
Yasmin terbangun di suatu malam saat dirinya masih berusia sembilan belas tahun. Dia merasa ada suatu benda menindihi tubuhnya. Dia mengangat kepala dan membuka setengah mata karena masih mengantuk. Ternyata suaminya sudah terkapar di atas tubuh Yasmin. Mata Zafier terpejam namun masih menggunakan setelan baju yang terakhir dia pakai saat keluar rumah tadi sore.
"Zaf" Yasmin mengguncang tubuh Zafier pelan tapi suaminya itu tetap memejamkan mata. "Zaf, sudah pulang?" kata Yasmin dengan suara lebih keras berharap Zafier bangun. Sayang, Zafier tak kunjung membuka mata.
Yasmin melirik jam dinding. Pukul empat pagi.
Kenapa Zafier pulang selarut ini bahkan sampai pagi buta?
"Zaf, bangun! Kamu menindihi tubuhku. Aku pengap. Aku sesak nafas, Zaf. Bangunlah!"
Yasmin tidak bisa bangkit karena tubuhnya telah terkunci oleh beban badan Zafier. Dia mulai mencium bau aneh. Yang pasti bukan bau parfum suaminya, dia tahu betul aroma parfum Zafier. Yasmin mengendus-endus. Bau yang asing bagi Yasmin.
Bau apa ini?
Tiba-tiba....
HUUEEKK!!!
Zafier memuntahkan semua isi perutnya tepat di atas dada Yasmin.
"Aarghhhh!!" Yasmin memandang jijik badannya sendiri yang terkena muntahan. "Zaf, apa-apaan ini?"
Mendengar jeritan Yasmin membuat Zafier sedikit membuka matanya. Lantas dia bangun hendak ke kamar mandi, tapi dia terlalu lemas dan isi perut yang memaksa ingin keluar. Mual muntah di atas kasur pun tak terhindarkan mengenai seprai dan selimut.
HUUUEEK!!
"Zaf, kamu kenapa? sakit? Kamu pasti masuk angin ya?"
Zafier hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kamu mau minum? Aku ambilkan air hangat ya? Tunggu sebentar." Yasmin kembali lagi sambil membawa segelas air putih hangat. "Minumlah!"
Zafier minum dan ketika itu pula ibu masuk ke kamar. Mata ibu membelalak melihat muntahan di atas tempat tidur. Tatapan tajam langsung dilayangkan ke arah Yasmin.
"Yasmin, ada apa ini?" tanya ibu panik.
"Aku juga tidak tahu, Bu. Zafier tiba-tiba muntah."
Ibu menatap nanar putra sulung sekaligus putra kesayangannya. "Zaf, kamu sakit? Ini pasti karena kamu bekerja terlalu keras. Bahkan jam segini kamu baru pulang?"
Zafier tidak menjawab. Dia tetap terkapar di atas tempat tidur membuat ibu semakin trenyuh dengan kondisi Zafier.
"Sini biar ibu yang merawat kamu." Ibu mendorong tubuh Yasmin untuk mundur. Mulai melepaskan sepatu dan jaket Zafier. "Istrimu itu masih terlalu muda, dia belum bisa mengurusmu dengan benar. Kenapa kamu mau saja menikah dengan dia?"
Hati Yasmin bergetar. Bagaimana bisa ibu mertua mengatakan seperti itu di depan mata kepalanya sendiri? Mata indah Yasmin mulai berkaca-kaca. Ini bukan pertama kalinya ibu meremehkan Yasmin. Sejak kedatangannya ke rumah ini pun, ibu sudah tidak memberikan respon yang baik.
"Hai, Yasmin. Jangan hanya diam di situ! Kamu bersihkan tempat tidur lalu cuci seprai dan selimut kotor itu!"
Yasmin terlonjak kaget. Tampak Yasmin mengusap ujung matanya menggunakan punggung tangan. "Ba. Baik, Bu."
Usai pekerjaannya selesai, Yasmin masuk ke dalam kamar. Di sana Zafier masih terlelap. Yasmin merasa penasaran sekali dengan Zafier. Ada beberapa hal yang mengganjal di benak Yasmin. Pertama, tidak biasanya Zafier pulang hingga pukul empat pagi? Kedua, Yasmin teringat bau yang tadi dia cium seperti bau minuman berakohol.
Yasmin meraih ponsel milik Zafier yang berada di atas nakas. Membuka riwayat panggilan dan pesan di ponsel untuk mengetahui dengan siapa saja Zafier berhubungan.
Panggilan keluar dan panggilan masuk di riwayat panggilan ponsel merupakan nomor yang sama yang dinamai oleh Zafier dengan nama 'Sam'. Yasmin mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat seseorang yang bernama Sam.
Oh, ya, aku ingat. Dia itu teman lama Zafier, bukan? Zafier memperkenalkannya saat pesta pernikahan.
Yasmin duduk di tepi tempat tidur. Memeriksa pukul berapa mereka bertelepon. Ternyata Sam yang terlebih dahulu menelpon Zafier pada pukul 11.45 lalu Zafier menelpon balik Sam tujuh belas menit kemudian. Di jam-jam seperti itu, waktunya Zafier pulang. Yasmin merasa layaknya seorang detektif sekarang. Jiwa-jiwa keingin-tahuannya sudah di atas rata-rata.
Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Tidak mungkin aku bertanya langsung pada Sam. Dia bisa saja berbohong.
Kemudian, Yasmin memeriksa di bagian pesan. Dia sangat mengharapkan tidak ada obrolan Zafier dengan wanita lain. Dia masih bisa menerima kenyataan jika Zafier mabuk, tapi dia tidak kuasa jika dibelakang ternyata Zafier bermain api.
Yasmin me-scroll barisan chat hingga paling bawah dan bernapas lega. Semua obrolan di ponsel, hanya dengan laki-laki. Ada pun obrolan dengan wanita hanya sekedar urusan pekerjaan. Yasmin sudah mengecek semua isi obrolan di ponsel. Tidak ada yang mencurigakan.
Lalu apa yang dilakukan Zafier tadi malam. Yasmin mengetuk-ketukan ponsel ke dagu.
Dia memutuskan melihat sosial media milik Sam dan mendapati pemilik sosial media tersebut baru saja mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan Sam sedang menggenggam botol minuman keras bersama beberapa pria lain. Yasmin menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas siapa saja pria yang bersama Sam.
Tidak ada Zafier di sana. Atau apakah mungkin Zafier sendiri yang memotret foto ini?
"Yasmin!" teriak ibu dari depan rumah. "Yaasssmiiin!"
"Iya, Bu." Yasmin meletakan kembali ponsel ke atas nakas dan berlari menuju ibu dengan tergopoh-gopoh.
Ibu dan tetangga lain sedang mengerubungi pedagang sayur. Ibu memberikan kantong belanjaannya saat Yasmin sudah berada di hadapan ibu.
"Nih, ambil. Kamu masak sop ayam sekarang. Zafier itu paling suka makan sop ayam. Makanya, kamu jangan masak yang aneh-aneh, sekarang Zafier jadi sakit, kan?"
Yasmin melirik sekilas isi kantong belanjaan. Ada daging ayam dan beberapa sayuran.
"Zafier sakit apa, Bu Yola?" tanya salah satu tetangga.
Ibu hanya menghela napas. "Itu gara-gara Yasmin sering ngasih makanan sembarangan ke Zafier jadi dia sakit. Ditambah lagi Zafier harus banting tulang mencari nafkah."
Deg. Jantung Yasmin terasa remuk dari dalam. Sungguh tega ibu mempermalukannya di hadapan tetangga. Dia ingin membuka mulut untuk membela diri, namun dia cukup tahu diri. Posisinya di rumah hanyalah sebatas menantu.
"Zafier itu anak yang baik dan bertanggung jawab sekali sama keluarga, ya, Bu Yola."
"Iyalah tentu saja. Aku yang sudah mendidiknya menjadi anak yang baik dan sayang sama keluarga. Apalagi sama ibunya sendiri. Saking sayangnya ke saya, Zafier itu meskipun sudah memiliki istri tapi tetap memberi nafkah ke ibu dan juga adiknya. Ya, mau bagaimana lagi, ayah Zafier kan sudah tidak ada. Makanya Zafier sekarang bekerja tambahan di cafe."
salah satu tetangga yang lain menggelangkan kepala sambil berdecak. " Hebat juga Zafier ya? Sosok pekerja keras. Eh, tapi bukan Zafier itu masih kuliah, Bu Yola?"
"Iya, masih." Ibu melirik Yasmin yang masih saja berdiri di tempatnya. "Lho kok masih di sini. Cepat ke dapur!"
"Ba. Baik, Bu." Kata Yasmin gelagapan.