I Was Your Man

I Was Your Man
Strategi Baru



"Aku bisa menghancurkan karirmu bila kau menolak." Leo mengerlingkan mata, memberikan tatapan menghunus.


"Lakukan saja. Coba lakukan." Sebisa mungkin Yasmin menyembunyikan rasa takut. Dia takut akan ucapan Leo. Bila benar dia akan menghancurkan karir yang selama ini sudah dia bangun. Tapi justru dengan memperlihatkan rasa gentar, Leo akan mempermainkan rasa takutnya. Menjadikan rasa takut menjadi alat agar Yasmin patuh pada Leo.


Cih, dia tidak gentar dengan ancamanku. "Kau yakin? Kau pikir aku main-main?"


"Silahkan, jika kamu memang mau menghancurkan karirku. Aku menjadi semakin yakin bahwa kau bukan orang tepat untuku. Dan akan membencimu seumur hidupku."


Leo menghela napas. "Yasmin, kau tidak punya suami, kan?"


Eh, kenapa dia bertanya seperti itu?


"Lalu apa yang membuatmu menolakku? Aku akan bercerai dengan Irene secara baik-baik. Tidak akan melibatkanmu dalam proses perceraianku dengan Irene. Aku berjanji akan merahasiakan hubungan kita. Kemudian, setelah aku berpisah dengan Irene, kita tentukan tanggal pernikahan kita. Akan aku pastikan tidak ada rumor beredar yang menjelekanmu karena pernikahan kita nanti."


Leo meraih tangan Yasmin yang tetap diam. Dia tersenyum, mengira Yasmin sedang menimang rencana yang dia buat. Padahal diamnya Yasmin karena telah lelah dan muak bicara dengan Leo. Ingin rasanya dia kabur dari ruangan terkutuk itu. Bodyguard-nya juga tidak membantu sama sekali. Yasmin membayangkan Zafier muncul dari pintu, lalu membawanya pergi.


"Itu yang kamu mau, kan. Kamu menolakku karena kamu tidak mau dicap sebagai wanita perebut suami orang. Aku berjanji setelah kita menikah, tidak ada gosip miring tentangmu, tentang pernikahan kita. Aku bisa membayar wartawan untuk tutup mulut. Dan juga Irene. Aku pastikan dia tidak akan mengganggumu."


Sadar Leo menggenggam tangannya sejak tadi, Yasmin segera menarik tangan. Leo tidak akan menyerah. Setelah Leo memberikan Yasmin hadiah berupa seorang bodyguard (meski pada awalnya dia tidak berniat memberi hadiah srorang bodyguard) dia sangat berharap Yasmin akan menghubunginya lagi untuk mengucapkan terima kasih. Namun, beberapa minggu dia menunggu, kupu-kupu itu sama sekali tidak memberi kabar.


Ternyata Leo terlalu berharap. Akhirnya dia menyatakan secara langsung apa adanya tentang keinginannya untuk meminang Yasmin. Bahkan, Leo berani mengancam menghancurkan karir Yasmin sebagai model. Itu juga tidak mempan. Akhirnya, Leo melakukan jurus selanjutnya. Dia pikir wanita akan selalu terbuai oleh janji manis.


Jadi, Leo memberikan janji-janji manis yang dia pikir, akan dipercaya oleh Yasmin.


"Aku akan menghukum siapa saja yang menyebutmu wanita perusak rumah tangga atau apalah itu. Aku janji akan menempatkanmu di sebagai pihak yang tidak bersalah."


"Jadi seperti ini kamu menyelesaikan masalah?"


Leo mengernyit. Tidak paham dengan maksud ucapan Yasmi.


"Bukan. Itu bukan cara menyelesaikan masalah. Kau hanya lari dari masalah. Dan pada ujungnya, semua masalah akan bermuara padamu kembali menjadi masalah besar yang bahkan kamu tak akan mampu menghadapi."


"Apa yang kamu bicarakan, Yasmin?"


"Kalau rumah tangga anda sedang bermasalah, bicarakan dengan baik-baik dan perbaiki dengan istri anda. Bukan malah mencari pelarian. Apa anda kira setelah menikah denganku, anda akan terjamin hidup bahagia?"


"Iya tentu. Kita akan bahagia, Yasmin."


"Kau akan menikahi wanita yang tidak mencintaimu. Kau bilang itu bahagia? Aku bahkan hanya sekedar pelarianmu saja."


"Aku tidak menjadikanmu pelarian." Leo membantah.


"Kalau begitu kembali pada istri anda, temui dia. Bicara dengan hati yang tulus. Perbaiki masalah yang ada di dalam rumah tangga kalian, jika anda tidak mencintai istri anda, belajar mencintailah mulai dari sekarang. Istri anda sudah berjuang melahirkan anak anda dan membesarkan dengan kasih sayang. Apa anda buta? Anda tidak melihat istri anda bersusah payah melahirkan mempertaruhkan nyawa demi buah cinta kalian?"


"Aku sudah mencoba mencintai Irene tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku tidak mencintainya. Yasmin, jadilah kekasihku. Aku pasti akan menikahimu. Aku serius. Aku mencintaimu."


Yasmin menggeleng kuat. "Itu bukan solusi dari permasalahan anda. Ada seorang anak yang masa depannya hancur jika kalian berpisah. Dan aku. Bagaimanapun anda memposisikan aku? Aku tetap menjadi pihak yang bersalah. Selamanya aku akan menjadi orang yang bersalah karena membuat anda memilih jalan untuk berpisah dengan istri anda."


Tolong berikan tepuk tangan pada Yasmin. Dia pintar sekali memberi nasehat bijak persoalan suami istri. Padahal sendirinya juga memiliki masalah dengan suami yang belum terselesaikan selama lima tahun.


"Saya permisi." Yasmin mengakhiri pembicaraan. Dia berjalan melintasi ruangan itu menuju pintu keluar. Tanpa perlu meminta izin dari Leo, dia pergi.


Di sudut bibir Zafier terdapat luka lebam kecil dan di unjung mata Gino pun ada luka yang sama.


Telah terjadi apa diantara dua pria ini? Mereka berkelahi? "Ayo, pergi."


Zafier mengekor di belakang Yasmin. Namun sebelum melangkah, dia sempat menoleh pada Gino. Menatap mantan rekan kerjanya dengan penuh kebencian.


Setelah Yasmin dan Zafier meninggalkan studio, Gino masuk ke dalam ruangan. Di sana Tuannya duduk termenung dengan tatapan kosong.


"Bagaimana, Tuan?"


Leo menyeringai namun tatapannya masih kosong.


Apa aku harus benar-benar menghancurkan karir Yasmin sebagai model? Kalau perlu membuat dia tidak bisa mendapat pekerjaan di manapun. Ah, tidak. Yasmin akan semakin membenciku. Dia benar. Aku hanya berniat menggertaknya saja. Tapi ternyata dia sama sekali tidak gemetar dengan ancamanku. Dia wanita yang sangat kuat.


Leo bersender di sandaran sofa. Memejamkan mata untuk menyusun strategi baru. Tapi bagaimana?


"Tuan, anda baik-baik saja? Apa perlu saya panggilkan dokter?"


Yasmin tidak takut dengan ancamanku, tidak terbuai oleh janji manis dan rayuanku. Harus apa lagi yang aku lakukan demi mendapatkan kupu-kupu itu? Aku tidak akan menyerah sampai di sini. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut Yasmin dariku.


Tiba-tiba Leo membelalak. Dia mendapatkan cara untuk menangkap kupu-kupu yang sulit ditangkap.


***


"Bicara apa kalian di dalam?" tanya Zafier serius ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Bukan urusanmu." Yasmin memasang sabuk pengaman. Lalu menoleh ke belakang. Sofia yang sedang menyedot es kopi tersenyum tanpa dosa.


"Ada apa?" tanya Sofia yang tidak nyaman di tatap lekat oleh Yasmin.


"Dia mengancam apa padamu?"


"Maksudnya? Siapa yang mengancam?"


"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku sudah tahu. Leo mengancammu apa?"


Sofia menunduk, menggigit bibir bawahnya. "Yasmin, maaf. Aku tidak punya pilihan lain. Dia mengancam akan mencelakai anakku."


"Astagaaa." Yasmin memijit keningnya. "Dasar orang itu sok berkuasa sekali."


Terdengar suara isak tangis dari kursi belakang. Sofia menangkupkan wajah tidak bisa menahan tangisannya. Zafier sesekali melirik ke belakang lewat kaca mobil.


"Sejak awal dia sudah mengamcamku agar kamu mau menjadi model iklan parfum S. Makanya aku tidak memberitahumu dulu soal kontrak iklan itu."


"Kenapa kamu tidak cerita yang terjadi sebenarnya padaku, Sofia?" desis Yasmin menahan marah.


"Maafkan aku, Yasmin. Maaf."


"Sofia, kau bodoh, mau saja diperalat oleh Leo." Yasmin setengah berteriak. Tidak peduli orang yang dia marahi sudah menangis sejadinya. "Kau, juga." teriak Yasmin di samping telinga Zafier hingga gendang telinga serasa mau pecah. "Kau mau saja menjadi anak buah bos mesum."