
"Ah, bosan."
"Kalau begitu kita jalan-jalan, bagaimana?"
"Lelah." Keluh Yasmin ke sekian kalinya. "Lagipula di luar mendung. Aku lihat di breaking news televisi akan terjadi hujan lebat hari ini."
"Aha. Aku tahu kegiatan yang bisa mengobati kegabutan kita." Sofia berdiri dan berlari ke dapur.
"Botol bekas?" tanya Yasmin keheranan ketika melihat benda yang dibawa Sofia dari dapur. Sebuah botol sirup yang sudah kosong.
"Jangan suruh kita menghias botol bekas seperti anak-anak TK?" pemikiran Yasmin, Sofia ini ibu satu anak, pasti ide permainannya seputaran dunia anak.
"Kita main truth or dare." Kata Sofia tersenyum sumringah.
"Setuju. Aku ikut." Zafier ikut nimbrung dan duduk di antara Yasmin dan Sofia.
"Bagaimana, Yasmin?"
"Ya, sudah. Ikut."
"Oke, kita mulai." Sofia memutar botol sirup di atas meja.
Lama botol itu berputar kencang, perlahan berkurang kecepatannya. Tiga pasang mata menatap lekat pada titik yang sama, mulut botol. Pelan namun pasti mulut botol berhenti tepat di depan Yasmin yang wajahnya berupah pias. Sedangkan Sofia dan Zafier menghela napas lega.
"Pilih truth atau dare?" tanya Sofia.
"Dare, dong. Aku kan pemberani." Yasmin membusungkan dada.
"Hmmm... Sebentar tantangan apa ya yang cocok...." Sofia menjentikan jari, mencari ide.
"Jangan lama-lama mikir!" sindir Yasmin dengan sewotnya.
"Coba kamu cium Zafier!"
Mata Yasmin langsung melotot. "Gila kamu, ya?"
"Kamu sendiri yang pilih dare." Sofia berusaha tersenyum manis seakan tidak punya dosa.
Dengan setengah hati, Yasmin meraih tangan Zafier dan mencium punggung tangan besar itu. Persis seperti anak kecil yang bersalaman dengan orang tuanya di pagi hari saat berpamitan berangkat sekolah. Untung Sofia tidak menyebutkan bagian mana yang harus dia cium. Punggung tangan, aman lah. Yasmin memeletkan lidah ke arah Sofia.
"Sekarang giliran Zafier."
"Pilih truth or dare?"
"Dare." Meski Yasmin lantang menyebutkan dare, dia menggigit bibir bawah, dalam hati dia berdoa agar Zafier tidak memberikan tantangan yang aneh.
"Sebutkan tipe suami idamanmu!"
Sofia menyenggol lengan Zafier. "Kamu kurang seru, Zaf. Kasih tantangan yang lebih sulit kenapa sih?"
"Aku tidak punya ide." Zafier menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Yang jelas, tipe suami idamanku bukan orang sepertimu." Ucap Yasmin sinis dengan tatapan lurus ke arah Zafier.
"Kita putar lagi." Kali ini Yasmin yang memutar botol. Naas. Entah apa dosa yang diperbuatnya, ujung botol menunjuk Yasmin lagi. Gadis itu menggerutu kesal. Sofia bersorak riang.
"Pilih truth atau dare?"
"Dare."
"Aku mau kamu foto berdua dengan Zafier. Yang mesra." Sofia terkekeh. Dia tahu, Yasmin paling anti dengan Zafier, makanya dia ingin menjahili Yasmin dengan cara menjadi mak comblang Yasmin dan Zafier.
Yasmin menghirup napas panjang sebelum meraih ponselnya. Sabar, Yasmin. Sabar. Ini hanya permainan. Kalau nanti giliran Sofia, akan aku balas melebihi ini.
Dia berpindah ke belakang punggung Zafier, memeluk dari belakang. Menjulurkan tangan yang memegang kamera ke depan wajah Zafier. Dia pun merapatkan wajah. Pipinya menempel pada pipi Zafier agar dapat terpotret dalam satu frame.
"Terus mau kamu apa?"
"Seperti sepasang suami istri, begitu." Kedua tangan Sofia menguncup dan menyatukannya erat. Mengisyaratkan ciuman.
"Jangan aneh-aneh." Teriak Yasmin sebal. Permainan macam apa ini. Dia merasa dipojokan.
Tanpa pikir panjang, Zafier merebut ponsel dari tangan Yasmin. Dan dengan kecepatan kilatan cahaya, dia menempelkan bibirnya di bibir Yasmin. Tangannya pas mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera hp Yasmin.
"Sudah, kan?"
Sofia tertawa puas hingga memegangi perutnya yang sakit. "Kalian cocok sekali, kenapa kalian tidak menikah saja, sih?"
"Aku pilih dare." Teriak Yasmin sambil mengacungkan tangan sesaat Zafier membuka mulut hendak berbicara.
"Eits, pemain yang sudah memilih pilihan yang sama harus memilih pilihan yang berbeda. Kamu kan sudah tiga kali pilih dare, jadi kali ini harus pilih truth."
Apa? Peraturan macam apa itu? Ya, sejujurnya Yasmin juga tidak terlalu paham dengan permainan ini. Dia juga tidak tanya terlebih dahulu aturan permainannya di awal.
Terlihat Zafier tersenyum tipis. Sementara Yasmin sudah merasakan firasat buruk.
"Kamu bilang tipe suami idamanmu itu bukan yang seperti aku, lalu suamimu sendiri siapa namanya?"
Tuh, kan?
Yasmin menunduk. Tangannya terkepal di bawah meja. Awas saja, kau, Zafier.
Menunggu Yasmin yang tidak langsung menjawab, Sofia sudah tak tahan menahan tawanya. Dia menggebrak meja dan tertawa lantang. Sofia mengira pertanyaan Zafier hanyalah bercanda belaka, dia juga membayangkan Yasmin dengan wajah malu-malu mengakui bahwa rekan kerjanya itu sebenarnya jatuh hati pada bodyguardnya sendiri. Membayangkan saja sudah membuat Sofia terpingkal-pingkal.
"Zafier Zachery."
Tawa Sofia semakin pecah. Namun hanya selang beberapa detik, setelah melihat wajah serius Zafier dan Yasmin, dia menghentikannya. Ikut serius juga.
"Apa itu benar?" tanya Sofia antusias.
"Eits, hanya satu pertanyaan, kan?"
Botol diputar kembali. Lagi-lagi, Yasmin yang kena sial. Dia frustasi karena ujung botol menunjuknya terus. Aneh atau memang benar-benar kebetulan? Entahlah, dia merasa menjadi tawanan perang yang sedang diintrogasi karena Sofia menghujaninya dengan pertanyaan masa lalunya dengan Zafier.
"Jadi begini, biar aku ceritakan." Kata Zafier menyadari gerak-gerik Yasmin yang terganggu oleh pertanyaan Sofia.
Sofia memajukan wajah seriusnya. Siap untuk menyimak cerita Zafier.
"Ayahku, dan orang tua Yasmin bersahabat sejak kecil hingga mereka kuliah. Namun, berpisah saat mereka lulus kuliah. Ayahku tidak tahu lagi kabar dari kedua sahabatnya."
"Terus?"
"Suatu hari setelah belasan tahun tidak bertemu, ayahku mendapat informasi bahwa orang tua Yasmin mengalami kecelakaan. Ibu Yasmin meninggal di lokasi kejadian, sedangkan ayahnya mengalami luka serius. Sebelum meninggal, ayah Yasmin menitipkan putrinya, dan meminta ayahku merawat Yasmin seperti putri kandungnya sendiri." Zafier melirik Yasmin yang bersedekap memeluk lututnya. Bola matanya memandang arah lain dan berkaca-kaca. Tatapannya kosong.
Sofia mengusap bahu Yasmin untuk menenangkan. "Bisa diskip yang cerita sedihnya, tidak?"
"Semuanya memang menyedihkan, Sof." Suara Yasmin serak.
"Kenapa kau tidak cerita padaku, Yasmin? Kapan orang tuamu mengalami kecelakaan?"
"Waktu umurku tiga belas tahun."
"Teruskan ceritanya!"
"Akhirnya, ayahku membawa Yasmin ke rumah tapi ibuku salah paham dan menyangkal Yasmin adalah anak hasil perselingkuhan ayahku dengan wanita lain. Jadi.."
"Jadi aku sudah lebih dulu dipandang hina oleh ibunya Zafier." Sambung Yasmin. Dia mengelap ingusnya dengan tisu, lalu memberikan tisu lepek itu ke telapak tangan Sofia. Otomatis Sofia begidik jijik. "Aku tahu, aku dengar semua percakapan orang tua Zafier malam itu. Kemudian, tanpa pikir panjang aku lari dari rumah Zafier. Aku lebih baik tinggal sendirian daripada harus dihina."
Tbc