
Beberapa hari kemudian.
Reina dan Amel, menunggu di parkiran perusahaan kekasihnya Zakir. Hari ini adalah gajihan Zakir,ia tak mau melewatkan kesempatan lagi.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Reina, menyungging senyumannya.
"Sayaaaang...," Pekik Reina. Merangkul tangan Zakir.
Keringat bermunculan di kening. kenapa Reina, tiba-tiba datang di saat tak tepat waktu. Zakir,mencoba tersenyum kikuk.
"tu-tumben kamu datang sampai ke sini sayang,". Senyum kikuk zakir.
"Sayaaang.... aku kan sangat merindukan mu, beberapa hari ini. Kamu kenapa tiba-tiba tidak mengirimkan pesan,jadi aku datang saja ke sini. Siapa tau kamu kenapa-kenapa sayang,". Alibi Reina.
Seperti itulah Zakir, setiap mau gajihan. Tiba-tiba hilang tanpa memberikan kabar kepada Reina. Akal bulusnya sudah di ketahuinya.
"Aku sibuk sayang,biasa kejar target,". Senyum semerik Zakir.
"Sayang, tolong bayar hutangmu dua juta. Kalau tidak aku ngamuk-ngamuk di sini. Aku sangat membutuhkannya,aku juga bayar hutang sama Amel sama yang lainnya,". Rengek Reina.
"iy-iya aku akan bayar,tapi nanti yah. Atau malam nanti aku langsung ketempat mu,". Zakir, terlihat salah tingkah.
"Gak...!!! Pokoknya sekarang, sebelum uang itu ada di tanganku, jangan harap aku pulang,". Sungut Reina, dengan wajah cemberutnya.
"Iy-iya,tunggu,". Zakir, langsung membuka amplop berwarna coklat. "Satu juta saja yah,aku masih banyak keperluan,".
"Gak, pokoknya dua juta,". Terdengar suara Reina,meninggi.
Sial, apa-apaan sih. Huuu...harus secepat Reina, pergi sebelum Luna, keluar. "Ini dua juta,ingat kalau aku perlu uang. Kamu harus segera menyediakan uangnya sayang,". Tegas Zakir.
"Tenang sayang. Makasih,banyak. Hutangmu lunas, aku pergi dulu,". Reina, langsung menuju ke motornya.
Zakir,merasa lega. Saat kepergian Reina,tapi dia kehilangan uang dua juta. Ia juga bertekad malam ini,harus menemui Reina. Untuk mengembalikan uang yang di berinya tadi.
"sayang,hari ini jadikan kita jalan-jalan,". Ucap seseorang di belakang Zakir.
"Jadi dong sayang,yuk..,". Wanita itu langsung naik ke motor Zakir.
Dari kejauhan Reina,masih mengintai Zakir.
[Kita putus, jangan temui aku lagi] .
Reina, langsung mengirim pesan kepada mantan kekasihnya itu.
******
"Menikah...!!! kapan? Terus kamu mau di jodohkan oleh nenekmu,". Teriak Reina, menatap ke arah Amel.
"Jelas mau lah,kan dia pria yang aku taksir dulu. Aku juga berhenti bekerja,". Jawab Amel.
"Terus,terus aku gimana Mel? Masa kamu tinggalin aku,". Rengek Reina.
"Setelah gajihan ini aku langsung berhenti bekerja, rumah ini aku gak jual. Kamu simpan saja kuncinya,aku masih ada kunci cadangan. Kamu bisa tinggal di sini sesukamu. Seminggu kedatangan ku, mungkin kami akan langsung menikah. Kamu datang yah Rei,". Pinta Amel, dengan wajah memelas.
"Ameeelll...kok kamu duluan sih,aku juga berhenti kerja. Mau cari kerja di dekat rumah orangtuaku juga. Aku gak betah kalau gak ada kamu,selamat yah Mel. Aku bakalan datang, tapi nginap. Kan tempat nenekmu jauh,". Terlihat wajah Reina, sedih karena berpisah dengan temannya.
Mereka saling berpelukan,sudah hampir tiga tahun bersama. Berjuang bersama-sama,saling menolong.
Reina, merasa kehilangan teman baiknya, begitu juga Amel.
Ting... nong....
Suara bel rumah berbunyi.
Amel, langsung bergegas dan membuka pintu rumahnya.
"Zakir,". Gumam Amel.
"Ehhh...Amel, panggilkan Reina. Ada yang aku bicarakan dengannya,". Pinta Zakir.
"Hemm... tunggu sebentar yah,aku panggilkan,". Ucap Amel. Zakir, langsung mengangguk kepalanya.
"Reina,aku salah apa sayang? Kamu tiba-tiba meminta putus kepadaku,tolong jelaskan,". Pinta Zakir,ia memegang lengan Reina.
"Salahmu banyak Zakir,aku tau kamu punya selingkuhan. Bahkan aku tau kamu jalan-jalan dengan teman aku Sisil,aku juga tau. Kamu sore tadi jalan-jalan sama wanita yang satu kerja dengan mu. Aku melihat sendiri Zak,mulai sekarang kita putus,". Tegas Reina,ia menghempaskan tangan Zakir.
"tidak,aku tidak mau. Aku tidak mau kita putus,aku sayang sama kamu Reina,". Zakir,mencoba memohon kepada Reina. Sial,aku tidak mau kehilangan Reina.
"Aku sudah bertekad bulat,untuk mengakhiri hubungan kita,". Ketus Reina.
"Apa kamu lupa? Kalau akhir bulan ini,aku akan melamarmu sayang,". Semoga saja Reina,luluh dengan kata-kata ku ini.
"Maaf,aku tidak mau memiliki suami seperti mu Zakir. Aku muak,kamu selingkuh di belakang ku. Sudan berapa wanita,yang kamu ajak jalan-jalan tanpa sepengetahuan ku,". Sinis Reina.
"Reina,cukup...!!! sampai kapanpun aku tidak akan mau putus dengan mu,ingat itu. Kembalikan uang yang aku kasih ke kamu tadi,". Pinta Zakir,tanpa tahu malu.
Reina, menyunggingkan senyumnya. "Jangan harap, bukan kah itu uang buat bayar hutang mu Zakir. Sekarang kamu pergi dan jangan temui aku lagi,". Reina, menatap tajam ke arah mantan kekasihnya.
"Tidak...!!! Kembalikan uangku tadi Reina,itu uangku. Hakku,hutangku yang kemarin lunas. Aku ini kekasih mu,ngapain main perhitungan ha,". Bentak Zakir,ia mencengkram tangan Reina.
"Jangan harap aku bisa kamu bodohi Zakir,kamu hanya meminjam uangku. Bukan meminta,lebih baik kamu pergi. Atau aku teriak,kalau kamu maling,". Teriak Reina.
Dengan berat hati. Zakir, melepaskan cengkraman tangannya. Reina, langsung masuk ke dalam rumah.
Zakir, mengusap wajahnya ke belakang. Ia juga menendang roda motornya.
******
Hari demi hari berlalu.
Hari ini Reina dan Amel, menikmati waktu berdua. Karena besok mereka akan berpisah.
Saat keliling mall, mereka bertemu dengan Zakir bersama seorang wanita cantik.
"Weeehhh....ada mantan nih,". Sindir Amel,ia menahan cekikikannya.
"Kamu tau gak Mel,bilangnya gak mau putus. Tapi happy- happy,sama wanita lain,". Sindir Reina.
Saat ini mereka satu toko baju. Zakir dan pasangannya tengah memilih baju, terlihat jelas. Zakir,jadi salah tingkah. Ia sesekali melirik ke arah Reina.
"Namanya itu penjilat Reina,untung kamu sudah putus,".
"Iyalah,pria diluar masih banyak yang mampu setia,". Delik mata Reina,ke arah Zakir.
"sayang,aku mau baju ini,". Rengek wanita itu kepada Zakir.
"Aaahh... ambil saja sayang,mana yang kamu mau,". Zakir, langsung kikuk di tempat.
"Kamu kenapa sih,gak kaya tadi. Cuman diam aja,apa kamu naksir sama mereka,". Terlihat jelas wajah wanita itu, sedikit cemberut.
"Mana? Mana ada sayang. Kita cari tempat lain,yuk. Katanya mau tas,". Zakir, langsung menarik lengan wanita itu untuk menjauh dari Reina.
Reina dan Amel,hanya cengengesan. Mereka langsung memilih baju-baju.
Saat asyik memilih baju. Namun Zakir,muncul lagi. Tapi dia hanya sendirian,entahlah dimana ia membuang wanita tadi.
"Reina,plis...ini salah paham,aku bisa menjelaskan semuanya,". Bujuk rayu Zakir,ia tau jika Reina. Baru saja gajihan.
"Maaf,itu bukan urusanku. Lagian kita sudah end,". Tegas Reina.
"Sayang,kamu jangan marah dong. Aku mau beli sepatu,kamu bayarin yah,". Pinta Zakir, terlihat calingukan. Ia takut jika wanita tadi mendatanginya.
"bisa gak sih? Kamu itu punya malu Zakir. Kita sudah putus,jangan harap kamu bisa manfaatkan aku dasar buaya,". Bentak Reina. Cepat-cepat meninggalkan Zaki.
"Dasar pria matre,". Sambung Amel.
"Sayang,sayang...kamu jangan marah,plis...aku minta maaf,aku salah. Kita balikan lagi yah,". Pinta Zakir.
Reina, benar-benar sudah muak kepada Zakir. Ingin sekali dia mencakar wajahnya yang sok belagu.