
Yasmin memberikan segelas air putih yang langsung diteguk oleh ibu. Dia juga telah membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai. "Ibu, aku bawakan kue. Ibu mau?"
Ibu mengangguk. Yasmin memotong kue dan memberikan sepotong untuk ibu. Lalu dia duduk di kursi samping tempat tidur.
"Ibu suka kuenya?"
"Iya, kue ini enak sekali."
Yasmin tersenyum. "Kalau begitu akan aku belikan lagi jika aku datang kemari. Apa tidak ada yang menemani ibu di sini?"
"Sebenarnya Zafier memperkerjakan seseorang untuk menemani dan menjaga ibu di sini, tapi... dia sepertinya tidak senang bekerja merawat ibu. Dia sering mengeluh. Bahkan dia sekarang entah kemana."
"Apa Zafier dan Rey sering membesuk ibu?"
"Zafier, dia dulu sering menyempatkan waktu untuk menemui ibu tapi beberapa minggu ini dia bilang dia sedang sibuk."
Yasmin memutar memorinya. Dia tersenyum malu sekaligus merasa bersalah. Tentu yang membuat Zafier tidak bisa datang menemui ibu karena dirinya. Dia terlalu mengatur Zafier. Membebani Zafier dengan segala macam kemauan yang harus berjalan dengan semestinya. Dia melakukan hal itu semata hanya ingin membalas sakit hatinya.
"Terakhir ibu menghubunginya, dia bilang, dia sudah menemukanmu. Jadi ibu sedikit lega."
"Lalu, kemana Rey?"
Pupil mata ibu membesar saat Yasmin menyebut nama Rey. "Apa Zafier tidak memberitahumu?"
"Memberitahu apa?"
"Rey kabur dari rumah membawa sejumlah uang tabungan ibu tiga tahun yang lalu. Dia memang anak tidak tahu diri."
Yasmin menutup mulutnya yang menganga mendengar Rey juga pergi dari rumah. Apalagi membawa kabur uang ibu. Sementara itu, mata ibu kembali berkaca-kaca dan suaranya mulai serak.
"Keadaan keluarga kami semakin memburuk setelah kamu pergi dari rumah. Kamu pergi, Rey juga pergi dengan membawa uang tabungan ibu, tidak sampai di situ penderitaan ibu. Satu tahun setelah Rey kabur, ibu didiagnosa terkena kanker ovarium. Ibu harus menjalani beberapa pengobatan dan kemoterapi. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit." Ibu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis.
Yasmin hanya bisa mengelus bahu ibu untuk memberikan ketenangan.
"Sebenarnya ibu tidak mau merepotkan Zafier. Dia sangat terpukul ketika mendapati kamu pergi. Dia tidak peduli dengan keadaannya sendiri. Yang selalu dia pikirkan hanya kamu, Yasmin. Ibu tahu, dia sangat frustasi tapi sekarang ibu malah menambah beban bagi Zafier. Dia harus putar otak, banting tulang untuk mencari uang pengobatan ibu."
"Ibu..."
"Terkadang ibu ingin mati saja, agar tidak membebani Zafier. Tapi ibu juga takut karena ibu belum meminta maaf kepadamu. Ibu banyak salah kepadamu."
Tak ada yang bisa Yasmin lakukan kecuali memeluk tubuh ibu yang lemah itu. Mengusap punggungnya. Ini pertama kalinya dia berpelukan dengan ibu mertuanya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, Bu. Zafier anak ibu yang masih menemani ibu sampai sekarang. Dan ibu pun satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki Zafier. Ibu jangan khawatir soal biaya rumah sakit. Aku akan membantu Zafier mencari pengobatan yang terbaik supaya ibu sembuh." Yasmin tersenyum. Berharap senyuamannya dapat menular ke ibu.
"Oh ya. Zafier bilang kamu kerja sekarang. Kerja apa?" Ibu menelisik pakaian yang digenakan Yasmin. Jelas pakaian yang bermerek. "Pakaianmu bagus. Kamu juga terlihat lebih cantik. Pasti kehidupanmu sekarang lebih enak daripada ketika masih bersama ibu."
"Ibu jangan bilang seperti itu."
"Ini karma untuk ibu. Ternyata memiliki anak laki-laki tidak terlalu telaten mengurus ibu. Di saat-saat seperti ini ibu baru menyadari bahwa ibu juga membutuhkan menantu perempuan. Ibu sekarang hidup sendirian. Kamu lihat tadi? Hanya untuk mengambil minum saja, ibu kesusahan. Tidak habis pikir, bagaimana kamu bisa bertahan hidup sendirian tanpa orang tua."
"Ibu sudah. Jangan bahas itu lagi."
"Andai ibu menerimamu saat pertama kali ayah Zafier membawamu ke rumah, mungkin kamu tidak perlu hidup sendirian."
"Ah, itu." Yasmin menunduk. Ibu telah membuka memori kelamnya yang sudah dia kubur bersama masa lalunya bersama Zafier. "Itu kan sudah lama, Bu. Tolong jangan dibahas lagi, ya? Sekarang kita fokus saja ke masa depan."
"Ibu." Yasmin menelan salivanya. Mengerjapkan mata beberapa kali. Berusaha agar tidak menangis. "Ibu tahu, aku sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Ibu sudah aku anggap ibu kandungku sendiri. Aku sengaja pergi dari rumah karena aku pikir itu akan membuat ibu dan Zafier bahagia. Justru aku yang harusnya meminta maaf atas kebodohanku."
Ibu menarik napas panjang dan tersenyum. "Sekarang ibu lega. Jika nyawa ibu dicabut detik ini juga, ibu akan meninggal dengan tenang. Tolong jaga Zafier, ya? Kalian tidak jadi bercerai, kan? Ibu bisa melihat dari matamu masih ada cinta untuk Zafier."
"Ibu mau kue lagi?" tanya Yasmin mengalihkan pembicaraan.
"Boleh."
"Aku akan membawakan kue ini lagi jika aku datang kemari."
"Zafier bilang, dia juga akan ke sini. Kenapa kalian tidak datang bersama?"
Sesaat Yasmin menghentikan tangannya yang sedang memotong kue. Lalu melanjutkan kembali dan memberikan potongan kue untuk ibu. "Dia ada keperluan dengan temannya."
Sesungguhnya, Yasmin juga tidak tahu pasti dimana dan sedang apa Zafier sekarang.
Detik itu juga, pintu terbuka. Yasmin dan ibu menoleh ke arah pintu. Di sana, Zafier sudah berdiri dengan raut wajah sedikit pucat.
"Yasmin."
"Zafier, kamu datang rupanya." Sapa ibu tersenyum cerah. "Baru juga ibu dan Yasmin membicarakanmu, kamu sudah datang."
Ibu menoleh pada Yasmin dan Zafier bergantian. Ibu bisa merasakan kecanggungan diantara keduanya dan air muka Yasmin yang berubah. Gadis itu sama sekali tidak menatap Zafier.
"Ibu, aku pergi dulu. Ada kepentingan mendadak. Lain kali aku akan lebih sering ke sini."
Ibu menepuk bahu Yasmin dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Ibu bisa memaklumi kamu sibuk. Tidak perlu memaksakan datang kemari, jika memang kamu tidak punya waktu."
Yasmin menunduk. "Saya permisi." Lalu berjalan melintasi Zafier tanpa menatapnya.
"Perlu aku antar pulang?" bisik Zafier ketika Yasmin melewatinya.
"Tidak usah."
"Yasmin." Zafier menahan lengan Yasmin karena gadis itu akan melangkahkan kaki. "Kita pulang bersama, ya?"
Yasmin melepaskan tangan Zafier. "Aku bilang tidak usah." Kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan ibu.
"Kalian belum berdamai?" tanya ibu ketika Zafier sudah duduk di kursi samping tempat tidur. Kursi yang tadi diduduki Yasmin.
"Dimana Melly? Kenapa dia meninggalkan ibu sendirian?" Zafier sengaja membelokan topik pembicaraan.
"Zafier, sepertiya Yasmin mendengarkan obrolan ibu denganmu malam itu. Malam sewaktu Yasmin pergi."
"Ibu tidak perlu terlalu memikirkan itu. Akan aku jelaskan pada Yasmin yang sebenarnya terjadi. Sekarang ibu harus fokus pada kesehatan ibu sendiri. Ibu harus sembuh." Zafier meraih tangan kanan ibu dan mencium punggung tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Kamu juga harus menata hidupmu kembali, Zaf."
"Iya, Bu. Aku sedang melamar bekerja di salah satu perusahaan desain."
Tbc