
Pikiran Leo hanya tertuju pada Yasmin. Dia tidak mendengar ocehan Irene yang membicarakan bakat Junior di bidang musik, teman-teman sosialitanya, bahkan sampai mengkomentari rasa masakan makan malam mereka. Tidak ada sepatah katapun yang masuk ke dalam benak Leo karena telah dipenuhi oleh bayang-bayang Yasmin.
Bagaimana keadaan Yasmin sekarang? Apakah Irene sudah mengetahui bila aku mempunyai hubungan dengan Yasmin? Meskipun Yasmin menolakku tapi aku takut sifat cemburu Irene akan mencelakai Yasmin. Aku harus cepat menyingkirkan Irene.
Tunggu. Jangan gegabah. Jika hanya sekedar menyingkirkan Irene, telah aku lakukan dari dulu. Harus aku pastikan terlebih dahulu semua harta Irene berpindah tangan kepadaku. Semua hartanya. Lalu barulah aku singkirkan istri menyebalkan ini.
"Sayang, kamu dengar aku tidak?" Irene melambaikan tangan di depan mata Leo. Membuat Leo seketika terlonjak kaget.
"Iya, Sayang. Ehmm.. Ada apa?"
"Kamu mendengarkan aku bicara tidak sih?" Irene sudah memasang wajah cemberut lagi.
"Iya aku dengar, Sayang."
"Apa?"
Ah. Sial.
"Soal Junior, kan?" Leo mengira-ngira. Setiap hari pembahasan Irene pasti seputaran Junior. Junior. Junior lagi. Junior terus. Lagi lagi Junior. Jadi Leo mengira yang dibahas Irene kali ini pun masih tentang Junior.
"Bukan." Wajah Irene satu tingkat lebih menyeramkan.
Deg. Matilah aku.
"Tuh, kan. Kamu tidak mendengarkan." Melipat tangan di depan dada dan memalingkan muka. "Aku akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan kita. Rencananya akan aku selenggarakan di sebuah kapal pesiar. Menurutmu bagaimana?"
"Pesta ulang tahun pernikahan?" Ulang Leo. Memutar bola mata mencoba mengingat tanggal pernikahannya. Kalau tidak salah itu masih tiga bulan lagi. "Itu kan masih lama, Sayang."
"Aku ingin pesta ulang tahun pernikahan kita menjadi pesta yang paling sempurna. Jadi aku akan menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Kamu tidak suka, ya?" menatap penuh curiga pada Leo. "Apa bagimu pesta ulang tahun pernikahan kita tidak penting?"
"Bukan. Bukan begitu, Sayang. Aku serahkan semuanya padamu. Kan kamu yang paling pintar mengatur pesta. Aku yakin kalau kamu yang mengatur pesta kita pasti akan menjadi pesta yang paling meriah." Leo meraih tangan Irene dan mencium punggung tangan itu.
"Lakukan apa saja, apapun yang kamu inginkan di pesta ulang tahun pernikahan kita. Mau di atas kapal pesiar, mau mengundang semua kolega kita, atau mau diadakan selama 7 malam, aku akan setuju. Semua terserah kamu, Sayang. Asalkan kau bahagia." Sekalian pesta di planet mars juga terserah.
"Lalu kenapa kamu tidak mendengarkan aku bicara tadi? Kamu malahan melamun. Sedang memikirkan siapa?"
"Aku tidak memikirkan siapa-siapa." Leo berbohong tidak mau mengakui. "Kamu jangan berprasangka buruk dulu. Aku hanya kelelahan, Sayang. Lebih baik, sekarang kita naik ke atas ya?"
Mereka menaiki tangga. Begitu sudah berada di dalam kamar, Irene yang lebih dulu masuk ke kamar mandi. Leo memanfaatkan kesempatan yang ada, mumpung Irene berada di kamar mandi dia gunakan waktu untuk segera menelpon Zafier.
"Halo, Zaf." Sapa Leo begitu Zafier mengangkat telepon.
"Halo, Bos. Ada apa?"
Sekali lagi melirik ke arah pintu, memastikan bahwa Irene masih berada di dalam kamar mandi. "Irene tahu apa yang aku lakukan dibelakangnya." Jelas Leo langsung pada intinya mengingat waktu yang sedikit. "Dia bahkan sampai melakukan penyiksaan kepada salah satu wanita yang dulu aku ajak kencan. Zaf, aku mau kau melakukan tugasmu dengan baik."
"Pasti, Tuan. Akan aku laksanakan tugasku dengan baik."
"Lindungi Yasmin. Pastikan tidak ada yang memata-matai Yasmin. Jangan sampai Irene mengetahui hubungan kami. Dan paling penting jangan biarkan Yasmin dalam bahaya."
"Baik, bos."
"Lakukan tugasmu dengan baik, mengerti?"
"Sayang, telepon sama siapa?" suara Irene dari belakang punggung Leo yang seketika langsung menutup panggilan secara sepihak.
"Tidak, Sayang. Bukan siapa-siapa." Ucap Leo gugup. "Aku ke kamar mandi dulu ya?" buru-buru dia berlari ke kamar mandi sebelum Irene menghantamnya dengan jurus seribu pertanyaan.
Yah. Begitulah Leo. Di depan umum dia tampak orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Bisa melakukan apapun yang dia mau. Namun, dibalik topeng kekuasaannya dia tidak lain hanyalah seorang suami takut istri.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Zafier dengan kecepatan normal memecah jalanan malam. Meski malam telah menyelimuti kota X namun jalanan masih saja ramai layaknya siang hari. Kendaraan yang masih memadati jalanan dan juga pejalan kaki yang hilir mudik berjalan di trotoar, dan keluar masuk area pertokoan.
Kota X ini terkenal akan pariwisata pantai yang eksotis dan juga resto-resto yang menyajikan makanan laut dengan rasa kelas dunia. Tidak heran di malam yang cerah karena diterangi cahaya bulan seperti ini banyak wisatawan yang memilih keluar untuk menyantap makan malam di restoran pilihan mereka.
Tidak terkecuali Yasmin dan Sofia. Setelah proses syuting selesai pukul tujuh malam, mereka mampir di sebuah restoran seafood.
"Kamu di sini saja. Jaga mobil." Perintah Yasmin pada Zafier yang hendak keluar dari mobil.
"Yasmin, jangan begitu." Memukul lembut bahu Yasmin. "Bagaimana pun juga dia itu pengawalmu yang harus kamu kasih makan."
Zafier menunduk. Ya ampun. Segitunya. Kesannya seperti aku ini bawahan yang sering ditelantarkan. Baru juga beberapa jam menjadi pengawal istriku sendiri.
"Ayo, Zafier, ikut kami ke dalam. Untuk apa menjaga mobil. Restoran sebesar ini pasti punya security dan ada cctv juga. Lagipula ini bukan mobilmu. Ini mobil Tuan Leo. Kalau mobil ini sampai hilang, Tuan Leo bisa beli lagi."
Yasmin mendesah mendengar ocehan Sofia yang seperti gerbong kereta api. "Ya, iya deh. Kamu boleh ikut masuk ke dalam tapi tidak boleh makan."
"Yassssmmmiin." Sofia mendesis kesal dengan tingkah laku Yasmin.
"Aku cuma bercanda, kok. Kamu boleh masuk ke dalam, ikut makan, dan kami yang akan membayar." Puas.
"Tidak usah, aku bisa bayar sendiri."
"Baguslah kalau begitu." Ucap Yasmin yang kemudian langsung turun dari mobil.
"Eh, hmm. Maaf ya, Zaf. Yasmin memang masih seperti anak kecil. Jangan diambil hati ya?" Sofia menepuk bahu Zafier.
"Tidak masalah, Sof."
Mereka pun menikmati makanan yang mereka pesan walaupun selama makan malam berlangsung tidak ada yang membuka obrolan. Mereka makan dalam diam dan Zafier yang menghabiskan makanannya lebih dulu.
Dia izin pergi ke toilet. Tepat saat dia telah selesai dari dalam toilet pria, ponselnya berdering. Panggilan dari Tuan Leo. Segera dia mengangkat telepon.
"Halo, Bos. Ada apa?"
"Irene tahu apa yang aku lakukan dibelakangnya. Dia bahkan sampai melakukan penyiksaan kepada salah satu wanita yang dulu aku ajak kencan. Zaf, aku mau kau melakukan tugasmu dengan baik."
"Pasti, Tuan. Akan aku laksanakan tugasku dengan baik."
"Lindungi Yasmin. Pastikan tidak ada yang memata-matai Yasmin. Jangan sampai Irene mengetahui hubungan kami. Dan paling penting jangan biarkan Yasmin dalam bahaya."
Ya. Ya. Ya. Aku tahu. Itulah tugasku dari dulu. Bahkan sejak mendapatkan perintah darimu. Ucap Zafier dalam hati.
"Baik, bos."
"Lakukan tugasmu dengan baik, mengerti?"
Tut. Pangilan dimatikan.