I Was Your Man

I Was Your Man
Ancaman



Mobil milik Tuan Leo memasuki pekarangan luas di sebuah rumah megah yang hampir mirip kastil. Dia turun dari mobil dan segera berjalan ke dalam rumah. Rumah semegah itu mempunyai pelayan dan penjaga yang jumlahnya lebih banyak daripada anggota keluarga pemilik rumah. Namun tak ada satu orang pun yang terlihat batang hidungnya saat Leo melintasi ruang tengah.


Hanya ada penjaga di depan gerbang. Kemana perginya pelayan dan si istri bermulut knalpot racing itu? Ketika Leo melintasi ruangan lain pun tak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah itu seperti rumah kosong tak berpenghuni.


Akhirnya, Leo memutuskan untuk beranjak ke lantai atas. Tepatnya ke kamar utama. Dia lelah ingin beristirahat.


"Huft... Aman." Gumam Leo. Dia lebih suka setiap pulang kerja keadaan rumah seperti ini. Sepi dan sunyi. Ketimbang harus dihujani ocehan dari Irene. Lama-lama dia bisa masuk ke rumah sakit jiwa jika keseringan mendengar Irene marah.


"Apanya yang aman?" sebuah suara yang sangat dikenal Leo menggaung ke penjuru ruangan.


Leo yang tadi hendak menaiki tangga, mengurungkan niatnya dan berusaha membalikan badan menghadap ke sumber suara dengan badan gemetar. Irene duduk di sofa sandaran tinggi di sudut ruangan. Memandang Leo dengan tatapan tajam. Bagaikan seekor elang yang sedang mengamati gerak-gerik sang mangsa.


Sial. Sejak kapan dia ada di sana.


"Kau di situ rupanya, Sayang. Aku mencarimu." Kata Leo sambil merentangkan kedua tangan bermaksud ingin memeluk Irene. Namun Irene malah melipat tangan dan membuang muka.


"Sudah puas bermain dengan kedua bocahmu itu?" Irene ketus. Menurut Irene, Gino dan Zafier masih seperti bocah. Dikarenakan umur mereka yang jauh lebih muda dengan Leo.


"Bermain? Bocah? Sayang, Gino itu sekretarisku dan Zafier pengawalku. Jadi kemanapun aku pergi pasti dengan mereka berdua. Ngomong-ngomong, dimana Junior? Aku kangen dengan anakku." Leo mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak mengintrogasinya dengan pertanyaan yang aneh-aneh. Merangkul bahu Irene agar amarahnya luluh.


Tapi yang ada Irene semakin memanyunkan bibir. "Jadi kamu cuma kangen sama Junior. Tidak kangen denganku?"


Leo mendesah. Pria selalu serba salah dimata wanita, pikirnya.


"Kamu ini bicara apa sih. Ya tentu saja aku kangen dengan istriku yang paling cantik ini." Terpaksa Leo mengeluarkan jurus terakhirnya. Rayuan mautnya selalu meluluhkan hati perempuan. Termasuk juga Irene. Dia mengelus pipi Irene. "Kamu wanitaku, istriku yang paling cantik. Bahkan kecantikanmu membuat aku bersedia melakukan apapun untuk membahagiakanmu."


"Sungguh?" senyum berkembang di bibir merah Irene. Mulai tersentuh dengan rayuan Leo.


Yes, kena kamu. Leo menyunggingkan bibirnya, memeluk Irene dari belakang dan menempelkan sebelah kiri pipinya ke pipi kanan milik Irene. "Iya benar. Kapan aku berbohong padamu? Terima kasih ya, telah menjadi ibu yang hebat. Telah melahirkan dan membesarkan Junior."


Irene langsung membalikan badan untuk membalas pelukan suaminya. Meskipun begitu, Leo belum yakin seratus persen hati Irene sudah melunak jadi dia mencium bibir lembut Irene agar wanita itu semakin terbuai oleh rayuannya.


"Aku mengatur hidupmu karena aku peduli." Kata Irene yang masih berada di dalam dekapan Leo. "Meskipun pernikahan kita karena paksaan orang tua, tapi aku sangat mencintaimu. Kamu tahu itu, kan?" Menusuk dada Leo menggunakan jari telunjuk.


"Iya, aku tahu." Dari balik pelukan, Leo menyeringai merasa tipu muslihatnya berjalan dengan baik.


Dari dulu Irene selalu mudah untuk ditipu olehnya. Sejak mereka sah menjadi suami istri, Leo berbohong kalau bisnis yang dijalaninya bangkrut. Mengadu pada Irene bahwa dirinya telah gagal menjadi pengusaha dengan cerita yang sengaja didramatiskan.


Lalu, tanpa rasa curiga Irene memberikan kesempatan Leo untuk menjadi direktur di perusahaan miliknya sendiri yang merupakan perusahaan warisan dari sang ayah. Setelah itu, Irene memilih tinggal di rumah membesarkan putra mereka, Junior.


Leo melepaskan pelukan, mengusap pipi Irene lalu meningalkan sebuah kecupan di sana. "Ah, aku lelah, Sayang. Kamu juga pasti lelah menungguku, bukan?"


"Bagaimana kalau makan malam dulu, Sayang?"


Leo berpikir sejenak. Kalau dia menolak, pasti jiwa kekanakan Irene kambuh lagi. Akan sia-sia Leo mengeluarkan jurus pamungkasnya tadi, kalau Irene kembali merajuk. Terpaksa dia pun harus mengiyakan.


"Oh tunggu dulu." Irene menahan lengan Leo yang hendak pergi. "Aku punya kejutan untukmu." Memberikan senyuman penuh arti.


Merasa ada yang berbeda dari Irene, Leo mengerutkan dahi. Dia tidak bisa membaca arti senyuman Irene. Ada sesuatu yang sedang disembuyikan oleh istrinya. "Apa itu, Sayang?"


Irene mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil miliknya. Membuka benda canggih itu. Kemudian memberikan pada Leo.


Ponsel Irene sedang memutar sebuah video. Awalnya Leo heran mengapa Irene menunjukan video tidak jelas kepadanya.


Di video itu terekam sebuah ruangan redup minim pencahayaan. Lalu kamera berputar mengarahkan pada sosok wanita yang tengah tersedu sedu.


"Siapa dia? Apa maksudnya ini, Sayang?"


"Masak kamu tidak mengenalinya. Coba perhatikan wanita itu baik-baik."


Deg. Keringat dingin keluar dari dahi Leo. Tangan yang sedang menggenggam hp bergetar seketika. Mata Leo membelalak saat mengenali sosok wanita tersebut. Jantungnya serasa akan copot. Bagaimana bisa Irene mendapatkan video wanita yang pernah dia tiduri?


Sial. Wanita ini salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah aku sewa. Dari mana Irene tahu? Apakah dia mengawasiku selama ini?


Dan lagi, kondisi wanita di dalam video yang tampak baru saja mendapatkan penyiksaan. Terakhir kali Leo melihatnya, gadis itu berambut panjang terurai rapi. Namun dalam video, terlihat rambut gadis itu dipotong dengan sangat pendek. Nyaris botak dan potongannya sangat tidak rapi.


Ada luka lebam di mata kiri, sudut bibir dan juga pergelangan tangan. Wanita itu menagis menghadap kamera.


"Apa kau yang melakukan ini, Sayang."


"Kenapa? Kamu takut."


"Bukan." Jawab Leo cepat. "Kamu bisa ditahan polisi jika ketahuan melakukan kekerasan. Memangnya apa salah wanita itu hingga kamu melakulan perbuatan sekeji itu?" Leo pura-pura tidak tahu.


"Kesalahannya?" Irene tergelak sendiri. "Dia pernah menggodamu. Itu kesalahannya."


"Sayang, kamu bercanda? Aku tidak kenal dia."


"Jangan bersandiwara lagi, Sayang. Aku sudah tahu semua apa yang kamu lakukan di belakangku."


Deg. Leo menelan salivanya. Jadi selama ini dia dimata-matai. "Apa sekarang kamu tidak percaya lagi denganku, Sayang?"


"Percaya atau tidak, itu tidaklah penting. Yang aku mau, tidak ada seorang pun yang bisa menghancurkan keluarga kita. Aku tidak akan biarkan orang ketiga masuk dan merusak hubungan kita, Sayang." Irene meraih dagu Leo. "Ingat! Apa saja yang sudah aku berikan untukmu?"


Leo tahu bahwa Irene tidak pernah main-main dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Wajahnya berupah pias. Dia bukan siapa-siapa bila tanpa ada campur tangan Irene.


"Aku akan mencari wanita mana saja yang pernah menggodamu dan akan aku pastikan kondisi mereka akan jauh lebih parah dari wanita di dalam video itu."


Tbc.