I Was Your Man

I Was Your Man
Keadaan Belinda



Sebuah sarapan yang sangat canggung terjadi di pagi harinya. Yasmin tidak berani bicara. Bahkan sekedar untuk meminta Zafier menyiapkan sandwich saja Yasmin hanya mengirim pesan di hp padahal mereka tinggal satu apartemen.


Hening. Sama sekali tidak ada suara dari kedua insan ini. Mereka sesekali mencuri pandang, tapi langsung membuang muka begitu tatapan mereka bertemu.


Tiba-tiba terdengar suara derak kursi. Zafier menoleh pada Yasmin yang sudah setengah berdiri. Lalu tatapannya beralih pada gelas kosong yang dipegang Yasmin. Tahu apa yang dibutuhkan istrinya, Zafier mengulurkan tangan.


"Biar aku saja yang ..."


"Tidak." Yasmin memotong ucapan Zafier, namun dengan suara lirih. "Aku bisa sendiri."


Yasmin berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Dia selalu minum air putih hangat setiap pagi. Tidak peduli berapa suhu air minumnya, yang penting hangat. Setengah air panas, setengah biasa. Yasmin mengisi gelas dengan air panas terlebih dahulu sambil melirik ke arah Zafier. Lama dia menatap intens pria yang sibuk menghabiskan sarapannya, hingga Yasmin tersadar karena air panas meluber mengenai tangan dan baju.


"Aduh, panas. Panas." Sontak Yasmin menjatuhkan gelas dan mengibaskan tangan.


Zafier yang mendengar Yasmin menjerit, berlari menghampiri. Menyambar lap bersih untuk menyeka air di tangan dan baju Yasmin.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zafier yang tetap menunduk memperhatikan telapak tangan Yasmin yang masih digenggamannya.


Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang? Cih, seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya saja. Dan wajahku juga terasa panas. Aku ingin melihat cermin. Apa wajahku tampak merah tersipu malu? Aaa apa yang terjadi denganku?


Yasmin menarik tangannya agar lepas dari genggaman Zafier. "Aku tidak apa-apa."


"Tanganmu harus diobati." Zafier kembali meraih tangan Yasmin. Memperhatikan setiap senti tangan Yasmin. Layaknya mendapati lecet pada sebuah benda berharga.


"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa." Menghepaskan tangan agar terlepas dari tautan tangan Zafier.


*J*angan mencari kesempatan untuk memegang tanganku sesuka hatimu.


Yasmin berjongkok hendak membersihkan serpihan gelas yang diikuti juga oleh Zafier.


"Aku saja yang bersihkan."


"Tidak usah. Biar aku saja. Aku yang memecahkan gelasnya."


"Tidak. Aku saja."


"Awww."


Sungguh sial nasib Yasmin hari ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tersiram air panas, lalu karena kurang hati-hati jari telunjuknya tertusuk pecahan gelas. Darah segar menetes dari ujung jari telunjuk yang lentik.


"Tuh, kan. Aku bilang apa tadi? Ayo, sini. Tanganmu harus diobati." Zafier menuntun Yasmin yang meringis menahan perih agar duduk di sofa. Dia mengambil obat-obatan yang diperlukan di kotak P3K.


Zafier duduk bersimpuh di depan Yasmin. Dengan sangat telaten dan penuh kehati-hatian, dia mengobati tangan Yasmin.


"Sudah." Kata Zafier begitu selesai dengan pekerjaan mulianya. "Tidak sakit lagi, kan? Tanganmu juga sudah aku olesi salep luka bakar."


Ingin Yasmin mengucapkan terima kasih, namun kata-kata itu seakan tercekat di tenggorokan. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Kau tadi mau minum? Sebentar biar aku ambilkan."


"Zaf."


Panggilan Yasmin menghentikan langkah kaki Zafier yang sudah beberapa langkah menuju dapur. Pria itu menoleh. "Apa?"


Zafier mengangguk dan kembali dengan segelas air putih hangat yang langsung diraih Yasmin. "Kita harus segera bersiap. Jadwalmu sangat padat hari ini. Sofia mengambil cuti selama dua hari. Jadi untuk sementara aku yang akan menggantikan Sofia."


"Cuti dua hari? Kenapa?"


"Nanti aku jelaskan di mobil."


***


"Aku menyarankan Sofia untuk membawa Belinda ke luar kota agar Tuan Leo tidak mengancam Sofia lagi. Dia menyetujui ideku. Meski pada awalnya dia sangat berat hati meninggalkan Belinda." Jelas Zafier ketika mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di tengah keramaian jalanan kota. Di samping kursi pengemudi, duduklah Yasmin yang memasang telinga dengan baik.


Tidak biasanya Yasmin duduk di samping Zafier. Sebelumnya, dia hanya mau duduk di kursi belakang dan tak akan sekali pun melirik si sopir.


"Belinda dititipkan ke siapa? Bukankah Sofia tidak punya keluarga lagi?"


"Orang tua suaminya. Kebetulan ayah mertua Sofia seorang kepala polisi di kotanya. Pasti akan lebih aman jika Belinda bersama kakeknya. Dan terlebih, ibu mertuanya seorang ibu rumah tangga. Beliau bisa mengawasi Belinda selama 24 jam. Aku yakin mereka pasti mampu menjaga Belinda dengan baik."


"Tapi... Apa mertua Sofia tidak keberatan jika mereka dititipkan Belinda?"


"Mereka tidak keberatan Sofia menitipkan Belinda. Justru mereka sangat senang bisa dekat dengan cucu kesayangan mereka."


"Kenapa Sofia tidak memberitahuku dulu, sih? Setidaknya, kan, aku bisa berpamitan dulu dengan keponakanku yang super lucu itu." Bayangan wajah gembul Belinda memenuhi pandangan Yasmin. "Uuuu aku gemas kalau lihat pipi bakpau Belinda. Ingin sekali aku mencubit pipinya itu." Tangan Yasmin mengepal di udara di depannya. Seolah sedang benar-benar menyubit pipi Belinda, membuat Zafier terkekeh.


"Memang Belinda semenggemaskan itu?"


"Kau belum pernah bertemu dengannya ya? Kalau kau bertemu dengan Belinda, kau juga akan melakukan seperti yang aku lakukan."


Zafier mengangkat bahu. "Tapi kita harus menjaga rahasia ini."


"Rahasia apa?"


"Ya, Sofia membawa Belinda ke luar kota. Itulah mengapa Sofia mendadak membawa Belinda, agar tidak ada orang yang tahu. Dan jangan sampai Tuan Leo tahu. Nantinya juga, Sofia akan mencari tempat tinggal baru."


Yasmin mengangguk, menghempaskan napas lega mendengarkan penjelasan Zafier tentang Sofia dan Belinda. Dia sudah menganggap Belinda sebagai keponakannya sendiri. Sedih sebenarnya karena tidak bisa bertemu untuk terakhir kali dengan bocah imut itu. Tapi karena keadaan yang mendesak, Belinda harus dibawa ke luar kota tanpa banyak orang yang tahu. Yasmin pun memaklumi itu.


Suasana di dalam mobil sudah sedikit mencair. Tidak secanggung ketika sarapan tadi.


"Harusnya Sofia membawa Belinda dari dulu." Kata Zafier.


"Kau tidak tahu rasanya berpisah dengan orang yang kau sayangi." Seketika Yasmin menutup mulutnya karena keceplosan berbicara tanpa menyadari siapa lawan bicaranya. Dia tahu arah pembicaraannya akan kemana.


Zafier menyeringai. "Tidak tahu katamu?" tanyanya sinis. "Aku bahkan sudah merasakan berpisah dengan orang yang aku sayangi selama lima tahun."


Deg. Tuh, kan. Yasmin salah bicara. Arah pembicaraan mereka menjadi kembali lagi ke seputaran hubungan mereka di masa lalu. Topik yang masih risih dibicarakan.


Lama keduanya terdiam. Yasmin sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi canggung seperti ini. Dia harus berpikir cara menghangatkan kembali suasana. Namun, Yasmin tak kunjung menemukan ide.


"Kau baru lima tahun saja seperti menderita seperti itu." Ucap Yasmin seakan sedang mengejek. "Aku berpisah dengan kedua orang tuaku, dua orang yang aku sayangi, sudah hampir dua belas tahun."


Lalu, Yasmin membuang muka, menatap keluar jendela mobil. Tak terasa sebuah bulir air keluar dari matanya yang indah.


Tbc