I Was Your Man

I Was Your Man
Menjenguk



"Aku boleh tinggal di sini untuk sementara waktu menunggu aku mendapatkan apartemen baru, kan?" tanya Sofia yang sudah membawa koper dan tas besar ke apartemen Yasmin.


"Yah, mau bagaimana lagi kamu kan sudah bawa kopermu kemari."


"Yes. Terima kasih, Yasmin cantik." Sofia mengecup singkat pipi Yasmin layaknya seorang ibu mencium anak kesayangannya. "Anggap saja aku ini pengawas kalian berdua." Kata Sofia melirik Yasmin dan Zafier bergantian.


"Pengawas apa? Memang kita melakukan apa?"


"Kata orang, kalau laki-laki dan perempuan tinggal satu atap bisa terjadi sesuatu."


"Ah, terserah. Kamu akan sekamar denganku karena tidak mungkin kalau kamu yang sekamar dengan Zafier, kan?"


"Kenapa kamu cemburu?" ledek Sofia. "Tidak. Tidak. Aku hanya bercanda." Ucap Sofia begitu dipelotot oleh Yasmin. "Aku ke kamar dulu, ya."


"Kamu sebaiknya siapkan makan malam." Perintah 'sang ratu' kepada Zafier yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Oh iya. Aku hampir lupa." Meletakan hp di atas meja. Namun, masih belum beranjak ke dapur. Zafier mematung di depan Yasmin. "Hari rabu depan sepertinya jadwalmu kosong. Jadi, apa aku boleh keluar sebentar?"


"Kenapa?"


"Selama satu setengah bulan aku bekerja padamu belum pernah aku libur. Aku bukan robot. Jadi aku perlu waktu untuk istirahat dan juga aku ingin menjenguk ibu. Boleh, kan?"


Yasmin menjawab lewat anggukan. "Cepat siapkan makan malam sana."


Zafier terlihat sedang mengirim pesan kepada seseorang, lalu berjalan ke dapur sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Tadi aku sudah mengganti nama nomor telepon Serry belum, ya? Ah sudahlah. Nanti saja.


Sementara Zafier di dapur, dan Sofia juga masih membereskan barang-barangnya di kamar, ini kesempatan Yasmin untuk memastikan apakah Serry memang benar kekasih Zafier atau bukan. Dia meraih hp milik Zafier yang tadi di letakan di atas meja.


Begitu Yasmin membuka ponsel milik Zafier, ada notifikasi sebuah pesan masuk dari 'cintaku'. Ah, rupanya Zafier lupa belum menggantinya. Rasa penasaran Yasmin semakin membucah, dia memeriksa riwayat pesan.


Zafier : Aku bisa pergi hari rabu depan.


Cintaku : Benarkah? Oke, hari rabu depan jam sembilan aku jemput kamu.


Ada sesuatu yang membuat Yasmin sesak dada saat membaca pesan tersebut. Tapi siapa sebenarnya cintaku ini? Apa dia benar Serry?


Tadi dia bilang ingin istirahat dan menjenguk ibu, tahunya mau berkencan dengan wanita lain. Dasar pembohong.


Kemudian, Yasmin memeriksa galeri foto di ponsel Zafier. Tidak banyak foto di sana karena Zafier bukan tipe orang yang senang berswafoto. Hanya ada beberapa gambar grafiti dan foto ibu sedang yang terbaring. Yasmin menajamkan matanya untuk melihat benda di sekeliling tempat tidur ibu.


Itu bukan kamar, tapi lebih tepatnya, seperti sebuah kamar rumah sakit. Ibu juga menggenakan baju runah sakit, diinfus dan beberapa alat bantu terpasang di tubuh ibu.


Deg. Ibu sakit? Sakit apa? Yasmin sama sekali tidak tahu kondisi ibu mertuanya sekarang. Bahkan Zafier juga tidak memberitahu.


Yasmin memeriksa foto lain. Benar. Penglihatannya tidak salah. Ibu sedang di rawat di rumah sakit. Dia memperbesar papan nama yang tergatung di tempat tidur untuk melihat di rumah sakit mana ibu dirawat.


Lalu tunggu! Yasmin ditambah tercengang saat mendapati foto dirinya tersimpan di ponsel Zafier. Iya, foto lama Yasmin masih Zafier simpan. Bukan foto Serry atau wanita lain. Melainkan foto Yasmin.


***


"Dia kan libur. Jam sembilan tadi dia keluar entah kemana. Memang kenapa? Tumben menanyakan Zafier." Kata Sofia yang sedang merapikan blazer yang dia pakai.


"Kamu mau kemana?"


"Mulai hari ini aku akan mencari apartemen yang cocok untuk aku. Tidak mungkin kan aku selamanya menumpang di sini."


"Bagus." Yasmin mengacungkan jempol.


"Lebih baik kamu segera mandi. Masa seorang model terkenal jam segini masih bau iler."


Sebuah bantal langsung melayang dan tepat mengenai kepala Sofia. "Sembarangan. Jadwalku hari ini kosong, jadi aku mau berleha-leha apa salahnya."


"Aku pergi dulu. Dah. Oh ya, aku sepertinya pulang malam. Ada teman lamaku yang mengajak ketemuan."


Perut Yasmin protes meminta diberi makan. Sehingga dia susah untuk tidur lagi. Selain itu, pikirannya sekarang sedang terusik karena Zafier pergi dengan wanita lain. Tapi yang lebih mengganggu pikirannya adalah kondisi ibu.


Ibu sakit apa? Kenapa Zafier tidak bilang kalau ibu sakit?


Akhirnya Yasmin membeli makanan melalui aplikasi pemesanan makanan secara online. Sembari menunggu pengantar makanannya datang, dia bergegas mandi.


Tepat setelah dia menggenakan pakaiannya, pesanan datang. Lalu makan sambil berdandan.


Tujuan pertama, ke toko bunga lalu ke toko kue juga untuk buah tangan menjenguk ibu. Yasmin sampai di rumah sakit yang tertulis di papan tempat tidur ibu di dalam foto yang kemarin dia lihat. Menanyakan ruang rawat ibu Yola kepada resepsionis. Benar saja, ibu mertuanya memang sedang di rawat di rumah sakit itu.


Yasmin melangkah menuju kamar yang ditunjukan resepsionis. Namun, ketika dia sudah tepat berada di depan pintu, hatinya menjadi bimbang. Ada rasa bersalah dan malu karena dulu dia pergi tanpa pamit dari rumah Zafier. Sekarang dia muncul begitu saja. Apa yang harus dia katakan? Apakah ibu akan menerimanya atau malah mengusirnya?


Yasmin mundur beberapa langkah. Aku sebaiknya pergi saja. Ibu pasti tidak mau melihatku. Ibu sangat membenciku. Terlebih aku dengan lancang kabur dari rumah.


Tepat ketika Yasmin hendak beranjak pergi, terdengar suara barang pecah dari dalam kamar. Membuat Yasmin menghentikan langkah kakinya, dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.


Di sana ibu terlihat seperti ingin meraih sesuatu. Tangannya terulur ke meja di samping tempat tidur. Sementara sebuah gelas pecah di bawah meja.


"Yasmin." Ucap ibu tak percaya. "Itu benar kamu, Nak."


"Ibu." Yasmin mendekat. "Ibu tidak apa-apa? Aku datang ke sini untuk menjenguk ibu."


"Yasmin." Ucap ibu sekali lagi dengan terisak dan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu sakit apa? Aku minta maaf, Bu."


"Minta maaf untuk apa? Ibu yang harusnya minta maaf padamu. Ibu banyak salah kepadamu." Ibu sudah tak bisa membendung air matanya. Dia menangis sejadinya.


"Ibu." Panggil Yasmin lirih. Dia tidak menyangka kata maaf terucap dari bibir ibu. Apa yang membuat ibu mertuanya berubah? Apa yang terjadi selama lima tahun dia meninggalkan rumah? Dia menggenggam erat tangan ibu.


"Ibu sakit apa? Maafkan aku, Bu. Aku bukan menantu yang baik. Aku malah meninggalkan ibu dan Zafier." Yasmin pun ikut terharu da tanpa sadar bulir kristal sudah menganak di pelupuk matanya.


"Ini karma bagi ibu dan keluarga ibu karena dulu pernah menyia-nyiakanmu, Yasmin. Ibu yang harusnya minta maaf."