
Banyak orang bilang menjadi wanita karir sangatlah menyenangkan. Orang mengira menjadi wanita karir tidak terlalu repot mengurus rumah dan anak. Pagi hari sudah berdandan cantik dan wangi siap pergi bekerja. Memiliki relasi dan pergaulan yang luas. Dianggap memiliki pendidikan yang tinggi dan berkelas. Dan yang pasti, wanita karir bisa mendapatkan uang sendiri tanpa mengandalkan terus pada suami. Itu artinya mereka sering belanja apapun dengan uang hasil kerja keras tanpa rasa bersalah.
Namun, kenyataan tak selalu seindah seperti yang dibayangkan orang lain. Wanita karir juga memiliki sisi gelapnya sendiri. Mereka harus memiliki kekuatan ekstra selain mencari nafkah juga harus mengurus keluarga. Tidak bisa melihat secara langsung perkembangan anak. Harus menerima kenyataan bahwa anak lebih dekat dengan pengasuh. Uang yang diperoleh hanya sekedar membeli kebutuhan anak dan mainan, tidak bisa membeli waktu dengan anak.
Terlebih jika tidak didampingi sosok suami. Menjadi wanita karir sekaligus orang tua tunggal. Memang bukan hal mudah untuk dijalani. Namun, itulah jalan takdir seorang Sofia. Wanita kuat yang tidak pernah meneteskan air mata kesedihan di depan orang lain kecuali bayangannya sendiri di depan cermin.
Orang mengenalnya sebagai Sofia yang selalu ceria, cerewet, dan tersenyum. Siapa sangka, dibalik keceriaannya tersembunyi luka yang dalam dan kisah pilu.
Tapi kali ini Sofia merasa sudah tidak bisa menahan beban karena anak yang menjadi taruhannya. Mungkin dengan membagi sedikit kerisauannya pada Yasmin dan Zafier bisa sedikit membantu meringankan beban yang dia pikul.
Semua berawal dari siang itu.
Dret... Ddreet... Dret.. Ddreet..
Sejak tadi ponsel Sofia berdering. Pemilik ponsel hanya melirik sekilas. Melihat nomor asing yang menelepon membuat Sofia malas untuk mengangkat telepon. Apalagi di saat sibuk sekarang ini.
Paling juga orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin menipu dengan modus hadiah. Huft, baiklah.
Akhirnya dia menyerah setelah panggilan ke sepuluh. Dia menekan tombol hijau dan menempelkan benda canggih itu ke telinga.
"Halo."
"Halo, Mama." Suara anak kecil dari seberang telepon.
"Belinda." Kata Sofia terperangah. Dia menatap lagi layar telepon, memastikan bahwa nomor yang meneleponnya memang nomor asing, bukan nomor telepon Nancy, pengasuh Belinda.
Apa Nancy ganti nomor? Kenapa tidak memberi tahuku kalau dia ganti nomor?
"Bel sayang, kamu telepon pakai hp siapa? Tante Nancy sudah jemput kamu belum?"
"Belum, Ma. Tante Nancy sakit. Jadi tidak bisa jemput. Makanya aku telepon mama. Mama bisa jemput aku pulang, kan?"
Sofia mendesah. Memijit keningnya. "Mama lagi kerja, Bel."
Huh, bagaimana Nancy ini? Kenapa bisa sakit mendadak? Anak sekecil Belinda, dia biarkan menunggu sendirian.
"Cuma sebentar, Ma."
"Iya, iya, mama akan jemput kamu pulang. Mama minta izin dulu ke tante Yasmin, ya?"
"Iya, Ma. Cepat ya, Ma."
"Kamu itu dimana, Nak?"
"Aku tunggu di halte sekolah."
"Oke. Eh, tunggu sebentar."
"Apa, Ma?"
"Kamu telepon pakai hp siapa, Sayang?"
"Aku telepon pakai hp om baik hati."
"Om baik hati?" Sofia mengeryit bingung dengan maksud anaknya.
"Iya ada om baik hati yang mau meminjamkan hp untuk aku menelepon mama."
"Belinda." Kata Sofia dengan nada geram. "Mama sudah bilang ke kamu, Nak. Jangan bicara sama orang yang tidak kamu kenal. Jangan mau diajak kemana-mana."
"Om-nya orang baik kok, Ma."
Rasa khawatir mulai menyergap Sofia. Bagaimana tidak? Anaknya sekarang sedang bersama orang asing yang bisa saja melakukan perbuatan jahat seperti yang dia lihat di TV maupun media sosial tentang kejahatan terhadap anak.
Penculikan, pencabulan, human trafficking dan kasus mutilasi sudah dia baca di berita. Sofia tidak mau nama anaknya muncul di salah satu berita seperti kasus-kasus mengerikan itu.
"Serigala kok berbulu domba. Terus kasihan si domba tidak punya bulu."
Sofia menepuk jidatnya. Ya ampun. Anakku polos banget sih. Namanya juga anak-anak.
"Mama sekarang ke sana. Begitu telepon ini ditutup, kamu kembalikan hp ke om asing itu. Lalu pergi ke tempat yang ramai. Jangan sendirian. Kalau om itu memaksa kamu untuk ikut, jangan mau. Teriak yang kenceng, ya? Jangan makan jika om itu kasih kamu makanan. Siapa tahu itu racun atau apa." suara Sofia terdengar sangat khawatir, perasaan tak karuan memenuhi hatinya hingga dia tidak bisa berpikir jernih. Yang di benaknya sekarang hanya ada Belinda. Urusan pekerjaan buyar seketika.
Di lain sisi, Belinda, anak usia delapan tahun menutup telepon. Dia bosan mendengar celoteh mamanya yang melarang dia dekat dengan orang asing. Sudah ratusan kali Belinda mendengar peraturan dari mamanya itu. Hingga dia hafal di luar kepala.
Belinda menyerahkan kembali ponsel milik lelaki misterius. "Maaf ya, Om. Mama aku memang lebay." Ucap Belinda sambil dibumbui senyuman.
"Tidak masalah. Itu karena mama kamu sayang sama kamu." Lelaki itu memasukan ponsel ke saku. "Om tunggu sampai kamu dijemput sama mama kamu, ya."
"Kenapa?"
"Om takut kamu sendirian. Takut ada orang yang mau menculik kamu."
Belinda mengangguk mengiyakan. Tak selang beberapa lama, sebuah mobil berdecit berhenti di depan mereka. Sofia turun dari mobil menampilkan wajah kusut dan gurat kekhawatiran terlihat jelas. Satu hal yang dia lakukan adalah berlari ke arah anaknya.
"Belinda, kamu tidak apa-apa, Sayang?" Memeluk erat Belinda dan melirik sekilas pada pria asing yang bersama anaknya.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Om ini yang menjaga aku sejak tadi."
"Terima kasih sudah menjaga Belinda. Saya permisi." Sofia merasa pria itu memiliki maksud lain dan dia memutuskan untuk cepat pergi.
"Tunggu! Apa boleh saya bicara sebentar dengan anda." Kata pria itu membuat Sofia menghentikan langkah.
Tuh, benar kan?
"Ada perlu apa?"
"Bagaimana kalau kita mencari tempat yang cocok untuk kita bicara?"
"Maaf saya tidak punya waktu banyak. Kalau mau bicara di sini saja."
"Oh. Baiklah." Pria itu menoleh ke kiri dan kanan seperti melihat kondisi sekitar. Membuat kecurigaan Sofia semakin membesar.
"Bel, kamu masuk ke mobil duluan, ya?" bisik Sofia pada Belinda.
Belinda menuruti perintah ibunya. Dia masuk ke dalam mobil. Jika pria ini berbuat macam-macam, setidaknya tinggal Sofia yang masuk ke mobil lalu kabur.
"Silahkan duduk, Nyonya Sofia." Pria itu mempersilahkan duduk di kursi halte.
Sofia tertegun saat pria asing di hadapannya tahu namanya.
"Nama saya Gino, asisten pribadi Tuan Leo." Gino mengeluarkan satu bendel berkas dan menyerahkan pada Sofia.
"Apa ini?" Sofia membuka berkas yang berisi data pribadi anaknya. Semua lengkap tertulis di sana.
"Nama anak itu Belinda Adriana. Umur delapan tahun. Ketika Belinda masih berumur dua tahun ayahnya meninggal. Setiap pagi anda akan mengantar Belinda ke sekolah. Jika anda tidak sempat, pengasuhnya yang bernama Nancy yang akan mengantar. Lalu siang hari, Nancy juga yang akan menjemput Belinda pulang ke rumah. Belinda akan makan siang dan beristirahat sejenak. Pukul dua siang, Belinda pergi ke tempat les privat dengan diantar oleh Nancy. Pulang jam empat sore. Nancy akan menemani Belinda sampai anda pulang bekerja. Anda juga mendaftarkan Belinda ke tempat les berenang yang dijadwal hari rabu dan les karate hari sabtu."
"Bagaimana anda tahu keseharian anak saya?" tanya Sofia penuh rasa takut. Jadi selama ini anaknya diintai, dimata-matai. "Apa yang kamu mau?"
"Kami bisa saja melakukan hal yang tidak bisa anda bayangkan kepada anak imut itu. Saya sudah tahu keseharian anak anda secara detail."
"Apa yang kalian inginkan? Aku akan melakukan apapun asal kalian tidak pernah menyentuh anakku." Kata Sofia bergemetar. Kentara sekali dia sangat ketakutan.
Gino tersenyum. Rencananya berjalan lurus. "Tuan Leo meminta Yasmin untuk menjadi model iklannya tapi anda menolak."
"Yasmin yang tidak mau bekerja sama dengan Tuan Leo." Sofia mengoreksi.
"Tanda tangani kontrak ini atau anda ingin melihat Belinda tidak bisa tersenyum lagi." Kata Gino penuh ancaman sambil mengeluarkan sebuah berkas.