
Dari semua orang di pesta ulang tahun pernikahan Leo dan Irene, hanya Zafier saja yang menampilkan wajah gusar dan cemas. Di saat semua orang menikmati pesta megah itu, dia malah frustasi. Matanya mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Menengok ke kiri dan ke kanan. Mencari Yasmin.
Dimana gadis itu? Tadi dia ada di sini, kenapa bisa hilang.
Hal yang paling ditakutkan Zafier adalah dia terlambat mencegah Yasmin meminum racun itu.
"Zafier."
Zafier melihat si pemilik pesta, Irene melambaikan tangan ke arahnya diantara kerumunan orang. Dia sebenarnya tidak berminat untuk mendekat. Ada urusan yang jauh lebih penting. Tapi, dia tidak enak hati, diapun mendekat.
"Kau mencari Yasmin? Dia ada di sini."
Zafier menghembuskan napas lega ketika mendapati Yasmin masih baik-baik saja. Seketika matanya tertuju pada gelas sampanye yang belum diminum.
"Aku pergi dulu, ya. Ada banyak tamu yang harus aku sambut. Selamat menikmati pestanya." Pamit Irene yang melenggang pergi meninggalkan Zafier dan Yasmin saja.
"Kenapa? Kau tampak seperti dikejar anjing gila."
Tanpa menjawab, Zafier merebut gelas yang dipegang Yasmin.
"Hey, itu minumanku." Teriak Yasmin berusaha meraih kembali gelas. Akan tetapi tangan Zafier yang menggenggam gelas terentang menjauh. "Kau tidak kebagian minuman, ya? Kasihan sekali." Ejek Yasmin.
Zafier diam saja. Dadanya masih naik turun. Sorot matanya tajam menatap Yasmin dan minuman di gelas bergantian.
"Kembalikan. Sini, itu minumanku. Kembalikan."
"Aku haus."
Yasmin hanya bisa menatap kesal Zafier yang menghabiskan minumannya. Irene bilang itu sampanye terbaik dari semua yang dia pesan khusus untuk tamu spesial. Tidak semua tamu mendapatkan sampanye itu. Artinya Yasmin diistimewakan dalam pesta megah ini.
Tapi sayang beribu sayang, sampanye terbaik sudah diteguk habis oleh Zafier. Yasmin mendengus kesal.
"Aku haus." Ucap Zafer lagi. Seperti apa yang dia duga. Tiba-tiba pandangannya perlahan kabur. Dia merasakan pening. Kepalanya terasa berat. Dia mendengar Yasmin memaki tapi tidak jelas. Lebih seperti dengungan lebah.
Hanya dalam hitungan lima belas detik, tubuh Zafier ambruk ke lantai. Seketika itu juga, Yasmin memekik keras. Mencuri perhatian semua orang.
Yasmin duduk bersimpuh di samping tubuh Zafier yang mengejang. Menangis. Tangisannya semakin menjadi ketika keluar busa dari mulut Zafier. Dia panik bukan main.
Orang di sekitar mereka hanya mengelilingi dan menonton. Hingga Leo muncul dari kepadatan orang yanga hanya bisa menyaksikan. Dia berjongkok di samping Yasmin.
"Ada apa? Kenapa Zafier?"
Pertanyaan Leo dijawab dengan suara sesenggukan Yasmin. Mulut Zafier tak hentinya mengekuarkan busa. Wajahnya pucat dan masih kejang-kejang.
Yasmin meletakan kepala Zafier di pangkuannya. Terus menangis sambil mengusap kepala Zafier.
"Apa yang kalian lihat?" Teriak Leo. "Cepat bawa dia ke rumah sakit!" detik itu juga Leo sadar bahwa mereka sedang ada di atas kapal pesiar. "Di sini ada dokter, kan?" teriaknya lagi.
Dua orang muncul membawa tandu dan membawa Zafier.
Ruang perawatan di kapal tidak memiliki fasilitas medis yang lengkap. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zafier di bawa menggunakan helikopter menuju rumah sakit yang berada di pesisir pantai paling dekat dengan kapal.
Dokter yang menangani Zafier bilang tidak apa-apa. Tapi bagi Yasmin, masih menjadi sebuah ketakutan.
Yasmin duduk lemas di ruang tunggu saat Leo berlari menghampirinya. "Kau tahu, minuman itu ditunjukan untukku." Ucap Yasmin menegakan punggungnya. "Itu artinya, ada seseorang yang ingin meracuniku. Ada orang yang membenciku."
"Aku minta maaf atas ketidak nyamananmu di pestaku. Aku akan mencari orang itu."
"Lebih baik kau pergi dan jangan pernah menemui aku lagi. Kau hanya membuat aku semakin dalam bahaya."
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir siapa yang berniat meracuniku? Siapa lagi? Tidak ada orang yang aku kenal di pesta itu kecuali kau dan Irene."
Mata Leo membelalak seketika. Ya, tentu. Kenapa dia tidak sampai terpikirkan? Tentu saja pelakunya ialah Irene. Istrinya itu masih saja meneror wanita yang dikabarkan dekat dengan Leo.
"Yasmin, aku mencintaimu. Aku akan urus Irene. Dia sudah keterlaluan. Setelah itu, kita bisa hidup bersama."
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Leo. Pria itu langsung memegangi pipinya yang seketika panas. Sorot matanya menatap Yasmin keheranan.
"Jangan asal bicara. Kau tidak pernah bisa memilikiku." Teriak Yasmin tidak peduli pada petugas rumah sakit yang langsung melirik ke arahnya.
"Kenapa?"
"Aku sudah menjadi milik orang lain." Yasmin mengacungkan tangan kiri. Menunjukan sebuah cincin. "Aku istrinya Zafier."
Leo langsung mencengkram lengan Yasmin ketika gadis itu hendak pergi. "Aku tidak akan membiarkan dia merebutmu dariku."
Yasmin menepis keras tangan Leo. "Aku tidak peduli." Katanya yang kemudian berlalu pergi.
***
BRAK.
Leo membuka pintu dengan keras. Tatapan tajam membunuh dilayangkan pada Irene yang sama sekali tidak terusik oleh kedatangannya. Irene menuangkan wine ke dalam gelas. Meneguknya. Lalu meletakan gelas lagi ke meja dengan tenang. Tidak peduli wajah marah suaminya.
"Apa yang kau lakukan pada Yasmin?"
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa."
Leo menyeringai. "Jangan berlagak tidak tahu. Kau yang berencana meracuni Yasmin. Apa yang kau mau sebenarnya?"
"Sepertinya ada seorang yang habis ditolak cintanya, ya? Kasian sekali." Ejek Irene sambil meminum wine sampai habis.
"Jangan mengalihkan pembicaraan?" Leo berusaha menutupi rasa gugupnya. Bagaimana Irene tahu Yasmin telah menolaknya mentah-mentah?
"Aku tahu semuanya. Dan aku sadar setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Selama ini aku salah. Aku pikir Yasmin yang mengejarmu, tapi ternyata kau yang mati-matian ingin mendapatkan gadis itu."
"Lalu, kau anggap apa aku ini?" pekik Irene.
"Irene, kau."
"Kamu hanya ingin hartaku saja, iya, kan. Kau tidak mencintaiku. Sejak awal kau memang tidak setuju kita dijodohkan." Kini Irene berjongkok. Kakinya lemas untuk berdiri. Lalu menangis.
"Lalu, kau mau apa? Cerai?" Bentak Leo. "Oke, kita cerai detik ini juga."
Leo melenggang meninggalkan ruangan itu. Tapi baru dua langkah dia membalikan tubuh dari Irene. Istrinya itu sudah berdiri mengacungkan sebuah pistol mengarah tepat ke punggung Leo.
"Enak saja kau bilang cerai. Kau yang diuntungkan jika kita bercerai. Kau masih bisa menikahi gadis muda lain dan hidup bahagia. Yang aku mau, kau juga merasakan penghianatan seperti yang aku rasakan."
Leo membalikan tubuhnya tanpa rasa takut. Menatap sinis Irene. "Kau gila. Kau ingin membunuh ayah dari anakmu sendiri."
"Ya, aku gila. Kau yang membuat aku gila." Teriak Irene.
Kemudian, Leo yang berusaha merebut pistol dari Irene meresa kewalahan karena Irene menggenggam kuat pistol. Hingga akhirnya pistol itu terlempar.
"Kau bilang, kau mencintaiku. Tapi sekarang kau ingin membunuhku." Ucap Leo.
"Apa kau juga mencintaiku?" tanya Irene. Tanpa menunggu jawaban Leo. Dia tertawa sendiri seperti orang gila. Entah apa yang dia tertawakan. "Aku bodoh. Aku bertanya yang jawabannya sudah aku tahu."
"Kau gila." Teriak Leo yang dengan cepat mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya. Dia hanya berencana menodongkan pisau kepada Irene untuk menakut-nakuti. Tapi yang terjadi Irene memeluknya sehingga pisau tajam itu menghunus perutnya.
Darah keluar dari tempat tusukan itu. Mengotori pisau hingga ke tangan Leo. Dia melihat Irene tersenyum penuh kemenangan.
"Penjaga. Penjaga." Teriak Irene dengan sisa suara yang ada sebelum akhirnya dia ambruk ke lantai.
Beberapa orang pria bertubuh besar masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung memborgol tangan Leo.
"Ini. Ini jebakan." Leo meronta. "Ini tidak seperti yang kau lihat."
Tbc