
Zafier sengaja memperlambat laju mobil ketika melewati sebuah taman kota. Matanya menelusuri tepi jalan mencari keberadaan Sofia. Tadi manager Yasmin itu menelepon untuk menjemputnya di taman kota.
"Ah, itu dia." Gumam Zafier yang kemudian membunyikan klakson mobil.
Sofia yang terlihat sedang menelepon seseorang terperanjat dan menoleh ke mobil hitam yang sangat dia kenal. "Aku harus kerja, aku tutup teleponnya ya. Dah." Mematikan telepon, memasukan ponsel ke dalam tas dan langsung masuk ke dalam mobil.
Ketika Sofia membuka pintu belakang mobil, dia tidak melihat Yasmin yang biasanya duduk di kursi belakang. Melainkan duduk di samping kursi pengemudi. Tempat favorit Yasmin di dalam mobil itu sudah diganti dengan beberapa tas belanja dan kardus.
"Kalian mau pindah apartemen atau apa?" tanya Sofia seraya menutup pintu mobil dan mobil pun melaju.
Yasmin menengok ke belakang. "Kenapa?"
Sofia menunjuk tumpukan barang dengan lirikan mata. "Memang semua benda ini tidak bisa ditaruh di bagasi?"
"Bagasinya penuh." Jawab Yasmin. "Cepat katakan apa saja jadwalku hari ini."
"Jadwalmu hari ini tidak banyak hanya pemotretan dengan produk parfum S. Tapi sepertinya akan memakan waktu lama karena dari pihak Fine Group (perusahaan Tuan Leo) menginginkan banyak foto yang diambil. Alasannya, mereka membutuhkan banyak gambar untuk bahan promosi mereka."
"Dimana kita akan pemotretan?"
"Kali ini pemotretannya di sebuah studio. Zafier sudah tahu alamat studionya. Aku sudah memberitahu dia tadi pagi. Semenjak ada Zafier, hidup kita jadi lebih mudah, ya?"
"Mudah bagimu. Bagiku, dia selalu saja melakukan kesalahan." Kata Yasmin ketus.
"Itu kamunya saja yang terlalu perfeksionis."
***
Satu.. Dua... Tiga...
Kilat lampu kamera sekilas menerangi wajah Yasmin. Lalu dia mengganti pose sambil menggenggam botol parfum.
Satu.. Dua.. Tiga...
"Oke, bagus. Cukup."
"Sudah selesai?" tanya Yasmin sumringah.
"Sudah. Kerjamu bagus dan profesiinal. Pekerjaan kita jadi lebih cepat." Puji si fotografer.
"Huft, syukurlah."
Syukur karena pekerjaan hari ini lebih cepat selesai dan aku lebih bersyukur karena tidak ada si Leo mesum itu di sini.
"Hai, bodyguard, kamu tunggu di sini. Aku mau ganti baju. Nih, pegang tasku." Yasmin menyerahkan tas jinjingnya ke Zafier dengan kasar. Lalu berjalan melintasi Zafier.
Usai ganti baju, Yasmin keluar dari studio dan tepat di ambang pintu keluar, Tuan Leo beserta asisten Gino menunggunya. Yasmin membungkukan punggung, dan menghela napas panjang.
Padahal aku sudah senang sekali dia tidak ada di depan mataku. Tahunya ketemu juga.
"Sudah lama tidak bertemu ya, Yasmin." Ucap Leo tersenyum. "Apa kau merindukanku?"
Hah. Yang benar saja. Merindukan orang sepertimu?
"Ayo, kemari. Aku ingin bicara denganmu."
"Tinggal bicara saja."
"Aku ingin bicara berdua. Hanya kau dan aku."
"Kenapa?" Yasmin melirik pada Zafier yang diam di sampingnya tanpa ada tindakan. Dasar, bodyguard. Bukannya membantuku lolos dari buaya ini. Malah diam saja.
"Tenang, aku tidak mungkin mencelakaimu." Melihat Yasmin yang tetap diam, Leo menuntun tangan Yasmin ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari pintu.
"Mau apa kau?"
"Aku pengawal Yasmin. Aku harus masuk."
Gino memberikan senyuman seringai. "Kau pikir, yang membayarmu siapa? Bagaimanapun juga kau masih menjadi anak buah Tuan Leo." Mendorong kuat tubuh Zafier hingga dia mundur beberapa langkah.
"Apa yang Tuan Leo inginkan dari Yasmin?"
"Bukan urusanmu."
Sementara itu, di dalam ruangan, Yasmin menghempas tangannya dari Leo begitu pintu tertutup. Leo membalikan badan untuk menatap Yasmin, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Duduklah." Leo menepuk sofa di sampingnya.
"Tidak."
"Duduk dulu, Yasmin."
"Aku tidak mau. Kalau akau tidak mau, berarti tidak mau." Kata Yasmin setengah berteriak. "Cepat katakan apa maumu?"
Leo terkekeh. Yasmin ini wanita berani atau keras kepala. Atau keduanya. Selama ini tidak pernah ada yang berani membentak Tuan Leo. Bahkan Yasmin memanggil Leo hanya nama saja, tidak dengan sebutan 'Tuan'. Kadang malah mengumpat dengan sebutan 'Leo Mesum', 'Buaya', 'Bos Mesum'.
"Aku tidak akan mengatakan maksudku jika kamu belum duduk."
Yasmin memutar bola matanya dan terpaksa dia duduk di samping Leo. "Cepat katakan, apa yang mau kamu bicarakan. Waktuku tidak banyak?"
"Tidak banyak?" Leo tertawa lagi. "Bukankah aku sudah menyuruh managermu untuk mengosongkan jadwalku selain pemotretan dengan perusahaanku saja."
Apa? Sofiaaaa. Bisa-bisanya dia lebih patuh pada perintah Leo dibanding aku. Awas saja kau Sofia. Yasmin mencengkram sisi sofa dan tatapan mata yang penuh amarah.
"Aku mengancam managermu itu. Lalu dengan mudah, dia patuh dengan apa yang aku perintahkan. Aku menjadi sadar bahwa ternyata rasa takut membuat orang mau melakukan apapun." Leo menatap lekat Yasmin. Hingga Yasmin sendiri merasa salah tingkah. "Yasmin, apa kamu mau menjadi istriku."
"Apa?" pekik Yasmin. "Kau sudah mempunyai istri. Bahkan, istrimu lebih cantik dan lebih kaya raya dibanding denganku."
"Tapi dia tidak membuatku bahagia, Yasmin. Kau, memiliki apa yang tidak Irene miliki. Sesuatu yang sangat aku inginkan. Dan aku berjanji, akan memberikan apapun yang kamu mau jika kamu bersamaku."
"Hingga akhir hidupku, aku akan membenci diriku sendiri jika aku menerima tawaran menjadi istrimu. Aku merebut kebahagiaan istrimu."
"Sudah aku bilang, Irene bisa mencari kebahagiaannya sendiri. Ada banyak pria yang rela mengantri di depan rumahnya untuk dijadikan suami. Aku sudah mengatakan itu padamu, kan?"
Yasmin memalingkan muka. "Lalu, apa kau tidak pernah memikirkan nasib anakmu? Apa kau tidak memikirkan mental anakmu jika tahu kedua orang tuanya berpisah? Dia akan tumbuh menjadi anak tanpa memiliki panutan sosok ayah dan ibu yang harmonis. Apa kau tidak memikirkan masa depannya? Kau hanya memikirkan dirimu saja. Kau egois."
Leo terkekeh lagi. Membuat Yasmin sedikit keheranan. Apa yang lucu coba. Atau jangan-jangan Leo mesum ini harus di tes kejiwaannya.
"Tahu apa kau tentang Junior? Anakku tumbuh seperti ibunya. Dia dikelilingi harta dan kemewahan bahkan sejak dia di dalam kandungan. Dia akan bahagia."
"Kamu pikir, kebahagian hanya diukur dari kekayaan? Jika iya, kamu seharusnya bahagia dengan Irene."
Leo terdiam. Menelan ludah. Perkataannya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sekarang Leo sadar Yasmin bukan tipe wanita biasa. Dia memang kupu-kupu yang sulit ditangkap. Mungkin tak pernah bisa dia dapatkan.
"Yasmin, aku mohon, jadilah istriku. Aku akan menceraikan Irene, lalu menikahimu." Kini Leo tidak punya pilihan lain selain memohon.
Cih, ini akan menjadi sejarah, aku memohon kepada seorang wanita untuk menikah.
Yasmin menjawab lewat gelengan kepala.
"Aku bisa menghancurkan karirmu bila kau menolak." Leo mengerlingkan mata, memberikan tatapan menghunus.
Tbc