I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Gerah



"tumben lama banget baru balik Rei," tegur pak Hamid,kepada anaknya


"Gimana gak lama, Pete nya baru di petik pak. Mana ada ibu-ibu beli juga,". Jawab Reina, kepada ayahnya


"Oh, mungkin nak Ujang. Lagi ada urusan,makanya baru di petik".


"Masa pak,aku liat-liat dia tu santai-santai aja. Apa lagi malem suka nongkrong sama temannya,". Ujar Reina


"Ehh... kamu gak tau yah, hussssttttt....nak Ujang,itu orang paling kaya di sini,". Bisik pak Hamid.


Reina,hanya mengerutkan keningnya. "Tapi kamu jangan bilang-bilang sama siapa Rei,". Ucap pak Hamid,yang langsung di angguk Reina.


"Nak Ujang, memiliki beberapa hektar sawah,kebun sawit, Pete,usaha laundry 3 cabang dan memiliki peternakan sapi lumayan banyak tuh sapinya,". Bisik pak Hamid,lagi.


"Huuuu.... berarti uangnya banyak dong pak,enak banget jadi bininya,". Gumam Reina.


Pletak...


Sang ayah, mencentil kening anaknya. "Aduuuhh...sakit pak, ngapain main pletak aja di kening Reina,". Sungut Reina, kepada ayahnya.


"Apa-apaan sih,ribut aja nih berdua". Decak bu Hani. kepada suaminya dan anaknya


"ibu tuh,yang ribut-ribut. Aku sama anak kita, lagi ngerumpi". Kekeh pak Hamid.


"Iiiss.... ngerumpi,kaya emak-emak aja". Sahut bu Hani. "Ada apa sih,nak? Jiwa kekepoan ibu meronta-ronta". Delik mata bu Hani, kepada suaminya dan anaknya.


"Ibu sudah tau Rei,itu loh masalah Ujang. Yang kekayaannya, sungguh fantastis,". Jawab pak Hamid,yang membisik di telinga istrinya.


"Oh,baru tau kamu Rei,". Tanya sang ibu.


Reina,hanya mengangguk pelan. "Reina,mau istirahat dulu.kios juga sudah di tutup,".


Reina, langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Saat menggogoh kantong celananya,ia mengambil ponsel dan terlihat ada pesan masuk. Ia langsung membuka pesan tersebut.


[Maaf,abanga sudah lancang menciummu. Lain kali Abang, gak lagi. Jangan marah yah,sayan]


[Dek,kenapa gak balas pesan Abang? Adek marah kah, jangan marah dek]


[Dek,jangan marah]


Dan banyak lagi deretan pesan masuk dari Ujang.


Reina,hanya cengar-cengir saat membaca pesan tersebut.


[Gak papa bang,adek gak marah. Tadi habis ngobrol sama bapak,jadi gak tau kalau pesan masuk. Reina, gak marah kok]


Reina, langsung mengirim pesan kepada Ujang. Ia juga menyetuh bibirnya,masih terasa kecupan Ujang.


Ting...


Pesan masuk di ponselnya Reina.


[Beneran dek,gak marah. Kalau abang,cium lagi. Marah gak dek,padahal baru ketemu. Tapi abang,kaya kangen lagi]


"Duhhhh...bikin jantung ku maraton kalau begini terus,". Reina, memegang dadanya.


[Hemmm...gak tau bang,lebih baik gak usah aja. Takutnya kenapa-kenapa nanti]


[Kalau kenapa-kenapa abang, bakalan tanggung jawab]


"kok aku kaya minder yah,apa yang di bilang bapak. Apa lagi bang Ujang,orang kaya.sedangkan hanya aku upik abu,"


[Nanti lagi kita sambung,mau mandi dulu Lagi gerah banget,mana ada bau asem abang lagi]


[Mumpung ada kesempatan dek,gak papa bau asem. Asalkan bisa peluk-peluk kamu sayang,kalau mau ke kota. Biar Abang,antar yah. Jangan berangkat sendiri lagi,takut kenapa-kenapa di jalan. Kita juga bisa jalan-jalan sayang]


Reina, hanya menggeleng kepala saat membaca pesan dari kekasihnya. Ia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


"suitt...suuuiit... sepertinya janda gatel itu,mau ke sini deh. Kayanya dia suka sama kamu ,". Lirik bu Wina,kepada Ujang.


Langsung saja Ujang, menoleh ke arah jalan. Benar saja janda gatel itu,mampir di depan rumahnya beserta anaknya.


Duhhh...kenapa juga nih, Janda. Suka banget ke sini, jangan sampai Reina cemburu, Decak Ujang.


"Ehhh....nak Yunita,mau kemana? Bawa anak segala,". Sapa bu Wina,kepada Yunita. Terlihat cengengesan dari kejauhan,niatnya adalah mendekati Ujang.


"biasa bu, jalan-jalan lah. Sumpek di rumah terus, kebetulan membawa anak saya jalan-jalan juga,". Kekehnya Yunita,ia duduk di depan teras rumah Ujang. Sedangkan Ujang, tengah duduk di kursi kayu.


Ujang,hanya sok sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan Yunita.


"Bu,aku mau ke dalam rumah. Bagus banget tuh,kaya rumah-rumahan. Om,boleh minjam rumah kayu itu gak,". Pinta Aira,tanpa sopan santun. Ia langsung menghampiri Ujang,Saat selesai berbicara. Aira, langsung menyelonong masuk ke dalam dan mendekati rumah kayu tersebut. Namun sayang,karena lemarinya terkunci.


"Maafkan anakku mas,biasa anak kecil. Maklumlah,gak papa kan anakku minjam,". Pinta Yunita, dengan manja


Ujang,hanya menghela nafasnya dengan berat. "Tidak bisa Yunita, rumah itu untuk hiasan. Lagian itu,punya bapak. Aku mana berani, takutnya rusak,". Terlihat jelas dengan kata-kata Ujang, begitu tegas.


"Ibu,mau rumah-rumahan itu. Om,itu milik Aira, ambilkan,". Rengeknya Aira, sambil mengeluarkan air mata buayanya.


Gila,benar. Akting anak Yunita,jago. Gak kalah sama anaknya,batin Ujang. "Gak bisa,itu milik bapak om. Mana berani om, ngeluarin dari lemari. Apa lagi, kuncinya di bawa bapak om,". Ucap Ujang,ia juga kesel. Mana mungkin ia mengaku-ngaku miliknya. Jadi begini sifat anaknya,pantes boneka pemberian ku langsung di ambilnya.


"mas,kasian anakku. dia masih anak kecil,tolong pahami mas". bujuk Yunita, dengan nada lemah.


"kamu apaan sih, seharusnya kamu membujuk anakmu itu. jangan sembarangan meminta hak orang lain,tidak baik Yunita. apa lagi ini rumah orang,yang belum pernah dia masuki,". nasehat Ujang,kepada Yunita.


apaan sih, ngatur-ngatur segala. untung ganteng vs kaya raya.susah sekali mendekati Ujang, gerutu Yunita. "mas,kasian anakku. dia menangis menginginkan rumahan itu, kalau rusak tinggal di ganti,". pinta Yunita.


"kamu tau harganya berapa?itu harganya dua juta, kecuali kamu ingin membelinya baru aku ambilkan,". Pinta Ujang, dengan santainya. "Kamu kan tau,aku sering menjual bermacam-macam. Anggap saja aku menjual rumah-rumahan itu kepadamu,". Senyum semerik terukir di bibir Ujang.


"Anakku cuman meminjam mas,kamu pelit banget sih. Kalau rusak juga gak masalah toh,kamu banyak memiliki uang,". Ketus Yunita,ia tak menyangka Ujang berkata seperti itu.


"Hemmm..aku memang pelit, makanya gak mau minjam. Puass...kamu,". Ujang, menyunggingkan senyumnya.


Bu Wina,hanya cekikikan tertawa mendengar ucapan mereka. "Aduuhhh...kamu gak tau yah,kalau Ujang itu pelit". Sahut bu Wina.


Haa...? Pelit,masa sih.batin Yunita. Ia nampak tak percaya.


"Bu, ayo kita pulang. Om nya pelit sama Aira,". Rengek Aira.


Prankkkkk.....


Seketika Ujang,marah padam kepada Yunita. Ia menatap tajam ke arah anaknya.


Vas bunga,hiasan di depan rumah. Di dorong oleh Aira,karena dia kesal tidak dapat apa yang dia inginkan.


Aira,hanya menjulurkan lidahnya. Untung anak kecil,kalau besar apa lagi laki-laki mungkin sudah di habisi Ujang.


"Aku gak mau tau, ganti rugi,". Bentak Ujang,ia sangat geram kepada Yunita bahkan anaknya juga.


"gak mau mas,lagian ini anak kecil mana tau.ini juga salah kamu, kenapa gak mau menuruti kemauannya," ketus Yunita,ia langsung menarik lengan anaknya.


"Lebih baik,kamu pulang sana Yun. Bawa anakmu itu,yang selalu bikin rusuh. Hanya bisa memecahkan barang-barang orang lain,". Bentak bu Wina, kepada Yunita.


"Ck,bu Wina. Gak berhak ikut campur urusan kami,lagian barang yang di pecahkan anakku milik mas Ujang. Bukan milik ibu. Ayo, Aira kita pulang. Ingat mas, aku tak mau menggantikan rugi atas pecahnya barangmu,". Tanpa malu-malu Yunita, langsung melenggang pergi meninggalkan rumah Ujang.


Ujang,hanya menghela nafasnya dengan berat. Ia langsung membersihkan pecahan vas bunga tadi.