
Kalung emas yang memiliki liontin berbentuk hati dengan hiasan batu intan berkilau telah mencuri perhatian Yasmin sejak melangkahkan kaki ke dalam toko perhiasan itu.
Dalam hati Yasmin hanya bisa mengagumi keindahan perhiasan di depannya. Sambil membayangkan orang yang dia cintai memasangkan kalung itu ke lehernya. Namun, itu hanya dalam bayangannya saja. Tidak lebih.
Yasmin cukup tahu diri. Harga kalung liontin itu pasti mahal. Dia tidak punya uang dan juga tidak mau meminta Zafier membelikan untuknya. Perkataan ibu mertua selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
Aku cukup tahu diri. Zafier sudah bekerja keras untuk menghidupiku. Untuk makan dan diberi tempat tinggal saja rasanya aku telah berhutang banyak pada keluarga Zafier.
Dalam hati kecil Yasmin, berharap suaminya akan membelikan kalung itu tanpa diminta. Tapi kemungkinan, mustahil. Tanpa Yasmin menyadari, Zafier menatap intens dirinya.
"Zaf, ibu mau beli gelang ini. Bagus tidak?" kata ibu sambil memamerkan gelang yang tengah dipakai.
"Berapa harganya?" tanpa basa basi Zafier langsung bertanya pada pelayan toko dan mengeluarkan kartu kredit untuk melakukan pembayaran.
Usai pembayaran selesai, mereka keluar dari toko perhiasan. Baik Zafier maupun Yasmin diam membisu, menyisakan ibu yang terus berceloteh.
Benar, kan? Mustahil dia membelikan aku kalung emas tadi. Tapi tidak mengapa, aku bisa menerima kenyataan yang ada.
Yasmin memperlambat jalannya sehingga dia tertinggal di belakang ibu dan Zafier. Perlahan kepalanya terasa berat, keadaan di sekeliling terasa bergoyang dan tanah yang dia pijak terasa ringan. Awalnya Yasmin mengira ada gempa bumi. Tapi kenapa orang-orang nampak tidak panik.
Yasmin berjalan sempoyongan, hampir saja dia tersungkur ke dalam selokan kalau dia tidak segera kembali fokus. Dia menggelengkan kepala mengusir pusing yang melanda. Tapi malah bertambah parah. Bumi seperti berputar sangat cepat. Tangannya mengarah ke punggung Zafier dan ibu yang tetap saja berjalan, tidak menyadari bahwa Yasmin tertinggal jauh.
"Za. Zaf. Zafier."
Detik berikutnya, keadaan menjadi gelap gulita bagi Yasmin. Dia tidak mengingat apapun lagi.
Ketika Yasmin membuka mata, dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat dari jendela sinar matahari yang sudah meninggi. Tidak ada seorang pun di kamar. Sepi. Tidak ada suara dari luar kamar.
Kemana orang-orang? Jam berapa ini? Aku pingsan berapa jam?
Dengan susah payah Yasmin mencoba duduk di atas ranjang dan saat itu pula Zafier masuk ke dalam kamar. Zafier tampak terperanjat melihat Yasmin yang sudah siuman tapi dia diam saja. Hanya menjatuhkan tubuhnya di samping Yasmin.
"Zaf"
"Hemm."
"Aku lapar." Tadi pagi ibu mengajak belanja namun aku belum sempat sarapan. Ditambah lagi harus membawa kantong belanjaan ibu yang berat dan berjalan keliling pasar, membuatku sangat lemas.
Bunyi perut keroncongan terdengar keras dari perut Yasmin. Dia berusaha menutup perut dengan selimut karena malu.
"Lalu?"
"Bisakah kamu ambilkan aku makanan, Zaf? Aku lapar tapi badanku masih lemas untuk berjalan."
Zafier mendesah. Bukannya bangun, dia malah merebahkan tubuh dan menarik selimut. "Aku lelah. Ambil sendiri saja. Jangan manja!"
Mau tidak mau, Yasmin pun berjalan dengan berpegangan dengan benda apapun yang ada di sekitarnya. Sesampainya di dapur, tidak ada makanan sedikit pun. Hanya ada setumpuk piring kotor di wastafel dapur.
Akhirnya, Yasmin meneguk segelas air putih terlebih dahulu untuk mengobati dahaganya. Dia mengecek kulkas. Ada beberapa sayuran dan daging mentah. Butuh waktu untuk memasak bahan makanan yang ada di kulkas, sementara perut Yasmin sudah meronta-ronta meminta segera diisi makanan. Tidak ada makanan cepat saji, selain mie instan.
Terpaksa Yasmin memasak mie instan dan memakannya sendirian.
***
"Zaf, ada apa?" tanya Yasmin melihat wajah kusut Zafier. Duduk di sofa di samping suaminya.
Zafier tidak menjawab. Dia mengacak-acak rambut lalu menyandarkan punggung. Karena merasa tidak mendapatkan jawaban, Yasmin pun meraih kertas yang dibaca oleh Zafier. Dia tercengang setelah membaca isi kertas itu.
"Zaf, ini kertas tagihan kartu kredit siapa? Kenapa tagihannya bisa sampai sebesar ini?" Yasmin yakin betul bahwa tidak mungkin kertas tagihan yang berada di tangannya adalah milik Zafier. Dia tahu suaminya itu orang yang hemat dan tidak suka menghamburkan uang.
Rey. Adik kandung Zafier. Usianya beda dua tahun dengan Zafier. Yasmin tidak terlalu banyak bicara dengan adik iparnya itu dan tidak mau berusaha lebih dekat juga. Tapi Yasmin bisa menilai bahwa Rey merupakan orang yang selalu ingin terlihat stylish. Terlihat dari penampilannya yang selalu memakai barang-barang bermerk. Namun, gayanya yang selangit tidak diimbangi dengan etos kerja dan pola pikirnya.
Rey baru saja masuk kuliah, tapi gayanya sudah seperti orang berpenghasilan puluhan juta. Dia bahkan tidak bekerja sampingan seperti yang dilakukan Zafier. Lantas uang untuk mebiayai gaya hidupnya yang glamor dari mana? Tentu saja dia tinggal minta uang ke kakak dan juga ibunya.
Enak sekali hidupnya iya, kan? Dia laki-laki yang telah tumbuh dewasa. Tapi hidup hanya dengan berpangku tangan. Tidak memiliki semangat untuk mencari penghasilan. Selera penampilannya tinggi. Sedangkan, dia tahu sendiri ibunya telah menjadi seorang janda dan kakaknya juga telah berkeluarga. Harusnya dia punya pemikiran untuk mencari uang tambahan. Setidaknya bisa menghasilkan uang untuk membiayai gaya hidupnya yang mewah itu.
Itulah yang membuat Yasmin sangat geram dengan Rey. Sejak awal dia juga tidak terlalu suka dengan si adik ipar.
Tapi parahnya, baik Zafier maupun ibu selalu membiarkan Rey terjerumus dalam kemewahan yang berlebihan. Pernah sekali Zafier memperingati Rey agar jangan terlalu konsumtif tapi tidak pernah digubris oleh Rey.
"Tagihan itu... Rey sendiri yang akan membayar, kan?"
"Dia punya uang dari mana?" Zafier balik bertanya.
"Jadi, kamu yang akan membayar semua tagihan itu?"
"Lalu siapa lagi kalau bukan aku?"
Yasmin menunduk terdiam. "Tapi, kan? Penghasilanmu dari bekerja di cafe juga tidak banyak. Kamu juga punya keluarga sendiri. Yang artinya, kita punya kebutuhan kita sendiri."
Zafier tidak menjawab. Seperti biasa dia hanya meraih jaket dan tas lalu pergi ke luar rumah. Kali ini Yasmin mengikuti langkah Zafier hingga ke teras.
"Kalau kamu mengizinkan, aku juga ingin bekerja membantumu mencari penghasilan tambahan."
Zafier memakai helm dan menghidupkan motor. "Memangnya kamu bisa apa?"
"Aku mau bekerja apa saja asalkan itu halal dan kamu memperbolehkan aku kerja."
"Tidak. Kamu di rumah saja." Ucap Zafier yang kemudian berlalu pergi.
Yasmin merasa kasihan dengan Zafier yang selalu dimanfaatkan oleh Rey. Dia pun memutuskan untuk menunggu kepulangan Rey. Dia ingin memberi perhitungan dengan adik ipar kurang ajar itu.
Ketika orang yang ditunggu-tunggu telah datang, Yasmin langsung menarik Rey masuk ke dalam rumah.
"Ada apa sih, kakak ipar?" tanya Rey dengan wajah tanpa dosa dan tanpa rasa takut. Meski raut muka Yasmin sudah mengibarkan bendera perang.
"Kamu." Menunjuk Rey. "Apakah kamu tidak lihat bagaimana kakakmu bekerja keras untuk menghidupi keluarga ini?
"Maksudnya apa, sih? Katakan langsung, kakak ipar. Aku tidak suka basa-basi."
"Kamu jangan membuat masalah. Zafier sudah kerja banting tulang, tapi kamu malah berfoya-foya menggunakan uang hasil kerja keras Zafier. Menyuruh Zafier membayar tagihanmu. Kamu sungguh tidak tahu malu." Kata Yasmin setengah berteriak.
Rey malah tertawa. "Siapa yang tidak tahu malu? Aku atau kakak ipar?" Rey menyeringai. "Aku rasa kakak ipar yang tidak tahu malu. Datang ke rumah ini dan merepotkan Kak Zafier saja. Menambah beban keluarga ini."
Yasmin menyeringai. "Dia suamiku. Sudah menjadi kewajibannya menafkahiku."
Tbc.
**Hai readers sayang!
Itu sedikit gambaran masa lalu Zafier dan Yasmin ya?
Chapter berikutnya kita balik ke waktu Yasmin bertemu lagi dengan Zafier.
Lain kali author jelasin lebih gamblang masa lalu Yasmin. Pada penasaran nggak kenapa Yasmin pergi ninggalin Zafier**?