
"Rei, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal,". Zakir, memohon kepada Reina.
Reina,hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Ia sangat malas,meladeni mantan kekasihnya ini.
"hemm... aku memaafkan kamu,puas. Jangan sentuh lenganku Zakir,". Reina, menghempaskan tangan Zakir.
"Terimakasih,sayang. Kamu sudah memaafkan ku,". Zakir, langsung menarik lengan Reina.
"Apa-apaan sih,aku memang memaafkan kamu. Tapi tidak balikkan dengan mu Zakir,jangan harap kita pacaran kaya dulu lagi,". Bentak Reina.
"Kenapa Rei? Bukankah kamu sudah memaafkan aku,jadi kita pacaran lagi dong,". Kilah Zakir,ia tersenyum manis.
"Ck,aku memang memaafkan kamu. Tapi,bukan berarti kita balikan,". Tegas Reina. "Lepas,jangan pegang-pegang. Minggir-minggir sana,aku mau jalan-jalan. Jangan halangi aku,". Terlihat jelas di wajah Reina, marah kepada Zakir.
"Tidak,kamu hanya milikku Reina. Sampai kapanpun itu, ancamkan itu,". Zakir, membentak Reina.
Plakk...
Satu tamparan mendarat di pipi Zakir. Saat ini mereka di samping tenda pasar malam, terlihat sepi hanya pantulan cahaya sedikit.
Zakir,yang memaksa Reina. "Kamu...!!! Berani menampar ku Reina,". Bentak Zakir.
"iya,aku memang berani menamparmu Zakir,". bentak Reina. aku harus bisa melawannya.
Ia begitu geram terhadap Reina. Zakir, langsung mendekati Reina secara paksa. Ia mencoba mencium wajah Reina, walaupun secara paksa.
"dasar pria gila kamu,zakir..!!!! lepaskan aku ha,". pekik Reina,i mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Zakir.
"tidak akan,aku lepaskan kamu Reina. kamu hanya milikku, ancamkan itu ha". bentak Zakir,ia sekuat tenaga mencekal lengan Reina.
Reina, memberontak sekuat tenaga.ia begitu marah kepada Zakir, bisa-bisanya dia memaksa kehendaknya.
Buughhhh....
Satu tamparan mendarat di wajah Zakir. Reina, syok dan kaget. Ia langsung menoleh siapa yang menampar wajah Zakir.
"Aaaargghh...kau,kau brengseeeek,". Zakir,ia melihat seorang pria itu menatapnya dengan tajam. Zakir, langsung kabur dan meninggalkan Reina.
"Ma-makasih bang,". Reina, menghapus air matanya. Saat ingin melangkah pergi meninggalkan Ujang, dengan sigap ia mencekal lengan Reina.
Ujang, langsung membawa Reina. Tepatnya di pelukkan hangatnya. Tangis Reina, pecah. Ia juga memeluk erat tubuh Ujang,dalam tangisnya Reina. Ia tersenyum manis saat ini.ia mendongak ke atas dan menatap wajah tampan Ujang.
Ujang, menghapus air matanya. "Hati-hati dek, jangan mau kamu lemah dengan pria seperti tadi. Dia memang tak pantas untukmu,". Senyum kecil Ujang.
Reina, hanya mengangguk kepalanya.
"iya,bang. Apa yang di katakan Abang,akan selalu aku ingat,". Reina, melepaskan pelukannya dari Ujang.
"Hemm...ya sudah,abang pergi dulu. Sudah di tunggu teman,". Ujang, langsung beranjak pergi meninggalkan Reina.
Hati Reina, begitu perih saat Ujang. Tiba-tiba meninggalkan dirinya sendiri,tanpa menoleh ke arahnya.
Benar saja Ujang, sudah di tunggu temannya. Bahkan ada beberapa perempuan,apa lagi salah satu perempuan tersebut begitu manja dengan Ujang.
Senyum kikuk Reina, terpampang di wajahnya.
"hemm... sendirian aja nih,". Kekeh Dewa, menghampiri Reina.
"Ehh..ada kak Dewa," kekeh Reina. "Iya nih, sendirian. Biasa jomblo,".
Benar saja tempat duduknya cukup dekat dengan teman-temannya Ujang. Reina, langsung mengangguk kepala. Daripada dia sendirian, meratapi nasipnya saat ini.
"gimana dengan perempuan yang kamu temuin di kota waktu itu, sudah dapat,". Tanya Reina,kepada Dewa.
Dewa, langsung menggeleng kepalanya. "Aku masih fokus,ke kuliah ku Rei. Biar tambah sukses,". Kekehnya.
"Alahhhh...kamu modus kan,". Delik mata Reina.
"Ehhh...aku seriusan Rei,gak modus,". Dewa dan Reina,sudah sampai di tempat santai teman-teman Dewa.
Reina,juga mengenal temannya Dewa. Mereka adalah tim basket sekolah dulu. Dengan senang hati,atas kedatangan Reina. Banyak juga perempuan lainnya,yang akrab dengan Reina.
Ujang, tersenyum kecil saat melihat wajah Reina. Kini tertawa lagi, mungkin malam ini adalah terakhir melihat sebelum dia pergi.
*****
"Kamu jadi Jang,buat pergi ke rumah nenek lo. Di sana jauh,mana gak ada keluarga lagi. Mending di sini saja,lebih baik kamu lamar Reina. Jangan sampai menyesal,". Ucap Wahid, temannya Ujang.
"Sok tau kamu Hid,dia mana mau sama aku. Anak petani,dia saja banyak teman cowok-cowok yang ganteng-ganteng dari aku bahkan anak orang kaya dan sedikit kekotaan,". Ucap Ujang,ia merapikan pakaian untuk siap di bawa besok.
"Alahhhh...kaya kamu gak kaya gitu. Reina,itu beda dengan perempuan lain. Jangan menyesal Jang,lebih baik kamu dekatin Reina. Dari wajahnya saja,sudah ketahuan kalau dia suka denganmu. Apa lagi janda di sebrang,semakin hari dia semakin pepet kamu terus,". Decak Wahid,ia tersenyum puas.
"terus aku harus apa Wahid,aku tak pandai soal cinta-cintaan. Pengennya langsung menikah, terlalu sakit aku mengenal cinta,". Gumam Ujang,kepada temannya.
"Alahhh...tak pandai soal cinta-cintaan,tapi pernah rasain sakit hati. Uuuhhh...bilang aja,gagal move one kan,". Ledek Wahid, temannya.
"Wahhh...aku potong gajihmu, berani-beraninya meledekin aku Hid,". Seringai tajam Ujang.
"Hehehe ...canda bos,jangan main potong aja napa,". Sungut Wahid.
Ujang,terdiam di sofa ruang tamu. Ia menatap langit-langit, pikirannya tertuju entah kemana-mana. Dia sebenarnya tak mau jauh dari Reina, karena dia telah mencuri hatinya.
*****
"wajah kamu kenapa, Zakir?habis berantem sama siapa kamu ha,". bentak Yunita,kepada adik iparnya.
"itu,tadi aku mencoba mencium bibir Reina. tau-taunya di tampar Ujang,". jawab Zakir,ia masih memegang wajahnya sedikit memar.
sial, ternyata dia mengenal pria itu juga.tidak bis di biarkan ini,batin Yunita. ia mengepalkan kedua tangannya,ia juga tak mau kalah dengan Reina. Ujang, adalah sumber uang ku yang akan datang. jangan harap ada seorang wanita yang mendekati dirinya,tak akan aku biarkan.
"kamu kenapa Yun,". tanya Zakir,ia nampak heran. melihat kakak iparnya, cengar-cengir tak karuan. hubungan mereka sudah berakhir karen Yunita,bosan.
"apaan sih,kamu. terserah aku dong,mau bagaimana,". ketus Yunita.
Zakir,yang masih marah karena kejadian tadi. ia mencekam tangan Yunita. "layani aku malam ini,aku sangat merindukanmu,". senyum semerik Zakir,kepada Yunita.
"tidak, lepaskan aku. kita tidak ada hubungan apa-apa lagi,". tolak Yunita,ia tak mau tubuhnya di gerayang oleh Zakir
"kamu harus mau,atau tidak aku akan membongkar rahasia yang belum pernah di ketahui ibu sekalian,". ancam Zakir.
"oke,tapi kamu harus memberikan aku uang. aku tak mau terus-menerus menjadi budakmu,". sengit Yunita.
"Alahh... kelamaan,". Zakir, menarik paksa baju yang di kenakan Yunita. ia juga mendorong tubuh Yunita dan mengunci pintu kamar.
Yunita, memberontak sekuat tenaga. "lepaskan aku zakir,kamu jangan macam-macam,". bentak Yunita. tapi tak di hiraukan Zakir.