai, menantu yang tidak diinginkan dan keberadaannya di rumah Zafier hanya menambah beban. Bertepatan ketika itu keluarga Zafier sedang mengalami masalah finansial. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi menghilang dari pandangan Zafier dan keluarganya. Mengejar mimpi menjadi seorang model.
Dua minggu semenjak dia kabur dari rumah, Yasmin mengirimkan surat gugatan cerai melalui pos. Yang dibayangkan Yasmin waktu itu, pasti Zafier dengan senang hati menandatangani surat gugatan cerai.
Setelah Yasmin mendapatkan dunia baru yang lebih baik, dia dipertemukan lagi dengan suaminya. Apakah ini yang dinamakan takdir? Lalu akan seperti apa takdir mereka selanjutnya?
Yang jelas Yasmin tidak akan mudah menerima Zafier kembali. Dia sudah membunuh perasaan cinta pada suaminya.
"Yasmin."
"Sampai kapan kita akan terus seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Maksudku, mau sampai kapan kau akan menerima maafku?"
"Sampai aku melihat dan yakin kalau kau sungguh-sungguh."
"Jadi, sekarang aku tampak sedang main-main? Aku sungguh menyesal atas perbuatanku dulu. Aku menyesal dan aku meminta maaf dari lubuk hatiku dari dalam. Aku bersungguh-sungguh."
"Buktikan, kalau begitu. Jangan hanya bisa bicara saja." Yasmin tersenyum sinis. "Memangnya kenapa? Kau selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap hari. Apa kau pikir, setelah aku menerima maafmu itu berarti aku juga menerima kamu kembali?"
"Yasmin." Ucap Zafier lembut.
"Jangan harap. Jangan harapkan apapun dariku. Karena setelah aku puas mempermainkanmu kita akan berpisah."
Ucapan Yasmin sangatlah pelan namun tajam menusuk ulu hati Zafier. Sebegitu bencikah dia?
"Yasmin."
"Apalagi?"
"Apa kau tidak rindu pada ibu? Apakah kau sama sekali tidak memikirkan ibu? Bagaimana kondisi ibu sekarang?"
Yasmin termenung. Tatapan matanya berubah kosong. Benar. Dia tidak pernah memikirkan keadaan ibu. Sejak tinggal bersama Zafier, dia tidak pernah menanyakan kabar mertuanya karena dia pikir ibu juga tidak berharap perhatian dari Yasmin.
Aku menantu yang tidak diinginkan. Kepergianku adalah kebahagiannya. Untuk apa aku bertanya kabar, jika ibu telah bahagia. Mungkin, ibu senang karena dapat menikmati uang Zafier tanpa harus dibagi dua denganku. Mungkin, sekarang ibu sedang memilihkan wanita yang lebih tepat untuk menjadi istri Zafier.
"Bagaimana pun juga kamu masih menjadi menantu ibu. Kamu ingin tahu kondisi ibu sekarang?"
"Belok ke kiri setelah lampu merah di depan." Ucap Yasmin mengalihkan pembicaraan.
Selanjutnya, tak ada pembicaraan lagi. Zafier tahu, meski Yasmin tampak tak menghiraukan ucapannya, sebenarnya dia sedang memikirkan ibu. Senyum samar tersungging di bibir Zafier.
Sampai mereka tiba di butik, Yasmin keluar mobil terlebih dahulu dan selalu membuang muka saat tak sengaja bertemu pandang dengan Zafier.
"Sebentar lagi jam satu siang. Kau harus bekerja, bukan? Dan kita juga belum makan siang." Kata Zafier yang sudah mulai bosan menemani Yasmin memilih baju.
"Tunggu. Aku masih bimbang antar ke dua baju ini." Yasmin mengambil dua gaun berwarna ungu.
Kenapa bimbang? Kedua baju itu kan sama-sama warna ungu. Pilih saja salah satu. Apa susahnya. Ah, wanita selalu membingungkan.
"Menurutmu, mana yang cocok untukku? Gaun warna ungu orchid atau gaun ungu amethyst."
Zafier menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu mengangkat bahu.
Keduanya hampir sama. Ungu orchid yang mana, ungu amethyst yang mana. Zafier tidak tahu.
Yasmin mendesah. Memutarkan bola mata. "Lain kali kalau belanja baju, jangan mengajak laki-laki."
Tbc.