
"Satu. Dua. Ti.. Tunggu. Tunggu." Sang fotografer menurunkan kameranya. Mengelap peluh di kening menggunakan punggung tangan. Berkacak pinggang dan berdecak kesal. "Yasmin, bisa tidak menghayati peran. Kalian ibarat pasangan suami istri yang baru mengikat janji suci. Ekspresi kalian harus bahagia. Bukannya muram seperti ketemu mantan."
Hari ini Yasmin ada pemotretan untuk promosi baju-baju pengantin. Model laki-laki yang menjadi pasangannya mendadak tidak bisa melakukan pemotretan dengan alasan batu ginjalnya kambuh. Padahal semua tim sudah siap di lokasi. Yasmin pun selesai dirias. Alhasil, Sofia mengajukan Zafier untuk mengganti peran pengantin prianya.
Zafier sangat tampan dibalut jas pengantin yang serba putih. Semua orang, kecuali Yasmin, mengagumi perubahan penampilan Zafier. Yasmin justru nampak uring-uringan menjalani pemotretan kali ini.
"Ayolah. Yasmin, kau kenapa lagi?"
"Maaf, aku sedang tidak fokus." Ucap Yasmin enteng.
"Sebentar dulu. Biar aku bicara padanya." Sofia mendekat. "Yasmin, ayolah. Ini kan sekedar pemotretan. Lagipula kalian pernah melakukan ini, kan?"
"Apa? Foto pernikahan?" Yasmin mendesah. "Ini semua ide gilamu. Sudah tahu selama dua minggu sejak permainan truth or dare waktu itu, aku tidak bicara lagi dengan dia."
"Tapi, kan Yas..."
"Kemasi barangmu dan segera pindah dari apartemenku."
"Kamu mengusirku?"
Zafier menarik lengan Sofia. "Biar aku saja yang menangani." Bisiknya pada Sofia. Wanita itu menurut dan kembali ke tempatnya.
"Kita mulai lagi pemotretnnya." Teriak si fotografer.
Zafier dan Yasmin mengambil pose cukup dekat. Zafier meletakan tangannya di pinggang Yasmin.
"Kamu seperti ini karena ingin lama-lama dekat denganku, kan?"
Yasmin langsung menatap Zafier. Fotografer mengambil kesempatan untuk mulai memotret. "Apa maksudmu?"
"Akui saja. Kamu sengaja tidak bersemangat di pemotretan kali ini hanya untuk mengulur waktu agar kamu bisa dekat denganku lama-lama."
"Cih, percaya diri sekali kamu ini."
"Lalu kenapa kau seperti ini? Akui saja."
"Aku justru tidak mau berada di dekatmu."
"Kalau begitu kau seharusnya melakukan tugasmu dengan benar supaya pemotretan ini cepat selesai."
Apa yang dikatakan Zafier ada benarnya. Kalau Yasmin uring-uringan seperti ini terus bisa jadi sampai malam pemotretannya tidak selesai. Dengan setengah hati, Yasmin berjinjit. Menempelkan bibirnya ke pipi Zafier.
"Bagus seperti itu. Tahan." Teriak si fotografer. "Satu. Dua. Tiga."
Sofia yang ternganga hanya bisa menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tidak menyangka apa yang akan dilakukan oleh Yasmin dan Zafier. Mereka sungguh serasi.
Kemudian, adegan mesra berikutnya pun berlanjut.
***
Kau munafik, Yasmin.
Aku tahu kau menyukai Zafier, tapi kau berlagak tidak butuh.
Awas, jangan menyesal jika Zafier berpindah ke lain hati.
Yasmin hanya membaca pesan Sofia lalu membanting hp-nya ke kasur. Dia menatap bayangannya yang terpantul di cermin. Menggenakan gaun putih yang mengekspos bahunya yang mulus. Lima menit lagi dia harus berangkat ke pesta ulang tahun pernikahan Leo dan Irene.
Dia meminta saran pada Sofia yang kini sudah menemukan apartemen baru. Tapi yang dia dapat malah lebih kepada cacian.
**Memang kenapa kau tidak mengaku saja.
Awalnya juga aku tidak mempunyai perasaan apapun. Tapi lama kelamaan aku merasa aneh pada diriku sendiri saat berada di dekatnya.
Kau sudah berpisah dengan Zafier. Kemudian, saat kau bertemu lagi dengan dia, kau malah menariknya kembali.
Niatku hanya untuk membalas sakit hatiku saja, Sofia.
Iya, tapi itu menjadi bomerang untukmu. Kau terjebak dalam permainanmu sendiri. Sekarang, apa kau sudah puas membalas sakit hatimu? Yang ada kau malah kembali jatuh hati pada Zafier.
Lalu aku harus bagaimana?
"Kalau begitu tidak usah meminta saran darimu?" desis Yasmin kesal.
Tok. Tok. Tok.
"Yasmin, sudah siap?" tanya Zafier dari balik pintu. "Bisa berangkat sekarang?"
"Iya, aku sudah siap."
***
"Menurutmu kenapa Irene mengundang kita?"
"Kenapa?"
Yasmin dan Zafier memasuki ballroom yang didekor bunga mawar merah muda dan putih. Bunga favorit Irene. Lampu kristal menggantung tepat di tengah ruangan. Sentuhan pita berwarna emas juga menambah kesan mewah.
Ballroom itu berada di salah satu ruangan kapal pesiar. Satu kapal disewa hanya untuk memeriahkan acara ulang tahun pernikahan yang diselenggarakan hanya satu malam.
"Irene ingin memastikan apakah kita benar-benar telah menikah atau sekedar sandiwara?" jawab Zafier enteng.
"Lalu?"
"Jadi, kita harus meyakinkan Irene. Kita harus berlagak seperti suami istri bahagia di depan Irene. Itu satu-satunya cara jika kamu ingin selamat."
"Ini semua gara-gara Leo." Yasmin menggerutu. "Kalau dia tidak berusaha mendekatiku pasti Irene tidak seperti ini."
Yasmin melingkarkan tangannya di lengan Zafier. Membuat pria itu tersenyum samar. Ruangan itu mulai dipenuhi oleh orang-orang berpakaian mewah. Jelas dari penampilannya mereka orang penting. Yasmin hanya mengenal beberapa. Aktor terkenal idolanya juga ada. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk mendekat, sekedar minta tanda tangan dan foto bersama.
Dia sadar ada di mana. Pesta yang diadakan Irene terkesan formal. Yasmin tidak mau mempermalukan dirinya sendiri di hadapan tamu undangan jika mendekat ke aktor idolanya itu.
"Aku ke toilet sebentar."
Yasmin menatap punggung Zafier yang perlahan menjauh.
Tanyakan pada hatimu sendiri.
Suara Sofia serasa mendengung di telina Yasmin.
*Me*njadi bomerang untukmu. Kau terjebak dalam permainanmu sendiri.
Apa aku benar-benar jatuh hati pada Zafier?
***
Keluar dari toilet pria, tampaknya Zafier salah jalan. Bukanya kembali ke ballroom, dia malah tersesat di lorong sepi. Tidak ada orang atau petugas yang lewat untuk bertanya. Lorong itu sungguh sepi. Jadi, Zafier berusaha mengingat-ingat jalan yang tadi dia lalui.
Terdengar suara orang berbincang. Dua orang pria. Zafier merasa lega. Akhirnya ada orang yang bisa dia tanya jalan ke ballroom. Namun, salah satu pria itu menyebut nama Yasmin, membuat Zafier penasaran.
Dia memepetkan tubuhnya ke dinding dan memasang telinga. Melirik ke dalam ruangan sempit dimana dua orang itu membicarakan Yasmin. Tetapi Zafier tidak bisa melihat wajah orang itu. Hanya terlihat punggung tegap besar dan wajah orang satu lagi terhalang oleh rak piring.
"Kau mengenalinya, bukan? Yasmin Malika. Dia model parfum S itu. Dia ada di sini sekarang."
"Iya, Tuan."
"Berikan ini di minumannya!"
Zafier semakin menyipitkan mata untuk bisa melihat dengan jelas benda kecil yang diberikan oleh pria bertubuh besar itu. Ada sesuatu yang tidak beres. Dan itu menyangkut Yasmin.
"Apa ini, Tuan?"
"Itu racun. Jangan sampai ada orang yang tahu dan awas. Jangan sampai salah memberikan ke orang lain. Aku mau Yasmin yang meneguk racun itu."
"Ba-baik, Tuan."
Zafier gelagapan ketika terdengar derap langkah kaki. Dua orang itu hendak keluar, dia segera bersembunyi di balik sebuah tirai.
Pria itu? Siapa dia? Kenapa ingin menghabisi nyawa Yasmin?
Tbc