
"Sudah sampai." Kata Zafier ketika mobil berhenti tepat di depan pintu utama villa. Menoleh ke belakang dan melihat dua orang wanita yang sudah terkapar tidur. Yang satu tidur kelelahan yang satu lagi tertidur karena kekeyangan. Zafier berdeham untuk membangunkan mereka. "Kita sudah sampai di villa." Kata Zafier lebih keras.
"Oh sudah sampai ya?" gumam Sofia masih setengah mengantuk. Dia menyikut kepala Yasmin yang sejak tadi bersender di bahunya. "Yasmin, bangun. Kita sudah sampai villa."
Namun, Yasmin hanya menggeliat, mulutnya meracau tidak jelas dan tidur kembali.
"Dasar, Yasmin ini kalau sudah tidur susah bangun." Keluh Sofia. "Hei, bangun. Yasmin!" mengguncangkan tubuh Yasmin yang tidak membuahkan hasil.
"Biar aku gendong dia ke atas. Kasihan kalau dibangunkan." Kata Zafier sambil melepas sabuk pengaman.
"Yakin, Zaf? Mau gendong Yasmin naik ke atas?"
"Memangnya kenapa?"
"Asal kamu tahu saja. Yasmin itu meskipun badannya langsing tapi berat."
"Tidak masalah. Daripada harus dibangunkan kasihan juga, kan? Mau bagaimana lagi."
"Iya sih. Daripada aku yang gendong Yasmin, bisa-bisa akunya yang patah tulang. Hehe." Sofia tersenyum sambil menggelangkan kepala. "Ternyata kamu tipe pria yang peduli sama perempuan ya, Zaf. Aku salah menilaimu. Pertama aku melihatmu, aku kira kamu ini pria yang dingin dan kejam."
Zafier tidak menanggapi pujian dari Sofia. Dia juga tidak tahu apakah ucapan Sofia bisa digolongkan dalam kategori pujian atau malah hinaan. Dia keluar dari mobil, membuka pintu belakang lalu menggendong tubuh Yasmin yang tetap terlelap.
Heg. Benar apa kata Sofia. Meskipun badan langsing tapi berat. Ini Yasmin apa gajah, sih? Makan apa istriku ini hingga bisa seberat ini.
"Perlu bantuan?" Sofia menawarkan bantuan saat Zafier menapaki anak tangga.
Zafier melirik tangan Sofia yang menjinjing tas besar. "Bisa tolong bukakan pintu kamar Yasmin."
"Oh tentu bisa." Sofia berjalan cepat ke pintu kamar Yasmin agar dia bisa membukakan pintu terlebih dahulu. Begitu Zafier melewati daun pintu, Sofia berpamitan karena dirinya juga sudah sangat lelah. "Aku langsung ke kamarku ya? Aku lelah sekali. Selamat malam, Zafier. Selamat malam, Yasmin."
Pintu ditutup dan Zafier membaringkan tubuh Yasmin di atas tempat tidur dengan hati-hati. Sejenak dia memandang wajah cantik istrinya. Zafier tersenyum samar. Kemudian terbesit perasaan sedih dan bersalah. Dia duduk di tepi tempat tidur menghadap Yasmin.
"Mimpi indah, Sayang. Aku mencintaimu." Tak lupa Zafier memberikan kecupan di kening Yasmin sebelum dia beranjak pergi.
Baru satu langkah Zafier menjauh dari tempat tidur, lengan kanannya ditahan oleh Yasmin. Anehnya mata Yasmin tetap terpejam. "Jangan pergi." Gumam Yasmin. "Aku mohon jangan pergi."
"Kamu yang minta, ya?" Zafier tersenyum senang. Tanpa menunggu lama, dia membuka sepatu dengan tangan kiri. Lalu naik ke atas tempat tidur.
Menghirup napas panjang, Zafier bisa mencium aroma tubuh Yasmin karena sekarang tak ada satu sentimeter pun jarak diantara mereka. Ini pertama kalinya mereka tidur berdua satu ranjang setelah lima tahun.
Perasaan bahagia, damai dan tenang bercampur jadi satu di hati Zafier. Ditambah lagi pemandangan di luar kamar yang begitu romantis. Karena kamar Yasmin menghadap langsung ke arah laut.
Zafier menoleh menatap intens lagi wajah Yasmin. Mengelus-elus lembut pipi Yasmin mengunakan ibu jari. Lalu pandangannya tertuju pada bibir sexy milik istrinya. Seketika birahinya melonjak. Ingin rasanya dia ******* bibir itu dan menginginkan sesuatu yang lebih.
Dulu saat dia masih memiliki kesempatan untuk menyentuh Yasmin, dia malah mengabaikan. Ya, selama kurang lebih tujuh bulan Zafier dan Yasmin mengarungi bahtera rumah tangga, mereka tidak sekalipun melakukan hubungan suami istri. Awal pernikahan, Zafier memang tidak tertarik dengan istrinya dan lagi Yasmin juga tidak menggoda Zafier atau melakukan apapun. Mereka hanya tidur berdua seperti sekarang ini terlelap dalam mimpi masing-masing.
Kesempatan tidak datang dua kali. Zafier hanya bisa menelan ludah. Sebenarnya bisa saja dia melakukan apa yang dia inginkan pada tubuh Yasmin. Lagipula status mereka masih suami istri. Sampai saat ini Zafier belum menandatangani surat gugatan cerai dari Yasmin.
Tidak akan salah jika Zafier melepaskan hasratnya malam ini. Namun, dia berpikir dua kali.
Jika aku melakukannya, aku sama saja dengan laki-laki egois. Hanya mementingkan diriku sendiri. Dulu aku sama sekali tidak peduli padanya, sekarang setelah hatinya berpaling, aku memaksa dia melayaniku. Apakah dia tahu betapa aku mencintainya sekarang? Ah, sekalipun aku mengatakannya dia tidak akan percaya. Tapi akan aku buktikan betapa aku mencintainya.
Zafier mengecup kening Yasmin berulang-ulang. Kecupan lembut yang penuh penghargaan dan kasih sayang. Yang mendapatkan kecupan tidak membuka mata sedikit pun justru menggeliat semakin dalam memeluk lengan Zafier. Membuat hasrat Zafier tidak tertahankan. Dia di posisi serba salah. Ingin beranjak dari tempat tidur tapi lengannya tertahan oleh Yasmin. Tetap ada di tempat tidur, gejolak ingin merasakan tubuh istrinya semakin besar.
Malam ini Zafier habiskan untuk menikmati memandang wajah Yasmin. Dia lampiaskan rindu yang selama ini menyiksa. Hingga dia terlelap dalam mimpi yang indah.
Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas AC di kamar itu rusak atau entah kenapa menyebabkan gerah yang tak tertahankan. Zafier yang baru saja memulai mimpinya meraba-raba sekitar dengan mata setengah terbuka mencari remote pengatur suhu ruangan. Badannya sudah mandi keringat. Merasa tidak menemukan benda yang dia cari, Zafier memutuskan membuka pakaian yang melekat di tubuhnya lalu melanjutkan tidur. Dia tidak ingat ada seorang wanita tidur di sebelahnya. Sekalipun wanita itu adalah istrinya sendiri.
Pagi hari, Yasmin bangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Entah kenapa. Tidurnya malam tadi sangat berkualitas. Sehingga pagi ini dia sangat berenergi. Layaknya baterai handphone yang diisi penuh. Dia mengerjapkan mata dan mengulet.
Kamar sudah terang benderang oleh cahaya matahari pagi. Sayup-sayup terdengar suara deburan ombak.
Yasmin teringat semalam dia bermimpi. Dalam mimpinya, Zafier menyatakan cinta padanya, mengelus dan menciumnya berulang-ulang. Dia merasa sangat disayang, sangat dihargai. Seakan dirinya ini harta yang sangat berharga. Sungguh mimpi yang indah.
"Huft, apaan si." Gumam Yasmin pada dirinya sendiri sambil mengibaskan tangan di depan wajah mengusir pikiran halu yang baru saja singgah di benaknya. "Itu kan cuma mimpi. Tidak mungkin Zafier bilang cinta padaku. Aku tidak mau berharap lebih. Tidak akan patah hati untuk ke dua kalinya."
Yasmin membalikan tubuhnya dengan mata yang masih tertutup rapat. Tanganya merasa jatuh menyentuh sebuah benda. Benda apa ini? Keras. Yasmin mengusap benda itu hingga ke bawah selimut. Deg, dia langsung membelalakan mata. Mendapati dirinya sendiri sedang menyentuh perut Zafier yang telanjang tanpa sehelai kain penutup tubuh.
ARRGGGHHH!!!!
Dan satu jengkal lagi ke bawah, tangan Yasmin bisa menyentuh benda pusaka Zafier. Dia beranjak dari tempat tidur, karena terburu-buru kaki Yasmin terselip selimut dan...
BRUG!
Yasmin terjatuh di lantai. Selimut yang ada di atas kasur juga merosot ke bawah. Bodohnya, Yasmin malah menengok ke belakang. Kan jadi dia melihat tubuh polos Zafier.
ARRRGGHHH!!!
Tbc